Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
20. Hari Itu Tiba


__ADS_3

Suasana hotel ternama itu kini ramai oleh tamu undangan. Pesta yang mengusung konsep taman itu di hadiri oleh banyak orang penting, juga mengundang beberapa penyanyi terkenal. Dalam balutan gaun putih dengan aksen payet yang berkilau, semua orang terpukau menatap Lintang. Ia tampak sangat cantik dan elegan. Willy yang duduk di sampingnya pun tidak kalah mempesona. Gagah dan nampak berwibawa. Lintang ingat tadi saat akad terucap, Willy mengucapkannya dengan lantang. Seolah pernikahan itu betul karena keinginan mereka. Ia juga ingat, saat Willy memasang cincin di jari tangannya dengan lembut dihadapan semua orang, diliput oleh media juga disaksikan orang-orang penting. Saat itu pula pertama kali ia mencium punggung tangan Willy penuh keikhlasan. Willy tampak tidak menyepelekan pernikahan ini, meski ia membenci Lintang. Namun, ia sadar pernikahannya disaksikan banyak orang. Apalagi, Figura Kakek Franky yang besar di letakkan tidak jauh dari meja akad. Seolah lelaki tua itu benar-benar hadir di sana.


Kini Willy dan Lintang telah resmi menyandang status sebagai suami istri. Willy membalas senyum setiap tamu undangan yang datang menyalaminya. Begitu pun Lintang, ia memberikan senyum terbaik yang ia punya seolah mengatakan ia menyukai acara hari ini. Willy dan Lintang benar-benar memainkan sandiwara dengan begitu baik hari ini.


Seseorang melangkah dengan anggun. Dress panjang yang pas membentuk tubuhnya membuat ia nampak cantik. Gadis itu mendekati kedua mempelai. Fiska menyalami Willy lalu memeluk serta memberi ciuman di pipi. semua orang memandang mereka.


"Selamat ya Will, Lin, kalian udah resmi sekarang." Ujarnya dengan anggun. Lintang hanya tersenyum, ia tahu perempuan itu tidak sungguh-sungguh mengatakannya.


Miranti hanya memandang gadis itu dengan senyum kecil. Matanya seolah mengisyaratkan agar Fiska segera turun dan berlalu. Ia bisa menghembuskan nafas lega saat gadis itu benar-benar turun dan berlalu. Fiska terlihat berjalan santai, melewati setiap tamu dan menyapa mereka. Juga tidak lupa melambaikan tangannya ke arah kamera yang beberapa kali membidiknya. Miranti jengah melihat kelakuan gadis yang menggilai putranya itu.


Di kursi tamu, dengan gelas yang berisi minuman, Fiska menatap Willy dan Lintang dari kejauhan. Tampak sorot penuh kebencian melihat acara pernikahan itu. Ia menyesap minumannya perlahan sembari menyusun banyak rencana jahat di kepala. Lintang sendiri masih bisa melihat aura permusuhan yang ditebarkan gadis itu padanya meski kini mereka sudah dalam jarak yang cukup jauh. Namun, ia tidak mau ambil pusing. Lintang malah tertunduk lesu karena mulai hari ini ia dan Willy akan hidup bersama, dalam satu atap juga satu kamar tentunya.


Willy melihat Lintang, ia memang harus mengakui, kecantikan Lintang yang natural mampu membuat siapa saja terpikat padanya. Bahkan dengan gaun pengantin yang begitu pas di tubuhnya, membuat ia nampak mempesona dari segala arah. Namun, jangan lupa, Willy terpaksa dan telah membenci Lintang. Ia tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi untuk mencintai Lintang, layaknya seorang suami mencintai istri, ia tidak akan mau melakukannya.


Diantara tamu yang hadir itu, Zacky juga ada. Ia duduk, menatap Lintang dari kejauhan. Betapa cantiknya Lintang, betapa beruntungnya Willy yang dinikahkan dengan gadis itu.

__ADS_1


"Kakak, ayo ambil makanan. Aku udah laper." Kata Audy membuyarkan keterpukauan lelaki itu. Ia memandang kesal adiknya itu. Audy tampak cantik juga hari ini. Ia memakai dress biru selutut dan wajahnya juga di hias natural.


