
Hari ini Lintang sudah diperbolehkan untuk kembali ke rumah setelah hampir satu minggu menjalani rawat inap pasca melahirkan.
Keluarga menyambut bahagia hal ini. Willy juga sangat bersemangat untuk membawa Lintang beserta kembar untuk kembali pulang.
"Will, semuanya udah dimasukin ke dalam koper kan?" Mama menghampiri Willy yang telah memasang risleting koper.
"Udah kok Ma."
"Mama senang sekali deh, Lintang sama kembar akhirnya bisa pulang juga hari ini." Ujar Mama sumringah. Willy tersenyum mendengarnya. Ia pun sama. Kegembiraan memang mereka rasakan saat ini.
"Lin, udah yakin mau pulang kan?" Papa mendekati Lintang yang segera mengangguk mantap.
"Bagus, semua sudah siap, ayo kita pulang. Lintang sementara pakai kursi roda dulu ya." Lanjut Papa. Willy mengambil alih kursi roda itu, ia membantu istrinya duduk di sana dengan nyaman.
Sepanjang perjalanan menuju parkir, di koridor rumah sakit, para perawat, dokter dan pengunjung lain banyak menyapa mereka. Keluarga yang memang sudah lama tersohor itu terkenal karena keharmonisan dalam keluarga.
Lintang menatap kembar yang sedang tidur tenang dalam dorongan kereta bayi. Sesekali terdengar suara tangis salah satu diantara mereka dan Mama akan dengan sabar menenangkan cucu-cucunya itu.
"Al pasti sudah menunggu kedatangan Shakira dan Shakila ya." Ujar Lintang sambil tersenyum.
"Iya sayang, ia pasti sangat senang melihat adik-adiknya tiba nanti." Sahut Willy dengan senyum yang sama.
Mereka berhenti di mobil yang telah menunggu Mang Ujang. Lintang naik dengan hati-hati bersama Willy. Shakira di gendong mama sedang Shakila berada dalam dekapan papa.
"Waah, cantik sekali, Tuan." Mang Ujang tersenyum memandang kembar sebelum ia menyalakan mesin mobil.
"Pasti dong Mang, Bundanya siapa dulu." Sahut Willy tertawa kecil.
Lintang menyandarkan kepalanya di bahu Willy yang bidang. Willy membelai dan mengecup puncak kepala istrinya.
Diam-diam, mama dan papa memperhatikan itu. Mereka haru sekali. Willy memang telah banyak berubah. Kakek Franky pasti sangat senang menyaksikan kemesraan cucu nya itu.
__ADS_1
"Papa memang tidak salah memilih jodoh untuk putra kita ya Ma." Ujar Papa setengah berbisik.
"Iya pa, Willy juga banyak berubah berkat kesabaran Lintang selama ini." Mama menimpali.
"Eh lihat Ma, Shakira bangun." Papa menunjuk cucunya yang tampak menggeliat.
"Lucu dan cantik sekali cucu Kakek." Ujar Ricky sambil menyentuh hidung mungil Shakira.
Sementara Shakila masih tertidur pulas. Mama tak henti menciumi cucunya itu.
Mereka akhirnya sampai di rumah. Semua pelayan keluar menyambut kedatangan Lintang juga kembar. Mbok Nah bersama Al mendekat. Al tampak memandangi kedua adiknya, awalnya ia diam tidak bereaksi tapi kemudian ia tertawa, memamerkan gigi nya yang mulai penuh.
"Al ini adik, namanya Shakira dan Shakila." Willy memperkenalkan kembar pada Al.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Di kamar mereka sudah ada box bayi baru. Kembar diletakkan ke dalamnya dengan hati-hati.
Bulan-bulan pertama kehadiran kembar sudah bisa dibayangkan bagaimana Willy dan Lintang yang kerepotan. Namun, Mama sigap sekali membantu. Malam-malam Willy harus memaksa matanya agar terbuka saat a menemani Lintang mengasihi kembar, belum lagi Al yang kadang terbangun dan minta dibuatkan susu.
"Aku kebantu banget, Mama pengertian sekali." Ujar Lintang . Willy mengangguk setuju.
