
Lintang membuka kotak obat saat mereka tiba di apartement. Ia mulai membersihkan luka di sekitaran wajah suaminya terutama bagian hidung juga bibirnya. Sebelah pipinya juga nampak lebam. Lintang membubuhkan obat oles, lalu memasang perban di beberapa luka juga mengoleskan salep pereda nyeri di bagian wajah Willy yang memar.
Willy memejamkan mata, membiarkan Lintang mengobatinya. Kemudian setelah selesai, ia membereskan lagi peralatan kotak obat itu. Lintang kemudian duduk, Willy merangkulnya. Mereka duduk di atas sofa.
"Masih sakit?" Tanya Willy sambil menyentuh pipi Lintang yang sempat tertampar olehnya beberapa jam yang lalu.
"Tidak kak. Udah gak sakit." Lintang menggeleng. "Kakak, masih sakit?" Tanya Lintang sambil mengusap luka-luka di area wajahnya.
"Sedikit, Lin." Sahut Willy.
"Kakak belum mengantuk?" Tanya Lintang.
"Belum, kau sudah mengantuk?" Willy bertanya hal yang sama.
"Belum juga Kak."
Willy merebahkan kepalanya di paha Lintang. Ia berbaring lalu menghadapkan wajahnya di depan perut perempuan itu.
"Lin, ini masih sakit?" Tanya Willy sambil menunjuk perut Lintang.
"Siang tadi sakit sekali, tapi sekarang sudah hilang." Jawab Lintang. Willy menatap istrinya lama.
"Aneh, kenapa sakit perutmu tidak hilang juga ya?"
"Ah tidak apa, Kak. Nanti pasti sembuh sendiri. Aku juga udah lama gak haid, mungkin ada masalah ya di perutku?" Kata Lintang lagi.
"Besok kita ke rumah sakit ya." Ujar Willy kemudian. Ia jadi khawatir pada istrinya itu.
__ADS_1
"Hmmm, apa tidak mengganggu pekerjaanmu?"Tanya Lintang lagi. "Atau Lintang pergi sendiri saja Kak ke rumah sakit." Sambungnya lagi.
"Tidak tidak. Biar nanti aku yang mengantarmu." Balas Willy. Ia bersikeras akan tetap mengantar istrinya itu besok.
"Kak Willy.." Panggil Lintang lirih.
"Kenapa Lin? apa masih ada yang tidak berkenan di hatimu? katakanlah."
"Apa benar Kakak tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka?" Tanya Lintang dengan lirih. Ia menunduk menjadikan mata mereka bertemu.
"Tidak, sayang. Aku sulit jatuh cinta dan kau hebat karena kau telah menaklukkan ku." Sahut Willy, ia menatap Lintang penuh cinta. "Coba rasakan ini." Lanjut Willy sambil meraih satu telapak tangan Lintang, lalu meletakkannya tepat di dadanya. Terasa berdetak lebih cepat. "Ia berdetak lebih cepat bukan? aku bahkan harus menahan gejolak yang sangat hebat saat kini berdekatan denganmu." Timpalnya lagi.
Lintang perlahan tersenyum, ia bahagia meski sempat marah dan kecewa pada suaminya. Lintang telah terbang entah ke langit yang mana saat ini mendengar semua pernyataan dari lelaki itu.
"Kak Willy terima kasih telah mencintaiku." Ujarnya pelan dan lirih. Willy bangkit dan duduk. Dihadapkan wajah Lintang padanya.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu, Lin. Maafkan semua kesalahanku padamu dulu ya." Sahut Willy, Ia menggenggam jari jemari lentik Lintang kemudian menarik gadis itu dalam pelukan hangatnya.
"Nanti kita akan mengunjunginya." Sahut Willy sambil membelai rambut istrinya.
"Benarkah?" Lintang mendongak, Willy mengecup bibirnya perlahan lalu mengangguk.
"Lin, apa yang kau lakukan bersama Zacky selama tiga hari ini?" Tanya Willy serius.
"Tidak ada Kak. Kak Zacky hanya membantu Lintang, membawa pakaian, membeli makanan, menyiapkan semua kebutuhanku, lalu menggosok tengkukku saat muntah-muntah kemarin. Kami tidak melakukan apapun lebih dari itu." Lintang menjawab dengan yakin. Willy mengangguk setelah mendengarkannya.
