
"Sayang, aku pulang terlambat ya nanti." Willy menelpon Lintang yang tengah menonton televisi saat itu.
"Hmmm, apa ada meeting lagi, Kak?" Tanya Lintang, ia sangat ingin berada di dekat suaminya. Sedari tadi ia menanti kepulangan suaminya itu.
"Iya sayangku, meeting kali ini penting sekali."
"Iya, Kak. Baiklah." Lintang berusaha memaklumi suaminya.
"Sayang jangan bersedih ya. Aku akan segera pulang setelah semua selesai." Willy menenangkan istrinya.
"Iya, Kak. Jangan lupa makan ya." Simpel, tapi membuat Willy tersenyum.
"Kau juga, sayang."
Lintang kemudian mematikan sambungan telepon. Ia melihat ke jam dinding yang bergerak terasa sangat lambat. Lintang ingin berada di dekat Willy selalu, mungkin bawaan hamil ia jadi sedikit manja.
Di tempat lain, Willy sibuk menghubungi Ibunya dan juga pihak jasa dekorasi. Hari ini, Lintang berulang tahun. Ia sengaja berpura-pura tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada istrinya itu. Keterlambatan Willy juga sengaja, ia sedang tidak ada kesibukan apapun di kantor. Ia sengaja terlambat untuk mempersiapkan kejutan ulang tahun tanpa sepengetahuan istrinya itu.
Sementara di apartement, Lintang sedih Willy tidak mengucapkan apapun padanya. Ia sempat menangis sesaat. Begitu pun Miranti, Ibu Mertuanya itu seakan lupa juga pada ulangtahunnya, padahal dulu Miranti selalu rutin mengucapkan ulang tahun padanya bahkan kerap memberinya hadiah.
Namun Lintang tidak mau berpikir macam-macam, lagi pula kebahagiaan yang telah ia dapat sekarang lebih dari sekedar ucapan ulang tahun. Lintang membuka ponselnya, ah Sela juga nampaknya lupa dengan hari ulang tahun sahabatnya itu.
Lintang mengerucutkan bibirnya. Lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia ingin tampil cantik saat Willy pulang nanti. Saat ia telah selesai mandi, Lintang mendengar suara bel apartemennya berbunyi. Lintang membuka pintu dan melihat Ibu Mertuanya berdiri di sana dan segera mengajaknya masuk.
__ADS_1
"Lin, temani mama yuk. Mama pengen banget ke salon." Ujar Miranti sambil mendaratkan tubuhnya di sofa. Lintang mengangguk cepat.
"Iya Ma, Lintang ganti baju dulu ya."
Miranti mengangguk menyunggingkan senyum pada menantunya yang rambutnya masih dililit handuk itu. Tidak lama kemudian, Lintang telah rapi dengan dress bermotif bunga-bunga berwarna hitam kombinasi merahnya.
Bersama mereka melangkah keluar apartement lalu menuju lift dan juga mobil di mana kendaraan itu telah terparkir rapi. Ada mang Ujang di dalamnya yang segera membukakan pintu mobil saat melihat kedua majikannya itu.
"Lin, nanti temani mama ya ke pesta teman mama, mama udah pesan gaun cantik buat kamu." Kata Miranti, ia menoleh pada menantu cantiknya.
"Tapi, Lintang belum minta izin Kak Willy, Lintang telepon dulu ya, Ma." Sahut Lintang sambil membuka tasnya dan meraih ponsel namun Ibu Mertua nya menahan.
"Gak usah Lin, mama tadi udah telepon suamimu kok. Dia udah tau." Balas Miranti membuat Lintang kembali menyimpan ponselnya.
"Buat ia secantik mungkin ya." Katanya pada pelayan salon.
Lintang merasakan tubuhnya di pijat kemudian wajahnya mulai dihias. Ia dihias natural namun tetap terlihat elegan. Mertuanya sendiri dihias oleh pelayan profesional yang lain.
Setelah merias wajahnya, Lintang diminta untuk berganti baju. Di dalam ruangan itu, ia dibantu dua pekerja salon memakai dress putih panjang semata kaki dengan bahu terbuka. Ada hiasan berkilauan diantara gaunnya. Nampak cantik sekali melihatnya. Rambut Lintang kembali di buat ikal di setiap sisi di atas telinga dekat dengan pinggir pelipisnya dijepit sementara anak rambutnya terjuntai di setiap sisi pipinya.
