Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
55. Siluet


__ADS_3

Lintang menatap terpaku pada batu nisan yang telah terukir nama ibunya. Ia meletakkan kepalanya di sana, mengusapnya perlahan, berusaha merasakan kehadiran Ibu. Selendang hitam yang menutupi rambutnya bergerak perlahan tertiup angin. Wangi harum kamboja tercium terbawa semilir angin.


"Bu.. Maaf lama sekali Lintang tidak mengunjungi ibu. Ibu tenang ya di sana, Lintang sudah bahagia di sini, Bu." Lintang menghentikan kata-katanya sesaat, ia menghapus air matanya.


"Bu, lihatlah.. kau akan segera memiliki cucu. Aku sudah mengandung, benih ini dari lelaki yang sangat aku cintai." Lanjut Lintang lagi. Ia berhenti lagi, berusaha menahan semua perasaan dan juga suara yang tercekat.


Di belakangnya, Willy ikut berlutut, setengah berjongkok ia meraih Lintang ke dalam rengkuhannya. Willy tidak mengenal Ibu Mertuanya yang telah lama pergi, namun ia sangat bersyukur karena wanita itu lah ia bisa memiliki Lintang. Ia juga mengucapkan terima kasih berulang kali karena telah menghadirkan Lintang yang kini menjadi istrinya.


Suasana sore itu syahdu. Lintang tidak pernah merasa setenang ini. Mungkin karena tidak ada lagi rasa was-was. Ia menjalani hidupnya yang penuh bahagia. Mereka kemudian berjalan meninggalkan pemakaman setelah sebelumnya saling memanjatkan doa untuk ketenangan Ibu.


"Kau lega?" Tanya Willy saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Iya Kak, terima kasih sudah menemaniku." Sahut Lintang, Willy memeluk istrinya. Kali ini Willy tidak menyetir sendiri, mereka diantar oleh supir keluarga besarnya.


Hari ini mereka masih menginap di rumah mungil. Besok mereka akan kembali ke apartement selepas Lintang pulang dari kuliahnya.


Saat mereka telah sampai, Lintang segera mengganti bajunya ia membersihkan diri juga di kamar mandi. Willy pun melakukan hal yang sama. Lalu setelah mereka sudah bersantai, Lintang mengeluarkan sebuah album lama. Foto-foto keluarganya juga banyak fotonya saat ia dari bayi hingga remaja. Willy sumringah, ia semangat melihatnya. Jadilah mereka kini asik melihat foto-foto itu.


"Ini kau saat masih bayi?" Tunjuk Willy pada foto bayi putih gemuk yang sedang tengkurap. Lintang mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kalau ini waktu aku berumur lima tahun." Tunjuk Lintang pada foto dirinya yang sedang menari. Willy tersenyum senang bisa melihat masa kecil Lintang meski hanya lewat foto saja.


"Kalau anak kita nanti perempuan, dia pasti cantik sepertimu." Ujar Willy lalu ia mencium kening istrinya.


"Dan kalau ia laki-laki pasti ia tampan seperti ayahnya." Sahut Lintang, Kemudian ia menyerahkan album itu pada Willy.


"Kau mau kemana?" Tanya Willy karena Lintang kini telah berdiri di depannya.


"Coba Kakak lihat foto itu." Lintang menunjuk fotonya yang berusia Enam belas tahun. Tampak Lintang remaja sedang menari di atas pentas dalam foto itu.


"Kau bisa menari?" Tanya Willy antusias. Lintang mengangguk.


"Ya... dulu aku pernah menekuni seni tari balet ini bertahun-tahun. Aku juga sering menari di dalam rumah ini jika sedang tidak ada kegiatan." Lintang menjawab sambil tersenyum lagi. "Kakak ingin melihatnya?" Tanya Lintang kemudian. Awalnya, Willy mengangguk namun kemudian ia menggeleng.


"Aku akan melakukannya dengan pelan dan lembut, Kak." Ujarnya kemudian ia mulai memutar musik. Suara alunan musik merdu, lembut mulai terdengar. Lintang menggerakkan tubuhnya dengan gemulai, meliuk mengikuti alunan musik yang mengalir dengan lembut. Sinar mentari senja yang masuk lewat celah jendela membuat Lintang nampak memukau. Tubuhnya membentuk dengan sempurna menyatu bersama siluet sinar senja.