"Kenapa kau muntah-muntah?" Tanya Willy sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Entah lah Kak. Mungkin karena beberapa hari ini aku makan tidak teratur." Sahut Lintang dengan mimik bingung juga. Willy mengangguk lagi, tanda menyetujui apa yang di katakan istrinya itu.
"Dia menyukaimu Lin. Aku tahu Zacky menyukaimu." Desah Willy berat
"Aku juga menyukainya, Kak." Begitu balas Lintang. Willy melepaskan pelukannya, lalu menatap Lintang tajam. "Seperti Kakakku sendiri. Dia baik padaku sedari dulu, dan aku sudah menganggapnya Kakakku selama ini." Sambung Lintang, ia tahu Willy mulai ketar ketir saat ia mengutarakan perasaannya tentang Zacky barusan.
"Kau mencintainya?" Tanya Willy. Lintang tersenyum lalu menggeleng. Willy menarik nafas lega, Ia kembali menarik Lintang dalam pelukannya lagi.
"Kau mencintaiku?" Tanya Willy lagi.
"Iya Kak." Sahut Lintang.
"Sejak kapan?" Tanya Willy kembali, ia ingin tahu segalanya tentang perasaan Lintang padanya.
"Sejak Kakek memintaku untuk menikah denganmu, Kak." Sahut Lintang, Willy terdiam. "Aku tidak pernah punya pilihan lain selain belajar untuk mencintai calon suamiku waktu itu. Aku sudah belajar mencintaimu bahkan semenjak kau belum sampai ke Indonesia waktu itu. Aku tidak ingin mengecewakanmu. Aku ingin mengabdi pada suamiku. Menemaninya setiap waktu. memasakkan makanan kesukaannya. Menyelimuti tubuhnya ketika dingin menyapa. Aku ingin memberikan semua yang terbaik untukmu." Lintang menjelaskan isi hatinya dengan lirih. Matanya berkaca-kaca. Willy merasa sembilu menikam jantungnya. Teringat semua perlakuan buruk pada istrinya selama ini. Ia memeluk Lintang erat, lewat tatapan matanya ia meminta Lintang untuk mau memaafkannya. Willy meraih Lintang, menciumnya lembut. Ia mengangkat tubuh Lintang, menggendongnya hingga ke Kamar mereka.
Willy menciumi istrinya di sana, mengajak Lintang untuk kembali mengarungi indahnya malam berdua. Lintang pasrah, tunduk di bawah cinta juga kuasa suaminya. Ia membiarkan Willy mulai membuka pakaiannya, lalu kembali mereka memulai malam yang panjang dengan pertukaran desah berulang kali.
Willy telah luruh dalam hangatnya cinta bersama Lintang, istri yang sempat ia sia-siakan. Kini, ia takut. Takut kehilangan Lintang. Willy takut ada yang bisa membuatnya nyaman. Willy juga takut Lintang menyesal menikah dengannya. Tidak ada yang membuatnya tergila-gila seperti ini pada perempuan, selain istrinya itu.
"Kak.." Panggil Lintang lirih ditengah penyatuan mereka disela desah.
"Iya sayang.." Willy menyahut, mengimbangi nafasnya yang mulai terengah-engah.
"Jangan pergi." Balas Lintang sambil mencengkram rambut suaminya.
"Tidak, aku mencintaimu." Willy menjawab seraya membanjiri Lintang.
__ADS_1
Ia memulainya lagi dan lagi, seolah tanpa lelah. Keduanya mulai berpautan lagi, saling membalas memberi kehangatan. Sampai akhirnya Lintang melenguh panjang, menandakan ia sampai pada puncak kenikmatannya.
Willy terkulai, jatuh lemas di atas istrinya. Ia menyingkir pelan, turun dari tubuh Lintang yang telah basah oleh keringat dan cairannya sendiri. Lintang mengatur nafasnya yang terengah-engah. Willy menciumi keningnya lama dan lembut. Lintang memeluk suaminya. Mereka tertidur dengan nyenyak bersiap menyambut pagi yang lebih baik dan cerah esok hari. Tanpa ada lagi benci, juga sakit hati. Dewi Fortuna telah tepat menancapkan panah asmara pada keduanya. Willy berjanji akan berdamai dengan kesalahpahaman tentang Lintang dahulu. Ia salah menilai istrinya selama ini, dan ia beruntung ia belum terlambat. Karena benar kata Zacky, sekali lagi ia berulah dan menyakiti gadis itu, tidak menutup kemungkinan Lintang akan benar-benar memilih pergi menjauh darinya. Satu-satunya hal yang paling ia takuti kini.