
Lintang dan Willy kini menjalani peran yang lebih dari sekedar pasangan suami istri. Kehadiran Al tentu saja membuat mereka memiliki peran baru sebagai orangtua. Kegiatan mereka yang padat sebagai pengusaha juga pasangan suami istri kadang tak ayal terkadang membuat mereka juga jadi sering berselisih paham.
Seperti saat ini saat Al sedang menangis dan Lintang yang sedang berada di dalam kamar mandi mendengar tangisan anaknya yang tak kunjung reda, tak ayal membuatnya sedikit berteriak memanggil suaminya.
"Kak, Al nangis tuh, kok dibiarin sih?" Jerit Lintang dari kamar mandi.
"Iya sebentar, Lin. Aku lagi cari baju kerja." Willy membalas dengan sedikit berteriak juga.
"Diemin dulu, Kak. Nanti Al sesak nafas kalo dibiarin nangis terus."
"Aduh iya iya. Lagian Al kenapa nangis sih? Ayah kan di sini, Nak." Ujar Willy agak setengah kesal.
Mendengar itu Lintang jadi keluar dari kamar mandi. Masih dengan memakai handuk kimono, ia menghampiri Willy yang tengah sibuk mendiamkan putranya.
"Ngediemin tuh kayak gini, Kak. Bukannya dimarahin terus. Gimana anak mau berenti coba?" Kesal Lintang sambil menimang anak gembul nya yang segera berhenti menangis.
"Siapa yang marah sih? Lagian kalo kamu tahu cara ngediemin nya ya kamu la yang diemin." Balas Willy kesal kemudian berlalu dari hadapan istrinya menuju ke lemari lagi.
"Lho kok kamu marah sama aku sih?" Tanya Lintang sambil mendekati suaminya.
Willy memandang lelah istrinya itu. Ia segera mengenakan kemeja kerjanya dan bahkan memasang sendiri dasi yang biasanya itu adalah tugas Lintang.
Kemudian, tanpa basa basi lagi, ia melangkah keluar kamar dan segera pergi bekerja. Lintang memandangnya nanar. Lalu ia mulai menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya sendiri.
Kegiatan Lintang dan Willy akhir-akhir ini sangat padat. Willy disibukkan dengan proyek baru di Semarang, sedangkan Lintang sedang sibuk menyiapkan restoran untuk menjadi tuan rumah acara televisi terkenal yaitu kompetisi memasak.
Frekuensi bertemu jadi hanya ketika malam. Itu pun tubuh rasanya sudah lelah dan ingin cepat tidur.
Lintang menghela nafas berat, ia menuju ke bawah lalu menyerahkan Al. Ia akan segera berangkat ke restoran setelah berganti baju.
...****************...
Perdebatan antara suami istri itu akhirnya membuat Willy dan Lintang jadi jarang berkomunikasi. Kalau siang ini biasanya akan ada panggilan video call dari Willy, namun kali ini tidak lagi. Lintang sedari tadi mengecek ponselnya, kalau saja ada penggilan atau pesan yang tidak terdengar deringnya.
Namun, yang ia lihat hanya banyaknya panggilan tak terjawab dari para pelanggan, mitra dan juga para sosilita yang mengenal dirinya.
__ADS_1
"Aku kangen banget sama Kak Willy." Lirih Lintang sambil mengiris wortel. Dan karena ia mengiris sambil dengan pikiran yang kemana-mana, akhirnya satu goresan dari pisau tajam membuat jarinya terluka. Lintang mengaduh, membuat asistennya segera datang membawakan obat.
Lintang jadi ingat dulu saat Willy mulai menghangat, saat ia teriris juga jarinya. Ia ingat perhatian suaminya waktu itu begitu menyejukkan hati.
"Mbak Lintang gak papa?" Nora menghampirinya dengan rasa khawatir.
"Gak papa." Lintang berusaha menyunggingkan senyum.
Ia kemudian menuju ke pinggir kolam ikan dekat taman restoran. Ia duduk di sana untuk menenangkan hatinya sendiri.
Sementara ditempat kerjanya. Willy duduk terdiam di kursinya. Ia melihat foto Lintang yang sedang tersenyum manis di atas meja kerja. Willy menelusuri Foto itu seolah sedang merasakan wajah Lintang.
