
"Enak?" Tanya Willy saat mereka sedang menikmati makanan yang tadi ia pesan. Lintang mengangguk. "Habiskan ya." Sambungnya lagi. Lintang mengangguk lagi.
Lintang membereskannya setelah mereka selesai. Ia mengambilkan minuman lantas memberinya pada Willy.
"Sayang, aku ada meeting setelah ini. Kau bisa istirahat di sini atau melakukan apapun yang kau mau. Kau bisa menghidupkan televisi, atau memakai laptop untuk membuka internet." Ujar Willy sambil mengenakan lagi jasnya. Lintang berdiri, mendekat ke suaminya, ia meraih dasi lalu memasangkannya lagi. Ia juga bersemu merah, karena Willy tadi memanggilnya sayang.
"Kakak tidak keberatan aku disini?" Tanya Lintang setelah ia selesai merapikan dasi suaminya.
"Aku keberatan kalau kau pergi." Sahut Willy. Lintang tersenyum lalu mengangguk. "Ingat, jangan kemana-mana tanpa seizinku." Lanjut Willy kemudian ia mengecup bibir Lintang sesaat lalu melangkah meninggalkan ruangan kerjanya menuju ruangan meeting.
Lintang menunggu Willy di sofa tempat tadi ia dan lelaki itu memadu kasih. Ia membaca majalah dan sesekali membalas pesan dari Sela. Saat ia sedang asyik membalas pesan, pintu ruangan terbuka. Lintang tersentak menemukan seorang perempuan sedang berdiri di depan pintu lalu berjalan mendekati Lintang. Lintang mengenalinya sebagai Fiska, perempuan seksi mantan kekasih suaminya dahulu.
"Hai, aku sengaja datang ke sini tadinya ingin bertemu Willy tapi ternyata aku malah bertemu istrinya." Kata Fiska tajam. Ia menatap Lintang dari atas sampai bawah. " Kau tidak mempersilahkan aku duduk, Nyonya William?" Ujar perempuan itu lagi membuat Lintang tersadar.
"Eh, iya Kak, silahkan duduk." Ujar Lintang gugup, akhirnya mempersilahkan Fiska duduk di sofa seberang tepat di depannya.
"Aku senang sekali bisa bertemu istri dari mantan kekasihku. Oh iya berapa usiamu?" Tanya Fiska dengan anggun namun Lintang menyadari ada nada permusuhan dari gadis itu untuknya.
"20 tahun Kak, baru masuk 21." Sahut Lintang sambil tersenyum, ia berusaha menguasai keadaan.
__ADS_1
"Kau begitu percaya Willy akan mencintaimu." Ujar Fiska lagi, kali ini ia langsung saja berbicara tanpa basa basi lagi.
"Iya Kak." Lintang mencoba mengeluarkan keberaniannya. Fiska tertawa mendengarnya.
"Kau yakin sekali." Fiska kembali menekannya. Lintang menatap Fiska, kali ini ia terlihat lebih menantang perempuan di depannya itu.
"Tentu saja aku yakin Kak, aku istrinya." Entah keberanian dari mana saat Lintang mengatakan itu.
"Dulu, Willy juga begitu saat kami masih berpacaran, ia mengatakan mencintaiku juga." Fiska kembali menekan Lintang dalam kata-katanya.
"Itukan dulu Kak, sekarang Kak Willy tidak hidup di masa lalu lagi." Ujar Lintang semakin berani. Senyum Fiska tiba-tiba hilang, ia menatap Lintang tajam. Tidak menyangka gadis itu akan menantangnya.
"Kakak datang tiba-tiba ke sini, tanpa permisi menerobos masuk. Kakak lah yang meminta aku menantang mu." Ujar Lintang semakin berani. Ia seolah mendapat kekuatan saat mengatakan itu.
"Kau bisa apa? gadis kampung." Balas Fiska lagi. Lintang tersenyum menanggapinya.
"Aku lebih bisa menghargai orang lain Kak. Gadis kampung sepertiku tidak pernah berniat mengacaukan rumah tangga oranglain hanya karena masa lalu." Balas Lintang tajam, tepat sekali menikam hati Fiska yang paling dalam.
Fiska menoleh menatap tajam Lintang yang juga nampak tak gentar menghadapinya. Ia tersenyum sinis, merasa masih di atas angin. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop besar berwarna cokelat. Fiska melemparkannya pada Lintang.
