
Lintang dan Sela kini telah bertemu kembali. Kedatangan Sela yang tiba-tiba dengan kondisi yang sudah hamil dan juga bersuamikan Zacky, tak ayal melengkapi kebahagiaan Lintang kini. Rasanya ia seperti bermimpi saja.
Lintang bahagia untuk Sela. Ia juga tak menyangka Sela telah memiliki suami, yang tak lain adalah Zacky, pria yang pernah mencintai nya dulu.
Dari cerita Sela yang mengalir waktu itu, ia mendengar sahabatnya itu sempat menjalani kehidupan yang berat dan penuh tantangan di Bandung. Sela juga terbuka menceritakan bahwa ia pernah bekerja sebagai perempuan penghibur di club malam. Namun kini, semua sudah berlalu, ia telah menjalani kehidupan yang lebih baik dari kemarin.
"Hidup ini penuh misteri dan kejutan ya, Kak." Ujar Lintang sambil menyeka airmatanya. Ia menatap fotonya dengan Sela yang sedang tersenyum di dalam galeri ponselnya.
"Iya Lin, semuanya adalah rahasia Tuhan. Dan Tuhan selalu punya cara untuk kembali mempertemukan mereka yang sudah lama terpisah." Willy merangkul lembut pundak istrinya itu.
"Aku sama sekali gak menyangka, Sela telah menikah dengan Kak Zacky. Aku bahagia sekali."
"Aku juga, akhirnya Zacky menemukan perempuan yang tepat untuk mendampinginya, sahabtmu itu."
"Sesekali kita harus mengajak mereka dinner bersama kita, Kak." Kata Lintang sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Tentu saja, sayang. Nanti kita akan mengaturnya."
"Mama akan mengadakan acara Jamuan makan malam lagi Kak, juga berbagi di panti asuhan atas kesembuhan papa."
"Ya, nanti kita bantu mempersiapkan segalanya."
Lintang mengangguk kemudian mengajak Willy untuk tidur. Mereka menutup hari ini dengan hati yang lebih riang dari biasanya.
...****************...
"Lin, nanti kalau sudah siap semua makanan dalam boxnya, kamu bilang mama ya, biar mama yang mengantar ke panti asuhan." Ujar mama siang itu sambil menuntun Al.
__ADS_1
"Lintang ikut ya, Ma. Mau lihat juga anak-anak disana." Sahut Lintang sambil membantu Mbok Nah menyusun semua makanan ke dalam Kantong besar.
"Ya udah, nanti kita barengan papa juga ya, nanti ada acara doa bersama dulu soalnya. Oh iya, sekarang mending kamu bantuin mama masukin uang ke dalam amplop buat di bagiin nanti."
Lintang mengangguk lalu mengerjakan apa yang mama perintahkan tadi. Ia memasukkan beberapa lembar uang seratus ribuan ke dalam amplop satu persatu.
Al juga terlihat sibuk sendiri dengan amplop yang lain. Ia mencoba meniru bunda tapi tidak bisa. Lintang menghampiri anak nya itu. Ia berlutut, mensejajarkan posisi.
"Nih Nda. ini Nda." kata Al sepatah dua kata. Lintang tersenyum lalu mengambil amplop itu.
"Al, nanti kalau sudah besar, harus jadi anak yang baik ya. Yang dermawan, suka berbagi dan suka membantu sesama." Kata Lintang sambil membetulkan celana anaknya yang sedikit melorot. Al terlihat mengangguk-angguk seperti biasa walau ia tidak mengerti apa yang sedang bunda bicarakan.
"Udah Lin?" Tanya mama, ia menyusun rapi amplop-amplop itu.
"Udah kok Ma. Papa udah siap?" Tanya Lintang sambil celingukan.
Mama segera pergi ke atas memanggil papa. Sedangkan Lintang sudah pergi dan masuk ke mobil duluan. Willy akan menyusul setelah selesai dari perusahaan.
Papa dan mama muncul dengan para pelayan yang membantu memasukkan makanan-makanan itu ke mobil satu lagi. Mereka berangkat dengan dua mobil.
