Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Shakira & Shakila


__ADS_3

Tiga hari setelah kelahiran kembar, Lintang masih menjalani rawat inap di rumah sakit. Kondisinya sempat melemah. Dokter menyarankan Lintang untuk tetap berada di rumah sakit dahulu untuk beberapa hari. Lintang juga harus belajar cara menyusui anak kembar.


Hari ini semua nampak berjalan lancar. Aroma kebahagiaan masih terasa di dalam ruangan itu. Kembar kini berada di dalam box bayi dekat dengan ranjangnya. Lintang tak mau jauh sedikit pun dari keduanya.


Kedua bayi kembar itu telah diberi nama. Willy menamai mereka Shakila dan Shakira. Willy juga setia menemani Lintang. Bergantian dengan Mama ia membantu Lintang mobilisasi.


"Bun, udah enakkan?" Tanya Willy penuh perhatian.


"Udah yah, kembar tidur ya?" Tanya Lintang, Willy mengangguk.


"Bunda banyak istirahat dulu ya, kembar sekarang sedang tenang. Al besok baru dibawa kesini. Al senang sekali melihat foto kembar." Willy bercerita panjang lebar sambil mengelus kepala istrinya.


"Aku kangen Al." Gumam Lintang lirih.


"Iya sayang, besok Al kesini."


Lintang mengangguk. Ia memang sangat merindukan si sulung.


"Kembar cantik ya Yah." Lintang tersenyum memandang kedua anaknya dari kejauhan.


"Iya mirip kamu sayang." Willy mengambil posisi duduk di samping Lintang.


Willy mengusap lembut jemari Lintang. Ia memandang wajah yang masih nampak lelah karena perjuangan melahirkan beberapa hari yang lalu itu dengan penuh perhatian.


"Istirahat Ya Bun, nanti kalo kembar mau asi, Ayah yang bangunin Bunda." Ujar Willy lagi. Lintang mengangguk.


Matanya mulai terpejam. Willy seolah bisa merasakan betapa lelah dan sakitnya fisik Lintang saat ini. Tapi, ia juga bangga, untuk kedua kali, Lintang berusaha mati-matian melahirkan anak-anak mereka dengan normal meski ia bisa menempuh jalan operasi.


"Tidurlah, kau sudah sangat bekerja keras sayang." Willy mengecup kening Lintang yang matanya sudah terpejam itu.


Pintu ruangan terbuka, nampak Mama dan Papa masuk dengan hati-hati. Mereka saling berbisik, takut membangunkan kembar atau Lintang.


"Kamu makan dulu sana Will, Mama sama Papa bisa jagain kembar sama Lintang." Ujar Mama sambil mengelus rambut putranya.


Willy tersenyum lalu mengangguk. Ia berjalan pelan, membungkuk lalu mengecup kedua putri mungilnya yang sedang tenangnya tertidur.

__ADS_1


"Aku ke rumah makan seberang ya Ma. Nanti aku balik lagi."


Mama mengangguk.


"Kamu istirahat juga aja dulu Will. Udah seharian kamu disini."


"Iya Ma, makasih ya."


Willy menutup pintu meninggalkan Mama dan Papa yang sedang asik memandangi kedua cucu kembarnya. Al untuk sementara masih belum bisa melihat kembar. Ia masih berada di rumah bersama Mbok Nah.


"Ma.." Suara Lintang terdengar. Mama buru-buru mendekati menantunya itu.


"Apa Lin? Mana yang sakit?" Tanya Mama cepat.


"Enggak Ma, aku mau minum, haus."


"Sebentar ya Mama ambilkan." Mama menuang air putih, lalu memberikannya pada Lintang yang segera meminumnya hingga hampir habis.


"Mama udah lama dateng nya?" Tanya Lintang sambil membetulkan posisi. Ia kini setengah duduk dengan punggung bersandar pada bantal.


Mama melihat makanan yang disajikan memang belum tersentuh. Lintang tadi belum bernafsu untuk mengisi perutnya.


"Harus tetap makan ya Lin. Kembar butuh asi kamu, jadi kamu harus mengisi perutmu juga, makan ya, mama suapi." Mama mengambil piring berisi makanan dari nampan. Lintang menuruti semua kata-kata mertuanya itu.


Ia mulai menikmati makanannya dengan perlahan. Perlahan tapi pasti makanan itu mulai habis. Nyatanya setelah menyusui kembar, perutnya memang terasa lapar.


