Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Bermalam di Apartement


__ADS_3

Setelah berpikir keras tentang keputusan yang akan ia ambil akhirnya Willy setuju untuk tidak tinggal di apartement lagi. Ia membiarkan apartement itu sebagai tempat singgah kalau ia rindu berat pada istrinya dan tak ingin di ganggu siapapun.


"Ma, aku dan Lintang gak jadi balik ke apartement lagi. Tapi, kami akan sering ke sana nanti." Willy terkekeh. Ibu Mertua menyambut hangat.


"Nah begitu dong, Will. Masa kamu tega misahin mama sama cucu mama ini."


"Tapi, nanti Aku sama Lintang bakal sering ke sana loh." Willy mengingatkan Mamanya lagi.


"Sesuka kalian, pokoknya, Al tetap di sini." Ujar Miranti sambil mengelus pipi gembul Alvaro. Bayi gembul itu pun menggeliat, matanya berbinar-binar menatap nenek.


"Ntar malem, aku sama Lintang mau ke sana, Ma."


"Haduh.. pergilah Will, ajak Lintang bersenang-senang, Mama yang akan jaga Al."


Willy tersenyum, Ibunya begitu pengertian. Ia mengecup kening Mamanya dengan sayang.


Tepat pukul delapan, Willy akhirnya melajukan deru mobil menuju apartementnya. Lintang terlihat cantik dengan setelan rok jeans selutut dan kaus putih yang pas di tubuh sintalnya.


Willy mengagumi istrinya itu, meski telah memiliki anak ia masih nampak muda. Tubuh dan wajahnya terawat, beberapa bagian tubuhnya yang menonjol juga nampak menggoda.


"Lin, kau semakin cantik." Puji Willy saat mereka telah berada di setengah perjalanan.


"Suamiku juga semakin tampan." Sahut Lintang sembari mengulurkan jemarinya mengusap pipi Willy.


"Kita akan menginap di apartement malam ini." Kata Willy lagi.


"Mama sudah tau, Kak?"


"Mama yang nyuruh kok, sayang."


"Apa Al gak bakal rewel, Kak?" Tanya Lintang lagi.

__ADS_1


"Percayalah pada Mama." Willy meyakinkan istrinya itu.


"Baiklah, semoga Al tidak rewel, nanti mama malah gak bisa tidur." Ujar Lintang sambil membayangkan akan betapa sulitnya Ibu Mertua mengurus bayinya itu. Namun, Miranti tetap ngotot bahwa cucunya pasti akan tenang bersamanya.


"Kita ke Mall dulu, beli lah barang-barang yang kau sukai. Aku bahkan tidak melihat adanya transaksi dari kartu yang dulu ku berikan padamu." Keluh Willy. Lintang tersenyum menanggapi keluhan suaminya itu. Ia memang diberikan benda itu namun Lintang tidak ingin menggunakannya untuk berpoyah-poyah.


...****************...


Sampai di mall, kedua pasangan suami istri itu menjadi pusat perhatian dari para pengunjung mall. Willy mengajak Lintang masuk ke sebuah butik ternama di dalam mall yang menjual baju-baju berkualitas dengan brand-brand terkenal.


Lintang mencoba beberapa baju dan akhrinya ia membeli beberapa potong dress juga kaus santai. Setelah itu mereka melangkah menuju toko perhiasan. Willy memilihkan satu kalung , gelang dan juga cincin berlian untuk istri kesayangannya itu.


"Cantik." Pujinya menatap Lintang puas


"Sayang, ini terlalu mahal." Ujar Lintang.


"Tidak apa, sayang. Ini semua milikmu sekarang." Willy memerintahkan pelayan toko untuk segera mengurus transaksi.


Benda itu berkilauan di tubuh putih Lintang. Ia jadi terlihat begitu elegan dan anggun dengan perhiasan-perhiasan itu. Banyak pengunjung yang menatap ke pasangan itu dengan tatapan kagum. Berandai-andai bisa memiliki pasangan yang romantis juga.


"Sangat cantik, Tuan." Jawabnya cepat. Lintang dibuat merona karena pertanyaan suaminya itu.


Mereka keluar dari toko perhiasan. Lintang tetap mengenakan kalung, cincin juga gelang itu karena permintaan suaminya.


"Kak, aku lapar." Ujar Lintang, ia menggelayut pada lengan Willy.


