Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
12. Gelisah


__ADS_3

Lintang membiarkan dirinya di bawah guyuran air yang keluar dari pancaran Shower di kamar mandi. Ia membiarkan dingin meluruhkan semua perasaan kalut yang sedang dirasakannya saat ini. Juga berharap jejak-jejak penindasan yang dilakukan Willy padanya tadi segera hilang.


Hampir satu jam ia membiarkan air mengguyur dan membasahi semua tubuhnya. Lintang kemudian terduduk lemas membayangkan akan seperti apa rumah tangganya nanti. Saat ini ia sedang dalam pergolakan batin yang dahsyat. Terkadang, Lintang sempat berpikir untuk kabur saja dari semua rencana pernikahan ini namun lagi-lagi bayangan kakek Franky juga janjinya pada pria tua itu kembali membuat ia mengurungkan niatnya.


Lintang meraih handuk kemudian melilitkan benda itu di tubuhnya. Ia kemudian menuju lemari dan segera mengganti bajunya. Lintang memilih untuk mengurung diri di kamarnya. Ia tidak memiliki keinginan untuk pergi ke rumah utama saat ini. Tidak lupa ia mengunci semua pintu, mencoba menghalangi jika Willy akan datang lagi tiba-tiba dan kembali menyiksa dirinya. Lintang kemudian berbaring, matanya nampak menerawang menatap langit-langit dengan pandangan kosong.


Setetes, airmatanya mulai mengalir. Ia mulai menangis tanpa suara. Dibiarkan hatinya mengadu pada kehampaan. Dibiarkan airmatanya turun terus-terusan. Lintang seperti merasakan remuk hatinya sendiri. Ia kemudian meraih guling lalu memeluknya erat. Lintang mencoba memejamkan mata, menahan semua rasa gelisah. Tidak lama kemudian, matanya benar-benar tidak lagi terbuka. Ia larut dalam buaian alam mimpi panjangnya. Lintang tidur membawa semua luka di hatinya.


"Kenapa sampai hati?" bisik Lintang lirih sesaat sebelum terbuai ke alam mimpi.


...****************...


Willy sedang duduk di samping kolam renang. Ia menatap pantulan cahaya bulan yang nampak berkilauan di dalam air. Willy membawa lamunannya sejauh mungkin. Dulu, di tempat ini sering dihabiskannya waktu bersama kakek. Willy kecil pada waktu itu banyak menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan bersama kakek. Willy tersenyum, mengingat semua kenangan manis bersama kakek Franky dahulu. Ia jadi merindukan kakek saat ini.

__ADS_1


Kakek, benarkah Kakek ingin aku segera menikah? Mengapa harus dia, Kek? aku bahkan baru mengenalnya. Willy membatin di dalam hati. Mencoba protes pada Kakek lewat hatinya sendiri.


Lama sekali ia berperang di dalam hati sampai sebuah tepukan pelan membuyarkan semua pertentangan batinnya. Willy mendongak, dilihatnya ayahnya sedang berdiri kemudian mengambil posisi dan duduk tepat di samping Willy. Willy tersenyum kecil menyambut ayahnya.


"Belum tidur, Pa?" tanya Willy membuka percakapan. Lelaki itu menggeleng.


"Papa baru selesai membaca buku di perpustakaan rumah tadi. Kamu sendiri kenapa belum tidur?" tanya ayahnya juga. Willy juga menggeleng.


"Belum ngantuk, Pa. Sebentar lagi paling." sahut Willy.


Willy dan ayahnya kemudian masuk ke dalam rumah dan berpisah karena mereka memilih masuk ke kamar masing-masing. Di dalam kamarnya, Willy menghidupkan televisi. Namun, suara dan siaran acara televisi itu hanya sebagai hiasan saja. Ia sama sekali sekali tidak tertarik dengan acara televisi saat ini.