Matanya yang sendu, menatap Willy berulangkali di tengah gerakannya yang membius Willy dalam kekaguman. Willy berjalan, mendekati istrinya lalu merengkuh pinggangnya. Ia membuat Lintang menghentikan tariannya. Di antara siluet sinar ia meraih Lintang dalam ciumannya yang mesra. Lintang melingkarkan tangannya, meremas rambut Willy lembut dan penuh perasaan. Alunan musik yang mengalun lembut mengiringi ciuman mereka yang panjang.


...****************...

__ADS_1


Willy baru saja selesai membersihkan tubuhnya saat pagi menjelang. Lintang telah selesai juga membereskan perlengkapan kuliahnya. Pagi ini Lintang telah muntah beberapa kali. Namun, ia tetap ingin pergi kuliah. Dari yang ia dengar di trimester awal kehamilan ia memang akan sangat akrab dengan keadaan seperti ini. Namun, Lintang tidak pernah mempermasalahkannya. Ia menjalani hari dengan tetap gembira selama Willy tetap di sampingnya.


Namun, Willy malah jadi cepat panik. Sebentar-sebentar akan membujuknya untuk pergi ke rumah sakit. Setelah Lintang meyakinkannya dengan sungguh dan juga berulang-ulang barulah ia mengerti.


"Apa tidak ambil cuti kuliah dulu saja?" Ujar Willy saat mereka telah sampai di halaman kampus.


"Tidak apa sayang. Lintang baik-baik saja sampai sekarang. Nanti kalau usia kehamilannya sudah memasuki lima bulan biasanya akan hilang sendiri." Sahut Lintang sambil tersenyum, ia berusaha menenangkan suaminya.


"Lima bulan? lama sekali, kau akan terus seperti ini selama menuju lima bulan ke depan?" Tanya Willy terbelalak. Ia jadi tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya istrinya itu.


"Tidak apa Kak, aku akan tetap menjaga bayi kita. Jangan khawatir ya." Balas Lintang. Willy akhirnya mengangguk pasrah. Ia tidak akan meninggalkan Lintang dan akan tetap mendampinginya kemana pun. Kepergiannya ke Bandung Utara Minggu depan juga ia pastikan akan membawa Lintang bersama dirinya.


Willy membuka pintu mobil untuk istrinya itu lalu mengantarnya sampai ke depan kelas seperti biasa. Ia melepas Lintang sampai istrinya benar-benar telah masuk ke dalam kelas.


Willy melenggang meninggalkan kampus menuju perusahaannya sendiri. Hari ini ia akan sangat sibuk, karena banyaknya jadwal meeting juga ia akan mengunjungi beberapa cabang perusahaan untuk melihat perkembangan perusahaan di sana. Namun, ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk berbalas pesan juga sesekali akan melakukan video call dengan istrinya.


Willy ingin yang baik-baik saja pada istrinya itu. Ia ingin Lintang tetap bisa bersamanya, ia ingin Lintang tetap bahagia di sisinya. Willy ditemani asistennya tetap bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab. Suasana kantor dan perusahaan juga nampak lebih berbeda. Willy kini jadi lebih hangat pada karyawan, meski ia tetap menjaga wibawa juga kharisma kepemimpinannya.


"Atur bonus gaji bulan ini untuk semua karyawan. Naikkan jabatan bagi karyawan yang berprestasi." Ujarnya pada Setya yang cukup terkejut. Gaji di perusahaan mereka sudah sangat besar dan bulan ini mereka akan mendapatkan bonus. Ia tersenyum membayangkan akan bahagia sekali para karyawan yang sudah bekerja dengan baik.

__ADS_1


"Baik Tuan, dalam rangka apa kalau saya boleh tahu, Tuan?" Tanya Setya. Willy menoleh, menatap Setya lalu menjawab dengan senyum yang terulas kecil.


"Atas kehamilan pertama istriku." Sahut Willy yang langsung disambut ucapan selamat dari asistennya itu.


__ADS_2