Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
40. Bila Malam Tiba


__ADS_3

------------------ PENGUMUMAN --------------------


Pagi semuanya, Maaf ya untuk pagi ini Author hanya bisa setor 4 eps dulu. Author ada pekerjaan sampai siang nanti. Nanti Author usahakan up lagi beberapa eps waktu semua pekerjaan diluar hobby Author menulis selesai ya. Terima kasih atas Antusiasme para readers yang baik hati telah memberi Vote dan setia membaca karya sederhana yang penuh kekurangan ini. Author usahakan setiap hari untuk selalu Up minimal 3 Episode dan bisa lebih dari itu juga kalo lagi lancar nulisnya. Terima kasih semuanya. Tetap dukung Author ya.


Salam Cinta


-Julies.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam menunjukkan pukul Sebelas, Lintang dan Willy telah berbaring. Seharian ini mereka telah menghabiskan waktu berdua. Lintang tertawa senang, Willy menemaninya tanpa bosan. Kini keduanya telah berbaring, saling memunggungi satu sama lain. Keduanya juga belum terpejam, masih bingung dengan perasaan masing-masing. Namun kemudian, keduanya saling berbalik entah siapa yang memulai duluan.


"Kakak belum tidur?" Tanya Lintang lirih. Willy menggeleng. Ia menatap Lintang yang juga membalas tatapannya sendu.


"Kau belum mengantuk?" Willy bertanya juga.


"Belum." Lintang menjawab singkat dan lirih. Ia ingin lari dari situasi canggung ini.


"Lin.." Panggil Willy lirih, ia mendekatkan dirinya, membelai wajah di depannya itu dengan berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Willy tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ia berusaha mencari kebenciannya yang dulu pernah dengan kuat menguasainya namun, kini ia tidak lagi menemukan kebencian itu. Ia menguap entah kemana.


Lalu perlahan ia mulai mendekatkan bibirnya, memagut bibir Lintang penuh kemesraan. Lintang kembali terbuai, ciuman itu semakin dalam. Lintang kemudian membuka matanya, ia mendorong pelan Willy yang masih menuntut tubuhnya. Willy menatapnya mengisyaratkan agar Lintang tidak membantah.

__ADS_1


Lintang pasrah, saat Willy kembali menguasai tubuh juga perasaannya. Entah mengapa, malam seolah memberi suasana lebih romantis bagi mereka berdua. Mungkin karena dinginnya yang menusuk kalbu, atau karena gelapnya yang membuat mereka saling membutuhkan. Atau mungkin alasan yang paling mendekati adalah memang keduanya memang sudah saling terpaut satu sama lain. Namun masih enggan untuk saling mengakui.


Malam itu menjadi malam kesekian dengan penyatuan yang mereka lakukan. Willy mengagumi semua yang ada pada diri Lintang. Ia benar-benar harus mengakui kecantikan dan juga kemolekan tubuh istrinya itu. Willy membenamkan diri bersama Lintang, bersama mengarungi malam kesekian yang mereka lewati. Namun, kali ini berbeda, rasanya tak sama seperti dulu. Rasanya, ada yang mulai bersemayam. Mungkinkah itu cinta? keduanya masih terlalu takut untuk jujur dan mengalah pada perasaan masing-masing.


...****************...


"Dimana dasi ku, Lin?" Tanya Willy, ia sedikit buru-buru karena hari ini keduanya bangun cukup siang tidak seperti biasa.


"Sebentar Kak." Lintang datang dari belakang, tergopoh-gopoh dihampiri suaminya. Ia segera memasangkan benda itu dengan rapi di kerah baju Willy.


Lintang sendiri telah selesai mandi. Harum rambutnya tercium menggoda Willy lagi. Namun ia segera menepis semua hasrat itu secepatnya karena saat ini meeting dengan perusahaan lain akan segera berlangsung. Kurang lebih Dua menit lagi dari waktu yang sudah di jadwalkan tetapi ia di pastikan akan terlambat. Sebenarnya, tidak masalah, jam berapa pun itu para koleganya akan setia menunggu. Namun Willy sebelumnya tidak pernah mengkhianati waktu. Jadilah ia kelimpungan saat ini berpacu dengan waktu.


"Kau jangan keluar tanpa seizin ku ya. Aku pergi." Ujar Willy kemudian. Namun, suara Lintang kembali menghentikan langkahnya.


