Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Buncit Yang Lebih Berbeda?


__ADS_3

"Papa, sudah enakkan?" Tanya Lintang sambil meletakkan box berisi makanan. Lintang sengaja membawanya dari restoran untuk mama.


"Sudah Lin." Papa berusaha menyunggingkan senyum. Hari ini, papa sudah pindah ke ruang rawat inap biasa. Mama memesan ruang VIP.


"Papa harus banyak istirahat ya, papa sudah banyak mengalami kemajuan." Ujar Lintang memberikan semangat pada mertuanya itu.


"Al mana?" Tanya papa, matanya terlihat mencari.


"Al di rumah, nanti sore Lintang akan membawanya ke sini." Sahut Lintang membuat papa mengangguk pelan dan tersenyum.


"Papa sudah rindu sekali pada Al." Kata papa lagi, Lintang menyentuh pundak papa.


"Kami juga sangat merindukan papa."


Lintang kembali menyusun box makanan. Mama belum terlihat karena tadi ia kembali ke rumah sebentar. Lintang menjaga papa. Lintang menyibak tirai, membuat simpul agar sinar mentari bisa masuk dan menghangatkan ruangan. Ia juga mengganti bunga yang sudah mati, memasukkan setengah tangkainya ke dalam vas kecil berisi air.


Suasana ruangan itu cukup menenangkan. Lintang juga menghidupkan televisi agar papa bisa mendapat sedikit hiburan dari tayangan televisi.


"Bagaimana perusahaan kita, Lin?"


"Kak Willy menghandle nya dengan baik, pa." Sahut Lintang sambil tersenyum.


"Syukurlah, aku tahu putraku bisa diandalkan."


Lintang duduk di sofa, bersamaan dengan kedatangan Mama dan juga Al. Papa sumringah sekali menyambut kedatangan mereka. Tadinya Lintang yang akan membawanya takut mama kerepotan tapi malah mama sendiri yang akhirnya berinisatif untuk membawa Al.


Al tampak tertawa dengan riang melihat Kakeknya. Papa mencium pipi gembul Al. Al terlihat mengoceh, mulutnya seolah tidak berhenti mengajak papa bercerita.


"Kau senang sekali bertemu Kakek ya." Ujar Mama sambil menahan tubuh Al di pangkuannya. Papa terlihat sangat bahagia.


Lintang hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Nanti bukan hanya Al yang akan meramaikan keluarga mereka, tapi anak nya dan willy yang akan lahir beberapa bulan lagi.


Sebenarnya Lintang sering kali terbayang saat ia melahirkan kemarin, seakan ia masih bisa merasakan ngilunya. Namun, ia harus bisa menepis semua itu.


"Perutmu lebih besar dari saat hamil pertama kemarin, Lin." Kata mama sambil memperhatikan perut Lintang.

__ADS_1


"Iya Ma, aku juga merasa begitu." Lintang terkekeh.


"Bulan depan udah bisa di periksa lagi tuh Lin. Yang ini tanyain ya jenis kelaminnya." Kata mama antusias, Lintang mengangguk.


"Ma, makan dulu yuk, aku sengaja pesan ini dari restoran kita." Lintang beranjak, mengambil box berisi makanan. Mama terlihat bersemangat menerimanya.


"Enak nih kayaknya, mama kebetulan udah laper tadi buru-buru gak sempat makan padahal Mbok udah nawarin." Mama membuka kotak makannya lalu mulai memakannya dengan lahap. Mereka makan sambil memperhatikan Al yang sedang bermain di karpet ruangan itu. Al menghampiri Lintang, ia tampak tertarik dengan apa yang nenek dan bundanya makan.


Lintang memberikan sepotong perkedel yang langsung di makan Al. Lintang tersenyum, usia Al sudah satu tahun lebih. Ia mulai bisa menerima makanan orang dewasa.


"Makan yang banyak biar cepat besar." Kata Kakek, Al tertawa.


"Al pasti akan jadi kakak yang baik untuk adik-adiknya kelak. Lihatlah, dia kalem sekali." Puji mama sumringah.


"Iya ma, menurun dari ayahnya." Lintang menimpali. Keduanya tertawa bersama dan meneruskan kembali acara makan mereka.


...****************...


