Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Dua Perempuan Pengacau 2


__ADS_3

Fiska melangkah dengan anggun menuju ruangan Privat yang ada di dalam perusahaan milik lelaki yang di gilai nya. Ia memakai baju yang membuatnya nampak cantik juga dengan hiasan di wajah. Ia tampak glamour. Saat sudah berada di depan pintu, ia mematut sekali lagi penampilannya di cermin. Setelah di rasanya penampilannya sudah sempurna, barulah ia meraih gagang pintu lalu membukanya.


Senyumnya mendadak hilang saat yang ia temui di dalam ada seorang perempuan juga. Emilie sama terkejutnya dengan Fiska. Ia tidak menyangka Willy juga mengundang wanita lain. Ia juga tidak mengenal perempuan yang baru datang ini. Ia menoleh pada asistennya yang juga melihatnya dengan pandangan bertanya.


Fiska mencari di seluruh ruangan, tidak ada tanda-tanda kehadiran Willy. Namun, ia segera masuk, duduk dengan anggun selang beberapa kursi dari Emilie. Setelah itu pintu terbuka lagi, nampak Willy melangkah masuk di ikuti oleh asistennya. Mereka juga nampak lebih terkejut saat melihat beberapa orang ikut masuk ke dalam ruangan itu. Emilie membelalakkan mata melihat kedua orangtuanya juga ikut duduk bersama mereka. Ia menunduk, ia takut pada ayahnya.


Fiska tidak kalah kaget, Ibunya melenggang menuju dirinya, duduk dengan tenang meski sedang menahan amarah. Fiska merasa hidupnya akan tamat saat ini juga. Bagaimana kalau Ibunya tahu pekerjaan kotor yang sedang ia lakoni beberapa bulan terakhir ini.


"Baik semuanya, terima kasih sudah memenuhi undangan hari ini. Saya tersanjung karena semua bisa hadir." Willy membuka kata sambutan.


"Sebenarnya, saya pantang sekali mengadakan acara pertemuan antar keluarga orang lain seperti ini. Namun, nampaknya hanya ini satu-satunya cara agar saya bisa menyadarkan dua wanita istimewa yang sedang bersama kita saat ini." Willy menghentikan kata-katanya. Ia tersenyum pada semua yang hadir.


"Tapi saya rasa tidak ada salahnya juga sebab kedua wanita ini seperti tidak kehabisan cara mengusik kehidupan saya dan juga istri saya. Tuan Wijaya, saya sangat berkenan menjalin kerja sama bersama perusahaan anda seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya. Tapi, saya amat terganggu dengan tingkah kekanak-kanakan putri anda ini." Willy menunjuk Emilie.

__ADS_1


"Saya bisa saja mencabut semua kesepakatan yang telah kita lakukan kemarin. Dengan sekali sambungan telepon saya bisa menghancurkan proyek di Bandung Utara juga menarik investasi yang di tanam perusahaan saya kepada perusahaan anda." Ujar Willy pada Ayah dari Emilie. Terlihat rahang lelaki itu mengeras, ia memandang anak gadis nya penuh kemarahan. Emilie sudah menunduk semakin dalam, ia merasa sudah terkubur dalam perut bumi saat ini juga. Ia jadi sulit bernafas. Ia benar-benar tidak menyangka Willy akan melakukan hal di luar bayangan nya seperti ini.


"Maafkan kelakuan putri kami Tuan, apa yang harus saya lakukan agar anda bisa memaafkan kami. Juga tidak mencabut semua kesepakatan kita kemarin?" Tuan Wijaya meremas tangannya sendiri.


"Ganti perwakilan dari perusahaan mu, jangan biarkan Emilie mengurusnya. Aku tidak memperkenankan dia datang lagi ke perusahaan ini dalam urusan apapun. Juga katakan padanya untuk tidak lagi mengganggu istriku." Willy menatap ayah dan anak itu bergantian. Tuan Wijaya mengangguk cepat. Ia malu pada kelakuan anaknya. Kalau Willy benar-benar mencabut semuanya ia merasa akan tamat. Perusahaannya selamat dari kehancuran dan kebangkrutan karena perusahaan Franky Dwianuarta yang kini telah dikendalikan penuh oleh William.