"Mama itu memang baik sayang. Makanya aku sayang banget sama Mama." Sahut Willy, Lintang tahu itu. Bahkan sebelum ia menikah dengan Willy pun ia sudah mendapatkan banyak sekali kebaikan dari mama.
"Sayang, kamu tidur aja, besok kan harus kerja." Ujar Lintang, ia tengah menidurkan kembali kembar.
"Gak papa sayang, aku bakal tidur kalo kamu juga udah bisa istirahat." Sahut Willy penuh perhatian.
"Kamu kerepotan gak bantuin aku ngurusin kembar sama Al?" Tanya Lintang lirih.
"Tidak sayang. Aku ingin menikmati masa-masa ini bersama mu. Waktu sangat cepat sekali berjalan, tanpa terasa nanti kita akan bertambah tua, anak-anak kita bertambah dewasa, mereka akan menentukan jalannya sendiri. Jadi saat-saat seperti ini sungguh sangat sayang jika harus dilewatkan." Jawab Willy sambil tersenyum.
Lintang menatap suaminya berkaca-kaca. Tidak menyangka Willy akan sebijak ini. Ia merasa sangat beruntung.
__ADS_1
Mama datang, membawa Al yang sudah tertidur dalam gendongan. Willy membantu mama meletakkan Al dengan hati-hati.
"Dia udah tidur, Al itu pengertian, dia gak pernah nangis malem-malem. Dia ngerti, adiknya lebih butuh perhatian dibanding dia." Mama berkata sambil memandang Al. Ia mengecup pipi Al yang sudah pulas itu.
Teknik Sounding memang sangat bermanfaat. Willy sudah sangat sering mempraktekkan nya pada si sulung.
Mama beralih pada kembar yang juga sudah mulai terlelap itu.
"Udah ngantuk lagi mereka." Ujar Mama pelan.
"Kalian abis ini langsung tidur juga ya. Istirahat. Besok Willy gak papa udah bisa kerja, Mama bisa bantu Lintang."
Willy dan Lintang mengangguk paham. Mereka merasa sangat terbantu dengan adanya Mama.
"Makasih ya Ma." Lintang memeluk mama hangat, Willy ikut memeluk mama juga. Mama jadi sesak nafas.
"Mama gak bisa nafas, Willy badan kamu itu gede." Ujar mama, Willy sudah terkekeh melihat mama yang mulai cerewet lagi.
"Makasih ya ma." Ia mengecup pipi mama. Mama mengangguk lalu beranjak menuju kamarnya sendiri.
"Kita kayaknya udah bisa tidur juga sayang." Willy mengajak Lintang untuk kembali lagi ke tempat tidur. Namun baru saja mereka hendak terpejam, suara salah satu kembar kembali terdengar. Willy buru-buru menghampiri Shakira. Putrinya itu ternyata buang air besar.
"Kenapa Yah?" Tanya Lintang.
"Shakira pup bun." Sahut Willy sambil sibuk membersihkan Shikira lalu memasang popok.
Lintang memperhatikan Willy yang begitu telaten mengurus anak mereka. Setelah dirasa tidak ada lagi suara ketiga anaknya, yang artinya mereka telah tidur pulas lagi, Willy kembali naik ke atas ranjang.
Ia mendekap Lintang. Memeluk Lintang untuk menikmati sisa-sisa jam tidur. Saat ini mereka memang super kerepotan mengurus ketiga anak mereka, tapi mereka bahagia. Repot ini repot yang menyenangkan, repot yang didambakan banyak pasangan suami istri.
Moment berharga yang tidak akan lama. Karena benar kata Willy, usia akan bertambah tua, anak-anak akan bertumbuh dewasa. Inilah masa paling membahagiakan. Setiap hari menyaksikan tumbuh kembang anak tercinta. Harapannya cuma satu, semoga ketika mereka dewasa mereka juga akan mengerti betapa kehadiran orang tua itu adalah sesuatu yang tak ternilai harganya. Semoga kembar dan Al menjadi anak yang berbakti kelak. Senantiasa menjaga dan menghormati kedua orangtua mereka sebagaimana kedua orangtua mereka menyayangi ketiganya sedari kecil.
__ADS_1