"Suruh temanmu yang kesini, istirahatlah, kemarin bukankah kita sudah keluar seharian." Sahut Willy. Lintang akhirnya mengangguk dan mengalah. Willy sendiri sebenarnya tidak suka ada orang asing masuk ke apartementnya, namun daripada ia membiarkan Lintang berkeliaran di luar, lebih baik ia mengizinkan istrinya itu mengundang teman baiknya. Lagipula, Lintang memang masih muda, ia masih senang pergi keluar. Sementara Willy adalah orang penting yang punya jadwal padat di perusahaannya, jadi ia akan membiarkan Sela sering datang ke apartement mereka menemani istrinya saat ia tidak ada.


"Kakak hati-hati ya." Balas Lintang akhirnya. Ia akan berbalik, namun terhenti ketika Willy menarik tangannya. Lelaki itu memandangnya lama, lalu tanpa pernah Lintang duga sebelumnya, lelaki itu meraih puncak kepalanya lalu menciumnya lembut.


"Baik-baik saat aku tidak ada." Begitu ujarnya kemudian. Lintang tidak mampu lagi menyahut, ia membiarkan Willy pergi meninggalkan apartement mereka.


Lintang terduduk di sofa, ia mencari kontak Sela sembari menyentuh puncak kepalanya sendiri, seolah merasakan kecupan dari suaminya yang masih tertinggal di sana.

__ADS_1


"Sel, kamu bisa ke apartement gak? Kak Willy gak ngasih izin keluar soalnya." Ujar Lintang, ia berharap sekali Sela mau menemaninya hari ini.


"Ih, posesif banget sih suami lo. Ya udah kirim alamatnya ya, satu jam lagi gue kesana." Sahut gadis itu di seberang telepon. Lintang tersenyum senang mendengarnya.


"Iya, jangan lama Sel." Ujar Lintang lagi.


"Iya, gue mandi dulu dong. Masa gue kesana ga pake mandi." Sela terkekeh dan dibalas tawa kecil juga dari Lintang.


Akhirnya sambungan telepon terputus. Lintang pergi ke dapur, mulai berkreasi dengan bahan kue untuk memberinya nanti pada Sela. Lintang terkenang Willy lagi, sikap lelaki itu kini sudah sangat jauh dari sebelumnya. Namun, suara perempuan yang menelpon Willy lusa kemarin tetap membayangi dirinya.


Apalagi Lintang masih begitu penasaran, kemana suaminya pergi malam itu. Lintang masih saja terlalu takut untuk mengakui perubahan sikap suaminya itu. Willy tidak bisa ditebak, terkadang lelaki itu bisa berubah-ubah sikapnya. Lintang memilih untuk tidak terlalu berbangga hati karena sikap Willy yang sudah mulai menghangat itu.


Lintang meneruskan kegiatannya sebelum Sela datang. Ia ingin memberikan resep terbarunya pada sahabatnya itu untuk dicicipi. Lintang juga tidak sabar untuk menceritakan semua kegundahan hatinya pada Sela dan meminta saran apa yang harus ia lakukan setelah ini. Lintang jadi terkenang perbincangan mereka kemarin di kampus.


"Lin, lo gak nanyain sama suami lo tentang perempuan yang kemarin kita lihat?" Tanya Sela waktu itu. Lintang menggeleng pelan.


"Aku pengen nanya tapi ragu. Takut Kak Willy marah dan tersinggung."


"Marah gimana sih, Lin? lo itu istrinya, lo berhak tau dong Lin." Sahut Sela gemas.


"Aku bingung Sel." Ujar Lintang lirih. Sela menghela nafasnya, ia iba pada sahabatnya ini. Sela tau siapa Lintang, satu kampus juga mengenalnya. Lintang adalah primadona di kampus mereka. Ia cantik, sederhana dan tidak banyak tingkah. Banyak lelaki yang menginginkan dirinya, namun Lintang selalu menolak dengan halus semua tawaran yang datang padanya.

__ADS_1


"Ya udah Lin, lo tenangin diri lo dulu ya. Kalo udah bagus situasinya baru deh lo tanya, gimana pun lo kan istrinya, berhak tau." Ujar Sela akhirnya. Ia tidak ingin membuat sahabatnya itu semakin bersedih.


Lintang kembali ke alam sadarnya. Ia menarik nafas panjang. Perihal cinta mengapa bisa rumit begini ya?


__ADS_2