"Nah, gitu kan pinter." Puji Mama sambil membantu Lintang untuk minum.


"Makasih ya Ma. Suamiku mana Ma?" Tanya Lintang setelah menyadari tidak ada Willy di dalam ruangan VIP itu.


"Willy tadi keluar, cari makan."


Lintang tersenyum kecil. Suaminya itu memang belum makan dari siang tadi karena sibuk menemaninya.


"Masih sakit Lin?" Tanya Mama penuh perhatian.

__ADS_1


"Cuma sedikit nyeri Ma. Dan ini." Lintang menunjukkan punggung tangannya yang di infus. "Rasanya sedikit ngilu dan pegal." Sambung Lintang lagi.


"Sabar ya, mudah-mudahan secepatnya kamu bisa kembali ke rumah."


Lintang tersenyum lalu mengangguk. Kehamilan kedua ini benar-benar telah menguras tenaganya. Mungkin karena hamil kembar membuat perjuangannya benar-benar di kuras habis, juga karena banyaknya darah yang keluar selama persalinan.


Lintang bersyukur, ia termasuk perempuan yang kuat. Sama sekali tak terbayang ia akan melahirkan salah satu kembar dengan sungsang. Kalau saja ia berhenti mengejan dan mengedan saat itu, bisa dipastikan salah satu anaknya tidak akan selamat lagi.


"Kamu hebat Lin, mama aja merinding lihat kamu kemarin. Kamu sudah berjuang sangat keras." Mama mengelus rambut Lintang lembut.


"Semua karena dukungan mama, papa, juga suamiku. Tanpa kalian aku tidak akan sekuat ini." Ujar Lintang dengan suara bergetar menahan haru.


Tiba-tiba terdengar salah satu dari kembar menangis. Papa segera menyerahkannya pada Lintang kemudian pergi keluar ruangan.


"Shakira mau asi ya?" Tanya Lintang sambil tersenyum menatap bayi mungil itu mulai membuka mata. Lintang langsung memberinya asi yang segera disambut mulut mungil Shakira. Mama membantu Lintang mengurut agar asi lancar keluar.


"Asi mu banyak Lin. Syukurlah." Mama berseru gembira, ia teringat saat Al lahir, asi Lintang tidak semelimpah sekarang.


"Iya Ma, semoga gizi kembar tercukupi." Doa Lintang yang segera diaminkan Mama.


Pintu kembali dibuka. Terlihat Willy masuk. Ia sumringah menatap Lintang yang sudah bangun dan nampak bersemangat menyusui anaknya.


Willy melihat Lintang dengan pandangan bahagia. Lintang terlihat semakin cantik, aura keibuannya memancar dengan sempurna. Sempurna pula hati Willy untuk istrinya itu.


Setelah selesai mengasihi Shakira, Willy mengambil alih putrinya itu. Ia menimang, mencium lembut lalu meletakkan kembali putrinya ke dalam ranjang bayi.


"Tidur yang nyenyak ya kembar." Ujarnya pelan.


Lintang menyaksikan itu, ia bahagia sekali. Willy menjalani perannya sebagai suami dan ayah dengan sangat baik. Lelaki itu sangat sabar. Ia tidak terusik dengan tangisan bayi, malah ia akan bergegas menimang, berusaha memberi ketenangan selama Lintang beristirahat.


"Sayang, aku beruntung sekali memiliki suami yang begitu perhatian padaku dan anak-anak kita." Ujar Lintang sambil mengusap pipi Willy yang kini sudah duduk di dekat ranjangnya. Mama sudah kembali ke samping ranjang bayi, sibuk memandangi cucu kembarnya.


"Aku lebih beruntung, sayang. Kau istriku yang tidak pernah mengeluh, walau aku tahu betapa lelah dan sakitnya dirimu saat ini." Willy menggenggam jemari Lintang lalu mengecupnya perlahan.


"Aku bahagia Yah, bisa memberi banyak keturunan untukmu, bisa mengukir senyum mama dan papa."

__ADS_1


"Ya sayang. Aku sangat mencintaimu. Sudah sayang, cukup tiga saja. Aku tidak sanggup melihatmu kesakitan begini lagi. Lutut ku lemas melihatmu kemarin." Keluh Willy lirih. Lintang tersenyum dan mengangguk setuju. Rasanya memang sudah cukup tiga anak bagi mereka. Kebahagiaan mereka sudah lebih dari lengkap.


__ADS_2