"Zacky kembali ke Jakarta Lin. Dia membawa kejutan untuk kita nantinya." Willy berkata sambil memasukkan beberapa barang belanjaan ke dalam trolly. Ia menemani Lintang membeli stok bahan makanan untuk restoran mereka.


"Kejutan?" Tanya Lintang sambil berkerut kening.


"Iya, entahlah apa. Tapi katanya kau pasti akan suka." Sahut Willy, Lintang tersenyum, ia tak mau menebak-nebak.


"Apapun itu Kak, yang penting membawa kebaikan untuk kita semua." Timpal Lintang akhirnya. Mendengar kabar Zacky akan kembali dalam keadaan baik-baik saja pun ia sudah sangat senang, tak perlu lah hal lain lagi.


"Ini udah cukup?" Tanya Willy menunjuk Trolly yang telah penuh dengan bahan makanan itu. Lintang memperhatikannya sesaat, kemudian ia mengangguk.


Mereka membawa nya menuju kasir. Willy meminta Lintang untuk duduk di kursi pengunjung karena mereka harus mengantri.


Lintang mengiyakan, ia segera duduk karena ia memang merasa cukup penat. perutnya terasa penuh. Pinggangnya jadi lebih berat. Lintang mengelus perut buncitnya itu.


"Bunda seperti sedang mengandung banyak anak saat ini." Ia tertawa kecil kepada perutnya itu.


Lintang sering bercermin, melihat perutnya yang membulat penuh membuatnya jadi tampak lucu. Kalau setiap tahun ia seperti ini, ia benar-benar akan terlihat seperti balon berjalan saja.

__ADS_1


"Bun, udah nih." Willy membawa lagi trolly berisi barang belanjaan dalam banyak kantong plastik.


"Iya yah, nanti kita restoran dulu ya. Aku mau lihat restoran sambil nyerahin ini ke bagian dapur."


Willy mengangguk, mereka menuju parkir tempat mobil telah tersusun rapi. Willy memasukkan barang belanjaan itu separuh ke bagian belakang kursi supir, separuh ke belakang dan separuhnya lagi ke bagasi mobil.


"Jadi langsung ke restoran ya." Willy mulai menjalankan mesin mobilnya.


Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di restoran. Dengan dibantu security restoran juga beberapa pelayan yang sigap langsung mengantar bahan makanan itu ke dapur. Lintang dan Willy berkeliling restoran yang luas itu. Suasananya masih cukup ramai meski waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.


Lampu-lampu hias di taman restoran menambah suasana romantis di tempat itu. Para pegawai baru menyapa Lintang dan Willy penuh hormat.


"Mau istirahat dulu di ruangan?" Tawar Lintang pada Willy yang segera mengangguk.


Lintang menggamit lengan Willy membawanya ke ruangan. Ia menekan kode akses ruangannya yang segera terbuka.


Lintang segera menyeduh minuman untuk suaminya itu. Mereka juga membuka beberapa makanan ringan dan menghidupkan televisi.


Willy menepuk sofa, meminta Lintang untuk segera duduk di sampingnya.


"Kita di sini dulu, nanti baru kembali ke rumah." Bisik Willy mesra. Lintang tersenyum mengangguk mengiyakan.


"Al sudah tidur tadi mama telepon." Lintang menyandarkan kepalanya di bahu Willy.


"Kita bisa lebih lama berada disini." Willy mengerling nakal disusul cubitan gemas dari Lintang pada pinggangnya.


Willy dan Lintang kembali hanyut dalam suasana tenang bersama suara televisi yang menyala. Mereka ingin bersantai dahulu sebelum melakukan hal mesra lainnya dan sebelum kembali ke rumah induk.


Bagi Willy, merajut kemesraan bersama Lintang bisa dimana saja asal mereka selalu bersama. Memasuki tahun kedua pernikahan mereka, ikatan itu semakin kokoh meski terkadang mereka juga kerap berdebat dengan hal-hal kecil yang terkadang menyulut emosi keduanya.


"Kak, aku ingin seperti papa dan mama yang selalu mesra, setia menemani dalam kondisi apa pun sampai tua." Lintang mengenang papa dan mama.


"Tentu saja kita akan seperti mereka. Asalkan kita selalu menjaga komitmen, untuk selalu terbuka dalam hal apa pun."


Lintang mengangguk paham, ia kembali melingkarkan tangannya memeluk Willy hangat seperti biasa.

__ADS_1


__ADS_2