Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
46. Kau dimana?


__ADS_3

Lintang termenung di sebuah kursi teras villa. Tempat ini sunyi, tidak ada rumah penduduk, cukup jauh dari pusat kota. Tempat yang pas untuk menenangkan diri. Sudah lama Zacky tidak mengunjungi tempat ini. Namun, Villa ini bersih, setiap hari akan ada tukang kebun dan orang yang akan datang membersihkan halaman juga isinya.


"Makan yuk Lin, gue beliin ini tadi." Zacky menghampiri Lintang dengan menenteng sebuah plastik berisi makanan. Lintang mengangguk sambil mengulas senyum. Mereka masuk ke dalam menuju meja makan.


"Kak Zacky makasih ya. Aku gak tau lagi tadi harus telepon siapa." Ujar Lintang sambil menuangkan makanan yang tadi Zacky beli ke piring untuk mereka berdua.


"Lo hubungin orang yang tepat kok, Lin." Sahut Zacky.


"Wah Kak Zacky tau aja Lintang suka nasi goreng." Ujar Lintang lagi saat ia melihat isi bungkusan dari plastik yang diberikan oleh Zacky. Zacky tersenyum, ia takjub pada Lintang, meski ia sedang bersedih namun, gadis itu masih bisa menguasai diri dan tetap terlihat riang.


"Makan yang banyak ya, Lin." Ujar Zacky lagi. Mereka mulai asyik memakan makanan mereka.


"Iya Kak, Kakak juga ya. Kegiatan Kak Zacky kan banyak, jadi harus tetap sehat." Sahut Lintang menimpali. Zacky mengangguk.


Zacky menatap Lintang yang sedang lahap dengan makanannya, Ia juga senang melihat Lintang yang mulai ceria lagi. Zacky juga tidak tega kalau harus membiarkan Lintang sendirian di Villa yang sepi ini. Jadi ia memutuskan untuk tidak masuk kantor untuk beberapa hari dan akan terus menemani Lintang.


"Kak, Kakak pulang aja. Gak papa kok Lintang sendiri di sini." ujar Lintang sambil setelah selesai dengan makanannya.


"Gak Lin, gue disini aja. Gue gak mau ninggalin lo sendiri." Sahut Zacky setelah ia selesai meminum air putih.


"Berarti, Kakak gak masuk kerja dong." Kata Lintang, ia menunduk sedih, karena dirinya Zacky jadi repot begini.


"Gak papa kok Lin, gak usah dipikirin ya. Gue juga udah lama banget gak istirahat dari kantor. Kadang butuh juga istirahat." Sahut Zacky berusaha menenangkan Lintang yang sudah tidak enak hati.


"Makasih banyak ya Kak, Lintang sering banget bikin Kak Zacky repot."


"Duh.. dia nih. Gak papa, gue senang bisa nemenin lo. Udah jangan di pikirin ya." Zacky berkata sambil mengacak-acak lembut rambut Lintang. Gadis itu akhirnya menyunggingkan sebuah senyum.

__ADS_1


"Ntar lo tidur di kamar depan aja ya, gue tidur di sofa di depan kamar lo." Ujar Zacky lagi sambil menunjuk kamar yang tak jauh dari mereka saat ini.


"Lintang aja Kak yang di sofa." Sahut Lintang, ia benar-benar tidak ingin merepotkan Lelaki itu lebih banyak lagi.


"Jangan Lin, lo di kamar aja ya, ada film favorit gue juga, gue pengen nonton. Lo tidur di dalem ya." Balas Zacky. Akhirnya Lintang mengangguk juga.


"Makasih ya Kak." Ujar Lintang lagi, ia terharu akan kebaikan lelaki itu.


"Stok makasih lo tu kayaknya banyak banget deh, Lin." Zacky berkata sambil terkekeh. Lintang membalasnya dengan tertawa kecil.


Malam itu, Lintang akhirnya tidur di Villa, entah akan sampai kapan ia bersembunyi dari suaminya. Lintang masih kecewa pada kenyataan yang ia lihat di foto-foto siang tadi. Kalau teringat itu, airmatanya pasti menetes lagi. Lintang jadi membayangkan apa yang telah terjadi malam itu antara Emilie dan Willy.


