
Willy dan Lintang telah masuk ke ruang check up. Dokter Hilman memerintahkan asistennya yang adalah seorang perawat senior untuk mengecek tanda-tanda vital juga tekanan darah Lintang. Lintang telah berbaring, ia mengikuti semua aba-aba yang diberikan perawat. Willy sendiri duduk menunggu di sofa tak jauh dari tempat Lintang sedang diperiksa.
Lalu Dokter Hilman mulai memeriksa Lintang. Ia menggunakan stetoskop mengecek keadaan perempuan itu. Lalu ia mulai sedikit melakukan penekanan pada bagian perutnya. Lintang meringis sesaat.
"Apa pernah ada bercak darah selama kau mengalami nyeri ini?" Tanya Dokter Hilman.
"Iya Dok, kemarin ada tapi sedikit." Jawab Lintang sembari mengingat.
Dokter Hilman tersenyum membuat Willy tidak sabar. Ia sedang khawatir setengah mati tapi dokter kepercayaan keluarganya itu malah senyum-senyum saja.
"Jadi bagaimana, Dok?" Tanya Willy tidak sabaran. Dokter Hilman lagi-lagi hanya tersenyum membuat Willy gemas saja.
"Ikutlah denganku, kita bicara di ruangan ku." Dokter Hilman mengajak Willy ke ruangannya yang juga ada di dalam ruang pemeriksaan namun karena pintunya yang tertutup, Lintang sama sekali tidak bisa mendengar isi pembicaraan mereka. Tidak lama kemudian, Willy keluar, wajahnya tidak bisa ditebak. Antara tegang, senang dan bingung menjadi satu.
" Lin, ayo keluar ikut aku." Willy mendekati Lintang yang masih bingung dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba berubah itu.
Lintang mengikuti langkah kaki suaminya. Ia berusaha mensejajarkan langkah. Mereka belum akan pulang, Willy membawa Lintang ke sebuah ruangan khusus untuk memeriksa kandungan. Tadi di dalam ruangan dokter Hilman, Willy dibuat terperangah dengan prediksi dari dokter muda langganan keluarga besarnya itu.
"Santai Will, kau tidak perlu khawatir. Istrimu baik-baik saja." Ujar Hilman ia tertawa kecil.
"Baik-baik apanya, katamu istriku sakit perut lalu ada bercak darah. Bagaimana aku bisa tenang." Ujar Willy tidak mengerti.
"Kau akan segera menjadi ayah." Sahut dokter Hilman. Willy tertegun menghentikan kalimatnya seketika. "Istrimu hamil." Sambung dokter Hilman lagi.
__ADS_1
"Kau tidak bercanda?" Tanya Willy berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Bawa istrimu sekarang ke bagian kandungan. Periksalah di sana kalau kau tidak yakin." Dokter Hilman berkata lagi masih dengan senyumnya. Willy keluar dari ruangan itu, ia tersenyum, kaget, bingung di saat yang bersamaan.
Dan kini mereka ada di ruangan khusus untuk memeriksakan kehamilan. Lintang nampaknya sudah bisa menebak apa telah terjadi padanya kini. Dan satu kalimat dari dokter perempuan itu akhirnya menguatkan semua dugaan itu.
"Selamat Nona, Anda sedang mengandung. Usianya dua minggu. Selamat Tuan, anda akan segera menjadi ayah." Ujar Dokter itu sambil tersenyum kepada dua orang yang masih terdiam dan saling pandang itu. Sampai akhirnya, Willy memecah ketersimaan mereka berdua.
"Lin, kau hamil. Kau mengandung anakku." Seru Willy tanpa di duga. Ia memeluk Lintang erat, di depan dokter yang juga ikut merasakan bahagia pasangan di depannya itu.
"Iya Kak, aku hamil. Ini benih mu." Tak terasa airmatanya mengalir. Lintang merasa sangat haru. Ia tidak bisa membayangkan akan bagaimana bahagianya kedua mertua jika mendengar berita tentang kehamilannya saat ini.