Saat mereka telah sampai di panti asuhan yang dituju, Willy telah menunggu. Ia telah sampai duluan dan sudah berbicara dengan pengurus panti.
Anak-anak panti sudah menunggu kedatangan mereka sambil tersenyum. Lintang haru sekali melihatnya. Ia jadi terkenang dengan diri nya sendiri yang tidak lagi memiliki siapa pun selain keluarga Kakek Franky.
Ia mengusap lembut kepala anak-Anak itu dengan sayang. Acara pertama adalah kata sambutan sederhana dari pengurus panti asuhan. Lalu disusul dengan doa bersama untuk mensyukuri kesembuhan papa.
"Aku selalu teringat dengan ibu dan ayah juga kakek dan nenek setiap melihat anak-anak ini, Kak." Ujar Lintang lirih, lagi-lagi ia harus menyeka airmata yang turun tanpa diminta.
__ADS_1
"Ya sayang, sekalian kita mendoakan mereka juga ya. Kini kau sudah memiliki kami sebagai keluargamu." Sahut Willy sambil merengkuh pundak istrinya. Al tenang berada dalam gendongannya.
"Kak, jaga Al dulu ya, aku akan membantu mama dan papa untuk membagikan amplop-amplop itu."
Willy mengangguk. Lintang segera menghampiri mama yang sudah mulai membagikan amplop kepada para anak yatim yang sudah mengantri untuk menerima rejeki itu.
"Sehat-sehat ya kalian semua." Lintang mengusap puncak kepala anak-anak yang tertutup selendang dan kopiah.
"Terima kasih ya Kak." Ucap mereka setelah selesai menerima amplop-amplop itu.
Setelah itu mereka berbaur bersama anak yatim. Mereka menikmati hidangan yang sudah tersedia dengan berbagai macam makanan enak yang jarang sekali mereka rasakan. Selain uang dalam jumlah besar yang telah diserahkan ke pengurus panti, makanan, dan amplop untuk anak-anak panti, Mereka juga memberikan banyak sembako berupa beras dan bahan pokok lainnya. Papa rupanya telah menelepon bawahannya untuk mengantar semua itu.
"Terima kasih sekali Tuan Ricky, anda telah sangat baik mau memberikan sebagian daripada rejeki anda kepada anak-anak kami disini. Semoga Tuhan senantiasa memberi kebahagiaan dan keberkahan hidup untuk anda sekeluarga." Kata pengurus panti dengan rasa haru.
"Sama-sama, Ibu Andini. Nanti setiap bulan akan ada staff dari perusahaan kami yang akan membawakan lagi bahan makanan pokok, juga sedikit uang untuk panti asuhan ini." Kata Papa sambil tersenyum.
Pengurus panti asuhan itu tidak henti mengucapkan rasa syukurnya. Ia juga tidak henti mendoakan semua kebaikan untuk keluarga besar Dwianuarta Group.
"Sifat Kakek yang pengasih dan juga dermawan itu menurun sekali pada papa ya, Kak." Ujar Lintang sambil tersenyum.
"Ya, kau betul istriku. Kakek adalah simbol kebaikan yang nyata dalam keluarga besar ini. Ia sangat baik hati, aku bersyukur bisa dilahirkan sebagai cucunya." Sahut Willy sambil mengangguk.
"Kaakeek kek." Suara Al terdengar ia menunjuk Kakeknya yang sedang berbincang dengan pengurus panti asuhan.
"Kau mau menghampiri Kakek mu?" Tanya Willy yang kemudian membiarkan Al yang sudah bisa berjalan itu menghampiri kakeknya.
Papa segera menyambut cucunya itu. Ia menggendong, mengenalkan cucunya pada pengurus panti dan juga anak-anak yatim. Al tampak senang sekali, ia tertawa bersama para anak panti yang gemas padanya.
__ADS_1
Menunjukkan semua hal baik pada anak kecil itu akan sangat baik bagi perkembangan otaknya. Ia juga akan terbiasa melihat semua hal dengan bijak setelah dewasa nanti jika hal baik dan bermanfaat selalu di tanamkan di dalam dirinya sejak dini.