"Sayang, maaf." Ujarnya pada Foto yang sedang tersenyum itu.
Willy memeluk foto istri cantiknya itu. Ia jadi rindu pada Lintangnya.
"Kau sedang apa, sayangku? Sudah makankah?" Willy bergumam lagi sambil tetap memandang foto Lintang. Namun ia masih enggan untuk meraih telepon untuk menyapa istrinya itu siang ini.
...****************...
Saat malam tiba, ketika Al telah hanyut dalam mimpi indahnya, Willy dan Lintang juga sudah berbaring di atas ranjang masing-masing. Mereka saling memunggungi namun keduanya sama sekali belum tertidur.
"Ya, hanya sedikit sepi." Lintang menjawab juga dengan saling memunggungi.
"Apa restoran kita tidak ramai hari ini?" Tanya Willy lagi.
Lintang menggeleng, yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Willy tapi Willy bisaa merasakan bahwa istrinya sedang menggeleng. Itu membuatnya jadi tersenyum.
"Restoran sangat ramai. Aku hanya sepi suamiku tidak ada kabarnya hari ini." Lirih Lintang.
"Maafkanlah suamimu, sayang. Ia tidak bermaksud untuk mengabaikanmu." Sahut Willy pelan.
"Aku takut ia tidak mencintaiku lagi." Keluh Lintang.
"Ia sangat mencintaimu, sayang." Willy menyahut lagi.
__ADS_1
"Hemmm." Balas Lintang lirih.
"Kau tidak percaya?"
"Aku percaya."
Lintang kemudian merasakan Willy telah berbalik, lalu merengkuh tubuhnya lembut dari belakang. Ia akhirnya meletakkan telapak tangan diatas punggung tangan yang tengah memeluknya erat dari belakang.
"Sayang maafkan aku, ya." Bisik Wily lirih.
"Aku juga, Kak." Sahut Lintang sama lirihnya.
Ia kemudian berbalik hingga kini ia telah berhadapan dengan suaminya itu.
"Maafkan aku juga karena suasana tidak nyaman pagi tadi." Lintang mengecup mesra bibirnya.
"Aku sangat merindukan ini." Willy mengusap lembut bibir ranum Lintang.
"Kecup lah, ia pasti akan suka sekali." Lintang menunjuk bibirnya yang basah dan merah itu.
Willy mulai menciumnya perlahan, lembut dan mesra.
"Jangan pernah ucapkan kata pisah, seberat apapun badai di dalam rumah tangga kita." Bisik Willy tepat di telinga istrinya.
Lintang mengangguk. Kemudian keduanya mulai saling bertaut lagi. Saling membisikkan kata cinta meski saling berselisih.
Ditengah kemesraan yang baru saja terajut lagi itu, Willy menghentikannya. Ia menunjuk Al yang sudah terbangun dan berdiri berpegangan pada batang pagar baby box sambil tertawa melihat kedua orang tuanya.
Willy menepuk jidatnya. Lintang hanya tersenyum kecil. Lalu keduanya menghampiri Al yang mulai mengoceh. Mungkin ia terganggu dengan suara ayah bunda yang sedang bermesraan itu.
"Kau nakal sekali." Gemas Willy melihatnya. Ia kemudian meletakkan Al di tengah-tengah mereka, mengajaknya untuk tidur bersama.
"Ayo tidur lagi, sayang. Kau masih kecil tidak boleh begadang." Ujar Lintang sambil menjawil pipi gembul putranya.
Willy dan Lintang kemudian tertidur bersama Al yang juga ikut tertidur lagi dengan tenang ditengah pelukan mereka berdua.
__ADS_1
Willy memeluk istri dan anaknya, seolah ia ingin melindungi mereka dari apa pun yang berpotensi menyakiti. Willy tahu hanya ialah sang pelindung bagi keluarga kecilnya ini. Willy tidak ingin Lintang atau pun Alvaro terluka. Ia akan menjaga keduanya dengan segenap jiwa dan raga.
Adakah pemandangan yang lebih indah, mesra dan romantis dari ini? sebuah pemandangan sederhana tentang kasih sayang dalam sebuah keluarga kecil yang telah mereka bangun dengan baik, saling pengertian dan banyak cinta di dalamnya? Cintailah keluargamu, karena mereka lah yang akan selalu ada saat kau dalam kondisi paling sengsara sekalipun juga.