Willy menggendong Lintang di sepanjang koridor rumah sakit. Ia tak hentinya mencium istrinya itu. Mereka menjadi pusat perhatian di mana-mana. Willy meletakkan Lintang hati-hati di setelah mereka sampai di mobil. Tak hentinya juga ia menatap Lintang lalu sesekali ia akan menjulurkan tangannya mengusap perut Lintang yang masih nampak rata.
"Kak, Kakak senang?" Tanya Lintang.
" Tentu saja sayang, aku sangat bahagia." Sahut Willy, ia tidak sabar lagi ingin segera sampai ke apartement mereka.
"Lintang akan menjaga anak kita." Timpal Lintang sambil tersenyum haru.
"Aku akan menjaga kau dan anak kita." Sahut Willy, Lintang tidak kuasa menahan rasa bahagianya.
Mereka telah memasuki besment apartemen. Willy membukakan pintu mobil untuk istrinya. Ia juga tidak melepas genggaman tangannya sedikit pun pada tangan istrinya. Sepanjang jalan menuju Lift dan apartement ia menggandeng Lintang seolah takut akan kehilangan Lintang dan juga manusia baru yang mulai terbentuk di rahim istrinya.
__ADS_1
Willy tidak pernah merasa sebahagia ini. Ia akan segera menjadi seorang ayah. Rumahnya akan ramai oleh celoteh anak kesayangannya. Willy menerawang, memohon kepada Tuhan agar memberinya umur panjang. Ia ingin selalu berada di dekat Lintang selama-lamanya berharap bisa tua bersama tanpa terpisah.
Mereka memasuki apartement, Willy menggendong Lintang. Ia mencium bibir istrinya mesra. Juga menahan bobot tubuhnya agar tidak menimpa perut istrinya tempat ternyaman dimana benih nya kini bersemayam. Lintang juga membalas, ia merasa dicintai. Lintang merasa di sayang. Willy benar mencintainya. Willy benar telah menerima kehadirannya.
"Kak.." Panggil Lintang lirih saat Willy sedang ******* bibirnya.
"Ya.." Sahut Willy.
"Aku mencintaimu." Bisik Lintang di telinga suaminya.
"Aku lebih mencintaimu." Balas Willy lalu ia tenggelam dalam perasaan nyaman bersama Lintang. Mereka kembali memadu kasih, saling membisikkan kata-kata mesra. Lintang merasa sejuk di hatinya. Willy merasakan hal yang sama.
Kakek, terima kasih. Berkat Kakek aku bisa memiliki Lintang. Aku mendapatkan istri yang patuh, juga mencintaiku. Maaf aku telah sempat mengecewakanmu karena perlakuan buruk ku padanya waktu itu. Kini aku sadar mengapa seluruh keluarga kita menyayanginya. Aku pun kini menggilainya Kek, aku tak bisa jauh. Pergi sebentar saja rasanya sudah rindu. Kini, ia tengah mengandung anakku Kek. Penerus keluarga kita akan segera lahir. Aku mencintainya Kek, aku cinta dia.
Willy bergumam dalam hatinya. Mensyukuri semua nikmat yang ia dapat sampai hari ini. Juga atas semua kesempatan berharga baginya dalam meraih cinta Lintang. Willy jadi tidak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini kepada Ibunya juga kepada seluruh keluarga besarnya.
Ia akan mengadakan jamuan makan malam lagi nanti setelah hari ini untuk memberi dan berbagi kebahagiaan kepada keluarga besarnya yang lain.
"Kak.." Lintang memanggil Willy lagi. Willy mengangkat kepalanya dari dada istrinya itu.
"Iya sayang." Sahutnya.
"Bolehkah Lintang berbagi pada anak yatim di panti asuhan nantinya." Tanya Lintang takut-takut. Willy naik, meraih Lintang lagi dalam kecupan panjang.
__ADS_1
"Lakukanlah sayang. Semua yang baik, yang menurutmu bermanfaat, lakukanlah istriku." Jawab Willy sambil tersenyum hangat pada istrinya itu. Lintang bagai di siram air sejuk mendengar semua jawaban dari suaminya itu. Lintang membenamkan diri bersama Willy. Keduanya saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan menghendaki, kau yang tadinya benci setengah mati akan dibuat mencintai dia yang telah mengusahakan semua kebaikan bagimu dalam segala daya upaya.