"Dan untukmu." Willy menunjuk Fiska yang juga sudah menunduk. Ia tidak berani melihat Ibunya. "Hentikan kebodohanmu membayar orang lain untuk membuntuti ku juga menganggu ketenangan istriku. Kepadamu Nyonya Bramantio, Aku meminta kau menyadarkan putrimu untuk tidak lagi bertindak bodoh seperti kemarin terhadap istriku. Ayahnya sedang berjuang di rumah sakit tapi ia malah bertindak memalukan." Willy berkata tegas pada Nyonya Bramantio yang membalasnya dengan anggukan juga senyuman. Ia memandang Fiska dengan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan lagi.


"Baiklah saya rasa sudah cukup, saya mengucapkan terima kasih banyak atas semua kehadirannya." Willy membungkuk sesaat lalu berjalan dengan langkah penuh kewibawaan keluar dari ruangan itu.


"Kemasi barang mu, aku akan mengurus semua kepindahan mu ke Jerman. Kau akan menjadi warga tetap di sana. Nenekmu akan mengawasi mu selama di sana." Ujar lelaki paruh baya itu. Emilie lemas mendengarnya, ia merosot di kursi. Memohon seperti anak kecil pada ayahnya yang tidak menggubris. Sudah terbayang bagaimana akan terkekang dan tersiksanya ia selama tinggal bersama neneknya nanti. Emilie menangis sesegukan, tidak peduli pada orang-orang yang masih ada di sana.


Sementara untuk Fiska, satu tamparan mendarat dan melayang di pipi putihnya. Ibunya marah besar, ia seperti sudah mencoreng arang di wajah keluarganya sendiri. Fiska memegang pipinya yang memerah. Ia menunduk, tidak berani melihat ibunya.

__ADS_1


"Pulang. Berlutut di depan ayahmu yang sedang koma. Kau memalukan!" Ujar ibunya ketus. Kemudian ia mengikuti langkah Ibunya yang masih memendam kemarahan tanpa ada perlawanan. Fiska menyesal, ia menyeka airmatanya yang sudah turun membasahi pipi. Ia juga tidak berani melihat siapa pun selama berjalan menuju besment perusahaan. Fiska merasa tidak semangat lagi. Kesombongannya menguap entah kemana. Keberaniannya juga sudah menghilang menjauh ke segala arah. Fiska merasa nyalinya sudah tak lagi berpihak padanya.


Sementara di dalam ruangannya sendiri, Willy melakukan panggilan video pada Lintang. Ia tersenyum hangat, menatap istrinya yang cantik dan sudah sedikit berisi itu dengan penuh rindu. Ia akan mengunjungi sebuah toko perhiasan sore nanti. Akan di hadiahkan sebuah kalung indah yang telah ia pesan satu bulan lalu untuk istri kesayangannya itu.


"Semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana, Tuan." Setya masuk dan memberi informasi pada Willy. Willy mengangguk lalu kembali melanjutkan obrolan hangatnya bersama Lintang.


"Apa yang sesuai rencana, Kak?" Tanya Lintang.


"Para pengacau itu sudah ku bereskan sayang. Tidak ada yang akan berani mengganggumu lagi nanti. Bahkan hanya melihatmu pun mereka akan ketakutan." sahut Willy sambil tersenyum.


Lintang mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya ini. Namun, ia mengangguk saja meski tidak juga paham dengan yang dikatakan Willy barusan.


"Sayang, Mama sudah pulang?" Tanya Willy menyadarkan Lintang dari lamunan.

__ADS_1


"Belum Kak, Mama sedang sibuk memesan makanan." Sahut Lintang, ia melirik Ibu Mertuanya yang sedang sibuk dengan makanan yang akan ia pesan untuk mereka berdua.


"Baiklah, makan yang banyak ya. Aku pulang agak telat. Kau tunggu aku sampai kembali." Ujar Willy akhirnya. Ia merasa sangat tertolong karena Ibunya sering datang ke apartement untuk menemani Lintang. Ia jadi merasa lebih tenang meninggalkan Lintang di apartement.


__ADS_2