"Lo tuh ngagetin gue aja. Trus kerjaannya makan mulu." Zacky jadi menggerutu. Audy tertawa mendengar kakaknya yang nampak kesal itu.


"Lagian ngapain ngelamun? Kakak tuh sekarang sering ngelamun." Sahut Audy. "Kakak kayak orang lagi putus cinta." Timpalnya lagi yang segera disambut jitakan kecil di keningnya. Ia mengerang membuat Zacky terpingkal.


"Anak kecil tau apa sih, cinta-cintaan apaan coba." Balas Zacky.


"Ya abis ngelamun terus. Ih kak Zacky dari tadi ngeliatin kak Lintang terus. Gak boleh kak, Kak Lintang kan udah jadi istri Kak Willy." Ujar Audy lagi, kali ini sambil menasehati kakaknya.


Kemudian ia dan Zacky menuju meja yang telah tersedia hidangan mewah dan menggugah selera itu. Mereka makan bersama, dengan sesekali saling melempar candaan.


"Kak Lintang cantik banget ya kak. Nanti kalau aku nikah, aku mau kayak kak Lintang juga." Ujar Audy lalu ia memasukkan satu suapan ke mulutnya.


"Yee, tadi ngomong cinta-cintaan, sekarang ngomong nikah-nikahan. Gak boleh, belum cukup umur." Sahut Zacky, ia memang senang menggoda adik perempuan satu-satunya itu.

__ADS_1


"Ih, kakak, aku nih udah gede. Udah mau 17 tahun tau, masih aja dibilang anak kecil." Gerutunya kepada Zacky.


"Emang lo masih kecil. Awas ya lo ketauan pacaran. Gue bikin penyok matanya ntar." Ujar Zacky lagi, kali ini dengan mimik yang dibuat seolah sedang serius.


"Kak Zacky tuh ancamannya, kalo gak bikin penyok muka, kepala, kaki, pasti bikin bonyok pipi, hidung. Ga ada ancaman lain apa?" Kata Audy. Zacky memang sering mengancam dengan hal-hal konyol seperti itu. Belum lagi ancaman akan melempar kepala pacarnya ke ring basket, membuatnya berpikir ngeri dan jadi geli sendiri.


"Ada kok. Gue balsemin gigi sama bibirnya." Sahut Zacky yang segera disambut tatapan kesal adiknya itu. Zacky tertawa melihat Audy yang sudah mencak-mencak mendengar rencana gila kakaknya itu.


"Ih, Kakak kejam. Pantes aja sampe sekarang masih jomblo." Audy mengatakan itu lalu segera lari terbirit-birit sebelum kakaknya mengomelinya lagi.


Di pelaminan, Lintang melihat keakraban dua beradik itu sambil tersenyum. Senang sekali pikirnya jika memiliki saudara. Ia memalingkan muka, melihat Willy yang sudah mulai malas berada di tengah-tengah acara namun tidak bisa melakukan apa-apa karena setelah ini akan ada acara lempar bunga. Bertambah lagi agenda sandiwara yang harus ia mainkan dan ia sudah benar-benar malas berada disana saat ini juga. Lintang melihat suaminya itu takut, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa Willy memang lelaki yang gagah. Tipikal laki-laki dambaan setiap perempuan. Tubuhnya tinggi atletis, kulitnya putih bersih, sorot matanya tajam dan mampu membuat siapa saja terpesona akan ketampanannya.


Willy yang sadar sedang diperhatikan menoleh tiba-tiba membuat Lintang tidak bisa mengelak.


"Kenapa? Udah gak sabar seranjang?" Tanya Willy dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Lintang menunduk, ia tidak menjawab. Ia malah takut membayangkan entah apa yang akan dilakukan Willy nanti padanya setelah pesta ini berakhir. Lintang pasrah, namun ia akan tetap berusaha mempertahankan harga dirinya, karena sampai kapan pun, Willy tidak akan pernah menganggap serius pernikahan ini.


__ADS_2