Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy's Baby Inside


__ADS_3

Lintang sedang memasak di pagi minggu yang cerah saat itu. Ia sedang ingin sekali membuat makanan untuk suaminya setelah hampir satu bulan mereka selalu membeli makanan dari luar. Sesekali ia akan memegang pinggang dan perutnya. Keadaan perut Lintang sudah semakin membesar memang membuatnya jadi agak sulit untuk bergerak.


"Kau bandel sekali. Aku tidak mengizinkanmu untuk melakukan pekerjaan berat." Willy berkata dengan memeluknya dari belakang setelah ia selesai mandi.


"Ini tidak berat. Aku rindu memasak untukmu, Kak." Sahut Lintang yang masih sibuk dengan masakan di depannya.


"Aku ingin kau bersantai saja sayang. Aku tidak ingin kau lelah." Kata Willy lagi dengan wajah yang sudah menyeruak di antara leher istrinya.


"Memasak untukmu, aku tidak lelah sama sekali." Lintang berbalik lalu mengecup bibir suaminya lembut.


Willy menyambut bibir itu. Ia mulai ********** perlahan kemudian jadi lebih cepat. Lintang tidak kuasa menolak saat suaminya mulai menggiring ia kembali ke tempat tidur. Mereka kini sudah jarang melakukan penyatuan tidak seperti dulu. Karena saat ini Lintang sedikit kesulitan bergerak. Namun, bukan berarti mereka tidak melakukannya. Mereka hanya mengurangi frekuensi nya saja.


Willy juga melakukannya dengan lembut meski kadang ia gemas sekali ingin menguasai istrinya dengan lebih keras namun ia tahu saat ini ia harus lebih banyak menahan. Lintang juga mengerti keinginan suaminya itu, karena itu ia jadi lebih banyak memimpin permainan. Ia jadi lebih sering berada di atas.


"Sakit?" Tanya Willy saat mereka telah selesai. Ia menyentuh perut buncit Lintang yang polos.


"Tidak, hanya sekarang aku jadi cepat lelah." Jawab Lintang sembari membelai rambut suaminya.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Agar kau tidak terluka, dan dia tetap nyaman di dalam sini." Kata Willy sambil mencium perut Lintang.


"Kak, kau tidak bosan?"


"bosan apa?"


"Padaku?" Tanya Lintang. Willy tersenyum.

__ADS_1


"Aku bosan kalau kau tidak ada. Ketika aku tidak melihatmu dalam beberapa jam saja rasanya sudah rindu." Sahut Willy masih dengan membelai lembut perut istrinya itu. Willy juga menjawil kedua benda bulat yang semakin membesar karena kehamilannya itu. Lintang menggeliat merasa geli.


Tiba-tiba ia tersentak. Lalu buru-buru pergi ke dapur di mana soupnya sedang berada di atas api kompor. Ia memegang sendok dengan lesu saat di lihatnya kuah soup itu telah kering dan telah membuat isinya menjadi setengah hangus.


"Kak... masakan ku hangus." Lintang meraung, Willy segera menutup tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala. Ia tahu sebentar lagi Lintang akan memberinya pelajaran karena ia telah membuatnya lupa mematikan api kompor.


...****************...


Karena insiden masakan hangus tadi akhirnya Lintang dan Willy kini berada di luar apartement. Mereka pergi ke sebuah warung makan sederhana karena keinginan Lintang. Meski Willy baru pertama ini pergi makan ke tempat seperti itu namun, ia senang karena melihat Lintang makan dengan lahap.


Istrinya memang jadi lebih sering mengunyah sekarang. Setelah hampir Lima bulan merasa mual dan muntah kini ia malah jadi cepat merasa lapar. Tapi, Willy suka melihatnya. Ia akan menuruti semua kemauan Lintang apalagi itu berhubungan dengan kebutuhan asupan bergizi untuk bayi mereka.


"Kak, aku ingin sekali jambu air." Ujar Lintang saat mereka telah selesai makan tapi mereka masih bersantai di tempat itu.


"Aku akan membelikan mu satu keranjang besar nanti." Sahut Willy sambil meminum teh manisnya.