Willy menyeret langkah, menuju teras kamarnya yang luas. Dari atas, ia melihat rumah mungil itu tertutup rapat. Pasti gadis itu telah mengunci semua pintu agar ia tidak bisa masuk seperti kemarin. Ia tersenyum sinis, lalu tertawa membayangkan betapa ketakutan kini telah ia ciptakan untuk gadis itu. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


Willy mencoba memejamkan mata. Namun bayangan wajah Lintang menghantuinya semalaman. Ia menggeram kesal membuat kebenciannya akan gadis itu semakin menjadi-jadi saja. Tangannya tiba-tiba terkepal membayangkan pernikahan telah begitu dekat di depan mata. Pernikahan itu akan terjadi tidak lama lagi. Willy sadar ia tidak akan bisa menghindar lagi dari pernikahan terkutuk itu. Namun, rencana untuk membuat hidup Lintang bagai di neraka telah tersusun begitu rapi di dalam otaknya.


Willy mencoba memejamkan mata. Berharap kantuknya segera datang agar ia bisa melupakan kebenciannya barang sejenak saja. Kebenciannya pada gadis pembantu yang telah lancang masuk ke dalam kehidupannya. Namun, matanya masih enggan terpejam. Willy malah mendapati wajah Lintang berlarian di dalam otaknya. Menari-nari seperti menertawakan kegagalannya menghancurkan rencana pernikahan mereka.


Tanpa sadar Willy mencengkram rambutnya sendiri. Ia mengubah posisi menjadi tengkurap dengan bantal yang sengaja menutupi kepala. Willy mencoba membuang jauh bayang-bayang wajah yang sangat dibenci olehnya itu. Ia mengerang keras namun suaranya teredam oleh bantal yang menutupi kepala. lama sekali ia bergulat dengan pikirannya sendiri kemudian tanpa sadar matanya benar-benar terpejam dan ia benar-benar telah tertidur pulas.


Begitu lah kebencian merajai hatinya. Willy seperti memberi stempel permanen di hatinya bahwa Lintang adalah orang yang berbahaya. Gadis yang dalam pikirannya telah merebut semua perhatian kakek juga keluarga besarnya. Gadis yang nyatanya hanya seorang pembantu itu akan benar-benar menyandang gelar sebagai istrinya.


Gadis yang telah menyematkan kebencian mendalam. Willy terus saja menyiram kebencian pada Lintang di hatinya. Membuat gadis itu sama sekali tidak pernah terlihat baik di matanya. Membuat Lintang tampak sebagai pengacau yang perlu ia basmi saat ini juga.


Padahal nyatanya, di tempat lain Lintang sendiri dilanda dan dihantui ketakutan karena perlakuan Willy yang semena-mena kepadanya. Gadis itu bahkan melihat Willy dalam mimpinya sebagai sosok yang menakutkan yang kapan saja siap mencelakai dirinya. Dalam tidur pun lelaki itu tetap menjadi sesuatu yang harus mati-matian ia hindari. Lalu entah bagaimana kelak lelaki itu akan memperlakukan dirinya saat pernikahan telah selesai mereka laksanakan.


*Kakek kenapa dia membuatku takut setiap saat. Aku rasanya tidak sanggup meneruskan rencana pernikahan ini. Tapi, aku tahu itu akan membuatmu kecewa. Aku juga tidak bisa melihat Ayah dan Ibunya kecewa juga. Kebaikan keluarga besar telah membuatku menjanjikan apapun agar aku bisa membalas semua jasamu pada hidupku dan ibu dahulu. Kakek, biarlah aku menanggung semua ini. Biarlah ia berlaku semaunya yang penting aku tidak mengingkari janjiku padamu. Aku akan tetap meneruskan pernikahan itu apapun yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


Kakek semoga kau tenang di sana. Ah mungkin kau sudah bertemu Kakek Suharja dan Ibuku di sana ya? sampaikan salam ku pada mereka ya, Kek. Katakan pada mereka betapa aku merindukannya. Kakek, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu juga keluarga besar. Aku akan mengabdi padanya yang akan menjadi suamiku nanti. Juga mencoba untuk tetap setia padanya seperti keinginanmu waktu itu. Tapi untuk merubah sikapnya padaku rasanya sulit sekali, Kek. Aku tidak memiliki banyak kekuatan untuk itu*.


Lintang mengatakan itu pada kakek yang hanya tersenyum menatapnya di alam mimpi.


__ADS_2