Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Tidak Ada Tempat Untuk Orang Ketiga


__ADS_3

Restoran kini semakin ramai karena sebuah acara bergengsi yaitu kompetisi memasak sedang di adakan di sana. Lintang sengaja membagi setengah dari tempat yang luas itu untuk keperluan syuting. Setengahnya lagi untuk para pelanggan seperti biasa jadi kegiatan syuting dan kegiatan restoran tidak terganggu.


Lintang juga masuk ke dalam acara sebagai salah satu guest juri yang akan mencicipi masakan para kontestan. Karena itulah nama restorannya kini terkenal seantero indonesia dan itu membuat omset dagang jadi naik berkali-kali lipat.


"Sayang, tadi aku melihatmu di televisi. Kau sangat cantik dan anggun." Puji Willy saat mereka tengah melakukan video call.


"Benarkah sayang? Apa aku terlihat kaku?" Tanya Lintang pada suaminya yang sedang tengkurap di dalam kamar hotel.


"Tidak, sayang. Kau sangat sempurna. Aku takut nanti ada produser yang diam-diam ingin menjadikanmu bintang film." Sahut Willy dengan mimik dibuat sedih. Lintang tersenyum.


"Berarti nanti aku menjadi aktris terkenal?"


"Ya, tapi tidak boleh. Aku tidak mengizinkannya." Kata Willy cepat.


"Mengapa?"


"Aku tidak rela istriku bermesraan dengan lelaki lain meski hanya untuk sebuah film." Sahut Willy tegas. Lintang tersenyum lagi mendengarnya.


"Tentu, sayang. Aku akan menuruti semua keinginan suamiku." Jawaban itu membuat Willy sumringah.


"Sayang, Al mana?" Tanya Willy, ia rindu sekali pada putra gembul nya itu.


"Sedang berjalan-jalan bersama Mama. Kak, jangan lama-lama berada di sana. Aku rindu." Desah Lintang tertunduk.


"Paling lama satu minggu, bersabarlah sayangku." Ujar Willy menenangkan istrinya.


Keduanya berbincang hangat melalui panggilan video untuk beberapa jam. Willy bahkan membiarkan Lintang melihat aktivitasnya dengan tetap menyalakan panggilan video itu meski mereka sudah tidak lagi bicara. Lintang melihat suaminya masuk ke kamar mandi kemudian ketika suaminya makan. Dan beberapa kegiatan lainnya sampai akhirnya panggilan video itu di matikan juga.


Lintang tidur malam ini hanya berdua dengan Al. Sebelah ranjangnya kosong. Lintang tidak terbiasa dengan situasi tanpa Willy seperti ini. Ia juga jadi sulit untuk tertidur.


Kebetulan pula, putra gembul nya terbangun. Seolah tahu bunda nya tidak bisa tidur. Ia menemani Lintang.


"Tidurlah sayang bunda, kenapa bangun?" Lintang mengajak Al berbicara. Ia menjawil hidung mancung anaknya gemas. Al kecil menanggapi bunda dengan menggerak-gerakkan tangan dan kaki juga mulutnya nampak berusaha bicara dengan bahasa bayi nya.


"Kau rindu ayah mu? Bunda juga sangat merindukannya sayang." Lintang mengecup kening Al dengan sayang.

__ADS_1


"Ayo kita tidur." Ia mulai menepuk-nepuk pantat Al agar anaknya itu segera tidur.


Setelah beberapa saat, Lintang dan Al akhirnya tertidur juga. Mereka sama-sama sedang merindukan satu orang : Willy.


...****************...


"Ma, Lintang mau bawa Al ke restoran ya hari ini." Ujar Lintang pada Mama Miranti saat mereka sedang sarapan.


"Apa Al tidak akan merepotkan mu nanti Lin?" Tanya Mama sambil menggigit roti.


"Tidak, Ma. Lintang hanya akan mengawasi para staff saja tidak akan turun ke dapur hari ini." Sahut Lintang. Miranti akhirnya mengangguk.


"Nanti kalau kamu kerepotan, telepon saja mama."


"Iya, Ma." Timpal Lintang senang.


Jadi di sinilah Al saat ini, di restoran bersama Bunda. Lintang mengajak anaknya itu bermain di taman, masuk ke dalam restoran untuk mengecek para staff. Lintang juga menidurkan putranya untuk tidur siang di dalam ruangannya.