"Baiklah nanti aku minta pak Ujang yang mengambilnya."


"Tidak mau. Aku ingin Kak Willy yang mengambilnya." Kata Lintang.


"Apa?!" Sahut Willy setengah menjerit. Teh manisnya secepat mungkin ia telan karena kalau tidak, sudah pasti akan menyembur kemana-mana.


"Iya, ambil satu saja yang paling merah." Kata Lintang lagi.


"Sayang, kau ingin aku memanjat pohonnya?" Tanya Willy tidak percaya. Lintang mengangguk cepat. Ia sudah membayangkan jambu merah itu.

__ADS_1


"Tapi..." Willy menghentikan kalimatnya saat melihat Lintang sudah tertunduk lesu. "Oh baiklah. Aku akan memanjatnya untukmu." Akhirnya ia mengalah, ia tersenyum kecil melihat Lintang yang sudah berbinar-binar bahagia.


"Ayo kita kesana Kak." Ajak Lintang kemudian. Ia sudah benar-benar bersemangat sementara Willy sendiri sedang membayangkan bagaimana caranya ia memanjat sedangkan seumur hidupnya ia tidak pernah melakukan itu.


Mobil melaju menuju rumah induk. Saat sudah tiba di sana, Lintang langsung membawa Willy ke sebuah pohon jambu air yang besar dan juga tinggi itu. Ia menggaruk kepalanya. Mamanya hanya tertawa melihat mereka berdua. Lintang ingin jambu yang paling merah dan itu ada di dahan yang cukup tinggi.


"Ayo Will, kamu pasti bisa." Mamanya menyemangati. Willy kesal karena tadinya ia berharap mamanya mau membujuk Lintang untuk membeli saja jambu itu di supermarket. Namun, tanpa ia duga Mamanya malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar keinginan menantunya dan ia setuju.


"Ma, aku gak bisa manjat dari kecil." Willy setengah merengek.


"Kamu manjat Lintang bisa sampe hamil begini, ayo cepat panjat pohonnya. Nanti anakmu liuran loh Will kalo gak kamu turutin." Sahut mamanya masih dengan tawa yang tidak bisa ia tahan.


Baiklah, demi anakku yang ada di dalam, akan ku panjat pohon ini. Guman Willy dalam hatinya.


Jika ini ujian, Willy rasanya sangsi ia akan berhasil. Willy tidak pernah memanjat pohon sedari kecil. Tapi saat ini ia sudah seperti tupai, naik dari satu dahan ke dahan lain untuk mengambil buah yang paling merah. Akhirnya dengan satu tarikan pada dahan itu Willy bisa mengambil buah yang paling merah sesuai keinginan istrinya.


Tapi, Willy bingung bagaimana cara ia turun. Ia mulai turun perlahan, dan berhenti di tengah-tengah karena tiba-tiba bajunya tersangkut. Mamanya malah semakin tidak kuasa menahan tawa. Setelah berjuang dengan sekuat tenaga, akhirnya Willy bisa turun dengan selamat. Ia menghembuskan nafas lega lalu memberikan buah itu pada istrinya. Lintang menerimanya sambil mencium pipi suaminya berulang-ulang.


Sementara Willy sendiri mulai menggaruk tangan dan kakinya yang gatal dan memerah karena digigit nyamuk. Lintang jadi kasihan melihat suaminya itu. Ia membantu mengoleskan obat yang tadi diberikan oleh Ibu Mertua.


"Maafkan ya Kak, Lintang ingin sekali. Kakak jadi begini." Lintang tiba-tiba bersedih. Willy tersenyum, lalu mencium kening Lintang mesra.


"Kan aku sudah bilang akan melakukan apapun untukmu." Sahut Willy.


"Tapi Kakak jadi begini." Ujar Lintang tertunduk lesu.

__ADS_1


"Tidak apa sayangku. Aku melakukannya untukmu." Willy kembali menenangkan istrinya. "Makanlah buah itu." Sambung Willy lagi.


"Aku ingin mencium baunya saja, Kak." Lintang nyengir, membuat Willy ingin guling-guling saat itu juga.


__ADS_2