Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
11. Baju Pengantin


__ADS_3

Lintang sedang membereskan kamarnya ketika sebuah ketukan di pintu rumah mungilnya terdengar. Ia bergegas membuka pintu setelah sebelumnya melihat dulu siapa yang ada di depan melewati tirai. Ia menghembuskan nafas lega saat dilihatnya orang itu adalah Miranti, calon mertuanya.


"Tante, Lintang lagi beres-beres kamar tadi, maaf ya jadi bikin Tante nunggu." ujar gadis itu seraya menyapa.


"Gak papa kok. Oh iya, Tante mau ajak kamu liat gaun pengantin. Kamu sekarang siap-siap ya, Tante tunggu di mobil." sahut wanita itu sambil tersenyum. Lintang mengangguk pelan, mengiyakan ajakan yang tidak bisa ditolak itu.


"Iya Tan, Aku ganti baju dulu." Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibir mungil Lintang.


Nyonya besar itu kemudian melangkah dengan anggun meninggalkan Lintang. Ia akan menunggu gadis itu di mobil. sementara Lintang sendiri nampak termenung sesaat di depan cermin di dalam kamarnya. Ia jadi berpikir, apakah Willy akan ikut. Meski nanti ada Miranti, tentunya pemuda itu tidak akan berani macam-macam mengerjai dan menyiksanya namun tetap saja berada di dekat Willy bagai sebuah ancaman bagi Lintang.


Lintang menarik nafas panjang kemudian menghembuskan keras. Ia tetap saja tidak tenang saat ini. Tanpa sadar ia jadi meremas jari jemarinya sendiri. Willy bagi Lintang seperti teror yang wajib ia hindari sebisa mungkin. Lintang berjalan gontai melewati cermin lalu mengunci pintu dan menuju mobil di mana Nyonya besar telah menunggu. Sesampainya di samping mobil, Lintang menarik nafas lega saat dilihatnya tidak ada sosok yang ia takuti itu. Ia segera masuk ke dalam mobil.


"Willy nanti menyusul, dia lagi di luar tapi udah Tante telepon kok." Miranti membuka percakapan di dalam mobil dengan kalimat yang sama sekali tidak diharapkan oleh Lintang.

__ADS_1


"Iya Tante." balas Lintang sebiasa mungkin.


"Lin, Willy baik kan sama kamu selama ini?" tanya Miranti lagi. Lintang menelan ludah mendengar pertanyaan itu. Betapa ingin ia menceritakan perlakuan buruk yang selama ini diterima olehnya dari Willy. Bahkan beberapa kali Willy pernah melecehkan dirinya. Namun yang dilakukan gadis itu adalah menggeleng sambil memberikan senyum terbaik agar wanita di sampingnya itu tidak curiga.


"Tuan muda baik sekali Tante." sahut Lintang. Miranti terlihat mengernyitkan dahi mendengarnya.


"Kenapa masih panggil Tuan muda? sebentar lagi kalian akan menikah loh." ujar Miranti kala mendengar panggilan Lintang yang dirasanya terlalu formal itu.


"Eng ... Iya Tante, maaf Lintang sudah terbiasa." sahut Lintang sambil tersenyum kaku. Nampak sekali ia sedikit gugup saat menjawab dan menimpali pembahasan mengenai calon suaminya itu.


Mobil masih melaju menuju tempat baju pengantin yang akan dilihatnya hari ini. Lintang, diusianya yang baru 20 tahun tidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi istri. Namun, ia tetap menerima segala keputusan yang diberikan kepadanya. Keluarga besar Dwianuarta sudah begitu baik padanya, maka akan terasa tidak baik jika ia menolak semua rencana pernikahan ini sekalipun Willy sama sekali tidak menginginkan kehadirannya.


Mobil berhenti di sebuah tempat Wedding Organizer terbesar dan ternama di kota itu. Dari luar saja sudah terlihat kemewahan yang akan disajikan oleh tempat itu. Lintang dan Miranti keluar dari mobil sementara supir tetap menunggu di sana. Miranti disambut hangat pemilik tempat itu. Ia terlihat antusias menyambut salah satu orang dari keluarga terkaya tersebut.