__ADS_1
"Lihatlah, apa kau masih bisa dengan percaya diri dan yakin bahwa Willy mencintaimu." Fiska berkata sambil berdiri, lalu memakai kacamata hitamnya dan melenggang melangkah puas menuju keluar ruangan, meninggalkan Lintang yang masih tertegun dengan benda di tangannya yang belum ia buka dan lihat isinya.
...****************...
Fiska sedang berada di dalam lift setelah ia keluar dari ruangan Willy dengan Lintang di dalamnya. Tadinya, sebelum ia datang, ia memang berencana untuk menemui Willy di perusahaan itu. Ia ingin mengancam Willy dengan bukti yang ia punya. Ia juga menerobos masuk ke dalam ruangan setelah sempat berdebat panjang dengan sekretaris dan beberapa pegawai di luar ruangan Willy tadinya namun ia berhasil menerobos masuk dan terkejut karena di dalamnya ada Lintang.
Rencananya seketika berubah, ia merasa ini jauh lebih baik dari rencana sebelumnya. Ia menemukan sasaran yang sebenarnya. Dan saat ini ia tertawa membayangkan betapa hancurnya hati istri dari lelaki yang digilai nya itu.
Di dalam ruangan tadi, Lintang memberanikan diri membuka amplop cokelat itu. Matanya terbelalak saat melihat isi dari benda yang tadi ia buka. Lintang merasa panas di sekitar matanya. Airmata nya kembali mengalir. Baru saja ia merasa dicintai suaminya namun kini ia harus melihat pemandangan yang menghancurkan semua rasa percayanya. Foto-foto Willy ketika menjemput Emilie di depan sebuah swalayan juga poto saat Willy dan Emilie memasuki apartement perempuan itu.
Terjawab sudah pertanyaannya selama ini yang tidak pernah dijawab oleh Willy, tentang keberadaannya malam itu. Tentang kebohongannya malam itu. Lintang menangis tersedu-sedu. Ia meninggalkan ruangan dan juga Foto-foto itu yang sebelumnya telah ia masukkan lagi ke dalam amplop dengan rapi. Ditinggalkan ruangan itu dengan airmata yang mengucur. Lintang tidak peduli dengan larangan Willy yang tidak mengizinkannya kemana-mana tanpa izinnya.
Lintang turun, menghentikan taksi yang segera membawanya meninggalkan tempat itu. Di dalam taksi, Lintang membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Keningnya terasa terantuk kaca jendela. Ia tidak lagi menangis, hanya menatap kosong pemandangan sekitarnya.
Lintang tidak akan pulang ke apartement. Ia memilih pergi ke tempat lain. Lintang menghubungi seseorang karena tidak tahu lagi harus menghubungi siapa. Ia tidak ingin bertemu Willy lagi. Ia tidak ingin mempercayai lagi apa yang di katakan lelaki itu. Bulshit. Omong kosong. Cinta palsu. Lintang mengutuknya dalam hati.
Sementara di dalam mobilnya sendiri, Fiska tertawa. Ia senang rencananya berhasil. Tadi ia memang menunggu sampai Lintang keluar dari tempat itu dari dalam mobilnya. Ia melihat Lintang memang keluar dengan tangis yang pecah. Fiska ingat saat dulu ia mengambil foto itu setelah mobil Willy melaju dengan seorang perempuan ia juga menyuruh salah satu orangnya untuk mengikuti kemana mereka akan pergi. Dan akhirnya ia mendapat hasil yang sepadan. Ia bisa membalaskan dendamnya pada Willy juga Lintang.
Fiska tertawa, membayangkan betapa hancurnya Lintang sekarang namun di detik berikutnya airmatanya juga turun. Ia menangis, betapa menyedihkannya dirinya sekarang. Ia menggilai lelaki yang mencintai perempuan lain. Ia sanggup berbuat hal buruk seperti itu pada perempuan lain. Fiska juga menangisi keadaannya, karena kini ia benar-benar telah hancur. Keluarganya telah lama bangkrut, namun gaya hidupnya yang glamour tidak bisa ia hilangkan. Ia kini tidak lebih dari perempuan panggilan. Setiap malam ia akan keluar atau pergi ke tempat dimana ia akan melayani pria-pria kaya yang banyak dari kalangan para pejabat.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu hidupnya yang kelam itu. Sampai akhirnya ia kembali bertemu Willy dan berharap bisa kembali bersama lelaki itu untuk terlepas dari kehidupannya yang sudah ambur adul. Namun, lelaki itu menolaknya dan ia sakit hati sekali. Ia tidak bisa menerima kenyataan Willy tak lagi mencintainya.