"Ayo kita ke sana." Tunjuk Willy pada sebuah kafe yang berada di dalam Mall itu. Lintang berhenti sesaat, ia teringat itu kafe sering ia datangi bersama Sela dulunya.


"Kenapa sayang?" Tanya Willy dengan berkerut kening.


"Tidak Kak, ayo." Lintang menggandeng tangan suaminya mesra.

__ADS_1


Mereka masuk, duduk dan memesan makanan. Sambil menunggu makanan mereka diantarkan, Lintang tampak termenung.


"Aku sering kesini dulu bersama Sela, Kak." Kenang Lintang akan sahabatnya itu.


"Semoga dia baik-baik saja, sayang." Willy menggenggam jemari Lintang.


"Dia pasti baik, Kak. Sela itu pemberani, tapi dia pasti kesepian, sendirian di luar sana."


"Suatu saat ia pasti akan datang menemui mu. Percayalah." Ujar Willy penuh keyakinan.


Lintang balas menggenggam jemari suaminya itu. Ia tersenyum lalu mengangguk menyetujui keyakinan Willy barusan.


Makanan keduanya pun datang. Lintang dan Willy menikmati makan malam mereka. Dinner pertama mereka di luar setelah Lintang melahirkan.


...****************...


Willy membuka passcode apartement. Bau harum menyeruak menusuk hidungnya. Ia menarik tangan istrinya, mengajaknya masuk mengunjungi kamar dan ranjang besar mereka. Lintang berbaring, Willy berada diatasnya.


Lintang mengusap dan membelai rambut tebal hitam suaminya itu. Ia menelusuri mata, hidung bibir dan wajah Willy dengan seksama. Betapa ia mengakui ketampanan Willy yang diatas rata-rata. Wajar bila banyak perempuan yang menggilai suaminya.


Ia bukannya tak tahu, setelah Fiska dan Emilie, ada saja perempuan yang datang mencoba mengusik pertahanan suaminya. Ketika Willy terpaksa harus datang memenuhi undangan salah satu rekan bisnisnya di club malam beberapa wanita mencoba menggodanya. Namun, Willy dengan tegas menolak segala bentuk pendekatan itu. Membuat para penggoda akhirnya menyerah. Ya, Willy sangat dingin pada perempuan lain di luar sana. Kehangatannya hanya untuk Lintang seorang.


"Suamiku, aku takut sekali akan ada banyak perempuan cantik yang menggodamu di luar sana." Desah Lintang.


"Tidak akan ada yang mampu menggoyahkan pertahananku dalam mencintaimu, Lintang." Sahut Willy lembut. Ia merengkuh pinggang Lintang, hingga kini mereka sama-sama duduk diatas ranjang dengan Willy yang selonjoran dan Lintang di atasnya, membuat mereka kian intim.


"Aku percaya padamu, Kak." Lintang melingkarkan tangannya di leher Willy.


"Berikan servis terbaikmu malam ini, sayang. Sebelum kita kembali ke rumah." Willy mengecup bibir Lintang perlahan lalu mulai ********** mesra. Lintang membalas, merengkuh semakin dalam pagutan suaminya. Menekan tubuh moleknya ke tubuh Willy yang sudah candu dibakar gairah.


Lintang memberikan semua yang terbaik dan yang ia bisa pada Willy malam ini. Ia melenguh, mendesah membuat suasana kian panas membara. Tidak puas di ranjang, keduanya beranjak. Willy menggendong tubuh Lintang menuju meja kerjanya di dalam apartement itu. Tubuh polos Lintang terlihat begitu indah dengan kemilau perhiasan di leher, jari juga pergelangan tangannya. Ia jadi semakin menggoda.

__ADS_1


Keduanya saling menghangatkan, memanaskan gairah yang sudah menggebu semakin tinggi dan menyala. Apinya sulit dipadamkan, candu Willy akan istrinya tidak tertahankan. Hanya Lintang yang bisa, membuat Willy jadi tergila-gila, membuat ia bertekuk lutut dalam meraih cintanya.


Pergulatan itu masih terus berlangsung. Dengan hati yang sudah saling tertaut dan bersambung, menjadikan kemesraan mereka tidak pernah mendapat kata bosan. Willy mencintai Lintang dengan seluruh tubuh juga hatinya. Ia menginginkan Lintang demi apapun yang ada di dunia. Bentuk perasaan paling istimewa darinya untuk Lintang, yang tidak akan pernah perempuan lain dapatkan darinya. Cinta yang Sempurna.


__ADS_2