__ADS_1


Lintang mencoba sebuah gaun bernuansa putih. Sederhana namun terkesan elegan dan berkelas. Sebuah gaun yang telah dipersiapkan untuknya. Ia membuat siapa saja yang berada di ruangan itu berdecak kagum. Lintang sendiri nampak tersenyum melihat dirinya dalam balutan gaun pengantin.


Seketika ia menjadi lupa ketakutannya akan Willy. Namun di detik berikutnya, ia tersentak kala matanya bertatapan dengan mata seseorang yang sedari tadi menatapnya tajam. Entah sejak kapan Willy telah berada di sana, di samping ibunya yang masih mengagumi keindahan Lintang dengan gaun pengantinnya.


Lintang seketika menunduk mendapati sebuah kilatan tidak tertebak itu dari mata Willy. Sementara Willy tersenyum sinis mendapati ketakutan gadis itu. Ia memang mengakui, Lintang nampak cantik sekali dengan gaun pengantin itu, namun, kebenciannya masih menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.


"Gimana Will, cantik kan?" tanya Miranti sambil tersenyum puas menatap Lintang yang kini sibuk dengan gaun pengantin dan beberapa asisten pemilik WO di sekitarnya. Willy hanya mengangguk kecil menanggapi kemudian ia mencoba bajunya sendiri. Saat Lintang sedang berada di ruangan ganti, ia mendapati Willy telah berdiri di belakangnya. Kini posisi mereka berhadapan dengan sangat dekat. Lintang mencoba untuk menggeser tubuhnya dan segera keluar dari ruangan yang hanya ada mereka berdua itu.


Langkahnya terhenti ketika Willy kembali mencekal lengannya. Membuat gadis itu harus kembali berhadapan dengannya. Dengan tertunduk ia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara Willy sangat menikmati ketakutan yang begitu nyata dari gadis di depannya ini.


Dengan gerakan cepat, Willy mendorong Lintang merapat hingga ke tembok, membuat gadis itu tidak bisa kemana-mana. Ia meraih bibir Lintang dengan sekali raupan saja. Lintang tidak melawan namun airmatanya terasa turun tanpa diminta. Isaknya dibungkam oleh amarah yang lagi-lagi menguasai Willy. Lintang tidak melakukan perlawanan apapun meski saat ini Willy telah menggerayangi tubuhnya dengan posisi terjepit yang akan membuatnya sia-sia saja jika melawan.


Setelah itu ia terduduk lemas setelah Willy menyelesaikan penyiksaan yang sanggup ia lakukan di tempat ini sekalipun. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun, ia hanya membenahi baju dan bra nya yang telah berantakan. Willy tersenyum puas kemudian berlalu meninggalkan dirinya dalam kesedihan mendalam, yang terpaksa harus ia pendam demi menghindari kecurigaan dari calon ibu mertuanya yang sedang menunggunya di luar sembari berbincang dengan pemilik WO.

__ADS_1


Lintang keluar dengan raut wajah yang dipaksakan setenang mungkin meski ia baru saja mendapat perlakuan buruk dari Willy. Sementara Willy terlihat santai, duduk sambil membaca sebuah majalah seperti tidak terjadi apapun di antara mereka barusan. Lintang kembali di samping Miranti dan menjawab beberapa pertanyaan seputar acara pernikahan mereka yang tidak lama lagi akan segera dilangsungkan. Ia mencoba melupakan kejadian barusan yang semakin membuat luka di hati menjadi menganga karena perilaku buruk dari calon suaminya itu.


Kakek, apakah Kakek melihat perlakuannya kepadaku barusan? Kakek, aku takut sekali tapi aku berjanji akan tetap mewujudkan keinginan terakhirmu apapun resiko yang akan ku hadapi kelak . Lintang membatin lirih meratapi nasibnya kini.


__ADS_2