Ia merasa bahagia bisa bekerja sambil tetap mengasuh dan menjaga Al. Al juga membuat seisi restoran gemas. Mereka suka sekali menghampiri Lintang untuk sekedar mengajak bayi gembul itu bicara dengan gaya lucu. Banyak juga yang meminta berfoto dengan Al, ia sudah seperti bintang cilik saja.


Lintang membawa Al kembali ke rumah pada sore hari. Ia pulang lebih cepat dari restoran tidak seperti biasanya karena Miranti menelepon Lintang entah sudah berapa kali hanya untuk menanyakan kegiatan Al.


"Iya Ma, Maaf ya tadi Lintang lama bawa Al pulang." Ia merangkul Miranti yang tengah sibuk dengan cucunya.


"Iya Lin, gak papa. Mama tuh gak bisa jauh dari Al."


"Lintang ngerti kok, Ma. Oiya, aku mandi dulu ya Ma."


Lintang akhirnya membiarkan Al bermain bersama neneknya sementara ia sendiri masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Di dalam kamar mandi, Lintang teringat akan Willy lagi. Suaminya itu paling suka mengajaknya untuk mandi bersama, tentu untuk saling memuaskan juga. Ia rindu sekali pada Willy.


Willy sudah tiga hari berada di Semarang. Kalau tidak ada halangan, harusnya dua hari lagi suaminya itu sudah pulang.


"Kak, apa pekerjaanmu lancar?" Tanya Lintang saat mereka kembali melakukan panggilan video.

__ADS_1


"Sangat lancar, sayang. Aku pasti pulang dua hari lagi."


"Ya, aku rindu padamu, Kak. Cepatlah kembali." Ujar Lintang sungguh-sungguh.


"Aku akan segera pulang, sayang. Aku juga akan mengajakmu untuk tidur di apartemen kita nanti setiba di Jakarta." Willy mengerling pada Lintang yang segera mengerti maksud dari suaminya itu. Tentu saja Willy akan mengajaknya bercinta habis-habisan setiba di Jakarta nanti.


"Apa pun yang kau mau, sayang." Lintang mengecup kedua jarinya yang kemudian ia tempelkan di bibir suaminya di dalam video.


"Oh, aku sangat merindukanmu." Desis Willy putus asa. Ia kesal jauh dari istrinya walau hanya untuk beberapa hari saja.


Lintang akhirnya mematikan sambungan telepon. Ia merasa ngantuk sekali. Ia mencoba memejamkan mata, dan benar akhirnya ia tertidur untuk beberapa saat kemudian.


Lintang membiarkan dirinya terlelap. Kegiatan di restoran yang padat serasa membuat tubuhnya remuk. Restoran semakin ramai saja semakin hari.


Sebenarnya ada yang mengganggu pikiran Lintang saat ini. Ia sempat mendengar suara perempuan saat menelepon Willy ketika mereka ada pertemuan dengan para pemegang saham.


Suara hangat yang mengajak suaminya bercanda itu tak urung membuat hatinya gundah. Namun, ia tidak mau menyinggung hal itu. Lintang tak ingin memikirkan hal-hal yang berpotensi membuat hubungan rumah tangganya jadi retak.


"Apa ada perempuan diantara para kolega mu, kak?" Tanya Lintang saat itu. Willy menjawab iya.


"Hanya sebatas rekan bisnis ku sayang. Tidak lebih." Ujar Willy berusaha menenangkan istrinya agar tidak memikirkan hal-hal yang macam-macam.


"Heeemmm."


"Kau marah?" Tanya Willy lagi setelah mendengar tanggapan istrinya.


"Tidak, Kak."


"Kau cemburu?"


"Ya... sedikit." Sahut Lintang jujur.


"Tidak apa-apa sayang. Aku sangat menjaga jarak dengannya di sini. Kau percaya padaku?"


"Iya, sayang aku percaya padamu."

__ADS_1


Willy terdengar menarik nafas lega di telepon saat itu. Ia tahu Lintang sedang gundah akan dirinya. Namun, ia meyakinkan Lintang bahwa ia tidak pernah macam-macam meski banyak godaan di luar sana sekali pun.


Lintang mengangguk, percaya pada suami yang tidak akan mengkhianati cintanya dan ia harusnya bersyukur, karena Willy memang sangat setia padanya meski perempuan itu berulang kali mengajaknya untuk dinner. Willy menolaknya tegas.


__ADS_2