Lintang terisak lagi, menangis lagi hingga akhirnya ia tertidur pulas. Ponselnya ia tetap biarkan mati. Ia juga telah mencabut sim card. Zacky mendengar tangisan lirih gadis itu barusan dari dalam kamar. Ia membuka pintu yang tidak terkunci, melihat Lintang yang tertidur dengan airmata yang masih berbekas di pipi. Sakit hati Zacky melihatnya.


Zacky menutup kembali pintu kamar itu sementara ia sendiri berbaring di sofa tepat di depan kamar. Tatapannya menerawang jauh, memikirkan perempuan yang sedang menangisi lelaki lain.


...****************...


Di kamarnya di apartement, Willy berbaring. Tadi ia sudah ke rumah Sela, lewat asistennya yang bekerja keras mencari alamat sahabat karib istrinya itu. Namun, ia menelan kekecewaan saat mengetahui kenyataan, Lintang tidak ada di sana. Sela pun terkejut dan juga berusaha menghubungi Lintang namun tetap tidak bisa. Gadis itu juga ikut cemas akhirnya.


Willy tidak bisa tidur, ia gusar sekali. Ia mondar mandir, turun dari kasur sudah beberapa kali pula. Ia tidak tahu dimana istrinya saat ini. Willy tahu istrinya tidak punya siapa-siapa lagi, jadi ia berpikir sangat keras kemana kiranya Lintang pergi.


"Lin kau dimana? aku sangat mencemaskanmu." Hati kecilnya berbisik lirih.


Sebuah telepon membuyarkan lamunan gusarnya. Willy segera mengangkat, dari asistennya.


"Tuan, sudah banyak informasi yang kami dapatkan tentang Nona Fiska. Dan sekarang dia sedang berada di club malam bersama salah satu kolega perusahaan kita." Ujar Setya di telepon.

__ADS_1


"Pergi ke sana sekarang, tahan dia. Tunggu aku datang." Perintahnya pada Setya.


"Baik Tuan."


Sambungan telepon terputus. Willy meraih jaket kulit hitamnya. Ia bergegas menuju tempat dimana ia akan membuat perhitungan pada gadis itu.


Beberapa saat kemudian Willy telah datang. Semua penjaga club malam menunduk hormat padanya. Willy masuk ke dalam salah satu room karaoke. Ia melihat Fiska sedang di introgasi oleh salah satu orangnya. Perempuan itu nampak ketakutan sekali. Sementara kolega yang mengenal Willy langsung menunduk hormat pada lelaki itu.


Fiska beringsut menuju Willy, ia sudah sumringah karena Willy datang pasti ingin menyelamatkannya juga pasti Willy dan Lintang sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Ia mendekati Willy dan langsung memeluk lelaki itu. Willy menyentaknya keras, membuat gadis itu jadi terhuyung ke belakang.


"Lepaskan tangan mu dari ku."


"Will, aku tahu kau pasti.."


"Kau tahu, aku sudah muak dengan semua tingkah bodoh mu itu. Kau perempuan tidak tahu malu!" Ujar Willy setengah berteriak. Fiska tertunduk, ia benar-benar takut melihat kemarahan lelaki itu.


"Tapi Will aku melakukannya karena aku masih mencintaimu." Fiska berusaha membela dirinya sendiri.


"Aku tidak mencintaimu. Beraninya kau membuat istriku pergi!" Willy murka, ia membanting microphon yang ada di atas meja. Fiska gemetaran melihatnya.


"Dia tidak pantas denganmu Will." Balas Fiska dengan airmata yang sudah jatuh. Willy menatap gadis itu tajam.


"Kau pikir kau pantas? perempuan murahan. Kau pikir aku tidak tahu kau menjual dirimu pada setiap lelaki kaya? tubuhmu ini, apa pantas bersanding denganku?" Ujar Willy sambil menunjuk Fiska. Fiska terdiam. Ia tidak menyangka Willy mengetahui pekerjaannya saat ini. Ia tertunduk. Malu. Takut.


"Will.."


"Sekali lagi kau berani mengusik Lintang, ingat foto telanjang mu bersama pria-pria itu akan segera tersebar luas dimana-mana." Ujar Willy telak. Fiska tidak berani lagi menjawab apa pun. Ia terdiam seribu bahasa. Tidak lagi memiliki muka untuk menghadapi dunia.

__ADS_1


Fiska bungkam bahkan sampai Willy dan para bawahan serta orang suruhannya telah berlalu dari ruangan itu.


__ADS_2