Miranti tersenyum puas melihat menantunya. Ia tampak cantik sekali. Willy pasti akan sangat senang melihatnya. Miranti sendiri memakai gaun putih juga namun lebih simpel tapi tetap terlihat anggun. Rambutnya digelung, membuat Ibu Mertuanya itu nampak muda.
"Kau sudah siap? Kita berangkat ya." Ujar Miranti sambil menggandeng Lintang. Mereka masuk ke dalam mobil dan menuju tempat acara.
__ADS_1
...****************...
Lintang bingung saat mobil malah berbalik lalu menuju ke rumah induk. Ia melihat tempat itu tampak biasa, pintu utama tertutup.
"Ayo Lin, mama lupa kadonya ketinggalan di dalam." Ajak Ibu Mertuanya. Lintang menurut saja. Ia mengikuti langkahnya perlahan.
Mereka mulai memasuki rumah, keadaan sekitar cukup gelap, hanya ada lampu kecil yang dihidupkan memberi mereka cahaya untuk masuk dan berjalan. Namun, saat ia masuk ke ruang tengah yang besar dan megah itu tiba-tiba terdengar alunan piano. Merdu sekali. Lalu seseorang dari depannya berjalan membawa kue ulang tahun berhiaskan lilin.
Lintang menutup mulutnya, itu suaminya. Willy sedang menuju dirinya dengan kue juga lilin yang menyala. Willy juga memakai kemeja putih. Ia gagah dan tampan sekali. Lintang menoleh kesekeliling nya, ia tidak lagi menemukan Ibu Mertuanya yang entah telah berada di mana kini.
"Selamat Ulang Tahun, Istriku Lintang." Willy telah sampai di depannya, ia mengecup kening Lintang lalu menatap istrinya yang telah berurai airmata haru. Lalu lampu dihidupkan, Lintang terperangah. Keluarga besar telah hadir semua. Dan senyumnya kembali merekah, ada Sela diantara mereka. Semua orang memakai baju putih. Karena Lintang suka warna itu, Willy sengaja mengatur dress code nya jadi putih semua. Hiasan dekorasi bernuansa black gold. Kue ulang tahun besar ada di sisi meja.
Lintang tidak bisa menahan harunya, ia melihat Zacky tengah memainkan piano, dengan kemeja putih juga rambutnya ia kuncir karena rambutnya yang telah gondrong. Ia tampak tampan. Kharismanya keluar seiring denting piano yang ia mainkan.
"Kak, terima kasih ya. Aku kira kakak lupa." Ujar Lintang sambil menyeka airmatanya. Mereka kini jadi pusat perhatian. Mereka berada ditengah-tengah para keluarga besar yang memandang.
"Aku tidak mungkin lupa, sayang. Maaf tadi telah membohongimu tentang keterlambatan ku." Willy mengecup pelipis Lintang lembut. Miranti dan Ricky memandang mereka penuh haru. Ia bahagia, keinginan Kakek Franky kini telah tercapai. Beliau pasti telah tenang.
Sela juga menyeka airmatanya, ia memandang Lintang haru. Sela bahagia Lintang telah berdamai dengan cintanya. Ia berharap suatu saat ia pun akan mendapatkan suami yang baik seperti apa yang di dapatkan sahabatnya.
Sementara di depan piano, Zacky juga tersenyum menatap kedua orang itu telah bahagia. Ia telah merelakan Lintang karena Lintang pun telah menyerahkan hatinya sempurna hanya untuk Willy seorang. Zacky menatap Sela yang tersenyum juga menatapnya. Ia ingat dia adalah sahabat Lintang yang bertemu saat di kafe dulu.
"Ayo tiup lilinnya. Setelah itu kita rayakan hari ulang tahunmu ini bersama keluarga besar." Willy mendekatkan kue yang ia bawa lalu Lintang memadamkan apinya dengan satu tiupan saja. Ia bahagia sekali malam ini. Bahagianya sempurna diusianya yang kini telah 21 tahun.
__ADS_1