
Pukul setengah delapan malam Willy kembali ke rumah. Ia melihat Lintang telah berganti baju dengan dress rumahan, rambutnya ia ikat ke belakang membuat leher jenjangnya terpampang. Gadis itu nampak cantik dari hari ke hari. Ia kini jadi sedikit mempercayai omongan orang-orang bahwa Lintang memang menarik.
Willy mencoba mengabaikan gadis yang sedang menonton televisi itu. Lintang juga tidak mengatakan apapun. Willy membuka bajunya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sementara Lintang bergegas pergi ke meja makan untuk menata hidangan makan malam bagi suaminya. Lintang tidak ingin Willy marah karena ia lamban.
willy keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih setengah basah. Lintang melihatnya sekilas. Tampan. Begitu ia membatin. Tapi jahat. Hatinya yang lain menghujat. Iya, memang jahat. Otaknya ikut andil memanasi. Lintang jadi kesal sendiri pada dirinya.
Willy telah keluar dari kamar dan telah berpakaian santai. Ia menuju meja makan. Perutnya memang lapar, minta secepatnya diisi. Lintang mengambilkan Piring dan menyendok kan makanan. Setelah itu ia berbalik dan hendak beranjak. Namun, suara Willy membuatnya menghentikan langkah.
"Kau mau kemana?" Tanya Willy datar.
"Aku makan di belakang saja Kak." Jawab Lintang.
"Duduk! Ambil piring mu makan disini!" Perintah Willy. Ia telah memasukkan beberapa suapan nasi dan lauk ke mulutnya. Lintang menurut, dan mulai menyendok kan nasi beserta lauk pauknya. Ia makan dengan pelan, tidak berani sekali pun memandang Willy.
Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang sesekali beradu. Willy melihat Lintang, gadis itu diam saja, Willy menyeringai melihat keheningan diantara mereka. Tidak lama kemudian ia telah selesai begitu pun dengan Lintang. Lintang membereskan meja makan dan mulai mencuci piring-piring kotor. Willy sendiri kini tenggelam dalam acara televisi.
__ADS_1
Lintang membersihkan rumah dan beberapa kertas yang berserakan. Kemudian ia merapikan tempat tidur agar Willy nyaman nanti ketika berada di sana. Lintang telah menyelesaikan tugasnya, ia mengganti baju santainya dengan baju tidur setelah sebelumnya ia membersihkan diri dahulu di kamar mandi.
Lintang keluar dari kamar, ia melihat Willy yang nampak menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Lelaki itu nampak tertidur. Ragu Lintang mendekati lelaki itu. Ia mematikan televisi lalu meraih selimut dan mulai menyelimuti Willy yang tertidur. Namun, Langkahnya terhenti saat Willy tiba-tiba membuka matanya, jarak mereka begitu dekat. Lintang melepaskan selimut yang sudah separuh menutupi tubuh Willy.
"Maaf Kak, Aku kira kakak sudah tidur. Aku kembali ke kamar saja." Ujar Lintang gugup. Ia hendak berbalik dan beranjak namun Willy menahan langkahnya, Lelaki itu menarik tangannya namun tidak seperti biasa. Tidak kasar sama sekali tapi tetap saja membuat Lintang ngeri dan waspada.
Willy membaringkan tubuh Lintang di sofa, ia mulai menciuminya dengan lembut. Lintang mengerang kecil, mencengkram pinggiran sofa. Hati Lintang mulai menjerit, berusaha menyadarkan tubuhnya yang terbuai. Willy naik, perlahan bibirnya mulai mengecup leher dan dada Lintang bergantian. Lintang mendesah tertahan, ia berusaha menolak namun Willy kembali menyentuhnya, memberikan perasaan aneh menutut lebih dan lebih.
Gila! ini gila! hentikan biadap. Hentikan lelaki jahat.
Willy menghentikan kegiatannya. Ia melepaskan Lintang begitu saja. Ia berlalu, meraih sebatang rokok lalu mulai menyalakannya. Willy menyesapnya perlahan, mencoba mencari-cari kebenciannya kembali pada sosok yang belum sempat ia satukan dengan dirinya malam ini.
Lintang sendiri hanya mampu beringsut perlahan, ia meraih bra nya yang terlepas juga baju yang sudah terkulai di lantai. Lintang berjalan gontai menuju kamar, ia mematikan lampu membiarkan hanya lampu tidur yang tersisa. Lintang berbaring miring meringkuk menahan perasaan sakit yang tidak lagi bisa ia tahan.
Hatinya tergores begitu dalam. Willy sendiri masih berada di luar kamar. Ia membuka jendela apartement, menatap hingar bingar kota jakarta yang jauh di bawah sana. Lampu-lampunya berkilauan menyemarakkan malam yang kelam. Willy mematikan api rokoknya kemudian kembali ke sofa yang tadi sempat menjadi tempatnya mencumbu Lintang.
__ADS_1
Ia mulai berbaring di sana. Membiarkan Lintang tertidur sendirian di kamar mereka. Lintang sendiri belum tidur. Matanya masih terbuka namun ia diam terpekur. Jam dinding sudah menunjukkan waktu pukul Setengah dua belas malam. Lintang mendengar suara dengkur halus milik Willy. Kali ini lelaki itu telah benar-benar tertidur.
Lintang turun dari ranjang, ia kembali meraih selimut dan kembali menyelimuti suaminya itu dengan lembut. Lintang sudah berjanji pada Kakek, bahwa ia akan melakukan apa pun yang terbaik untuk Willy. Meski Lintang tahu Willy teramat membencinya. Lintang juga pergi ke dapur. Ia menuangkan segelas air minum dengan penutupnya juga karena biasanya Willy akan sering terbangun dari tidur untuk minum. Ia meletakkan gelas berisi air putih itu di atas meja tak jauh dari sofa.
Lintang sendiri kembali ke kamar. Ia membiarkan pintu tetap terbuka, agar ia tahu kalau-kalau saja Willy terbangun dan memerlukan sesuatu ia akan bisa dengan sigap untuk melayani nya. Lintang merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia mulai memejamkan mata, setidaknya, malam ini ia tidak akan merasakan tubuhnya kesakitan dan remuk redam karena nafsu dan benci yang menguasai suaminya itu.
Lintang akhirnya benar-benar tertidur dengan tenang malam itu. Meski kekhawatiran akan hari esok tetap saja masih sering menghantuinya. Lintang sebelum ia benar-benar memejamkan matanya, terkenang percakapan antara ia dan ibunya ketika wanita itu masih hidup dahulu. Saat itu usianya baru saja menginjak empat belas tahun.
"Lintang, ibu minta sekali Lintang jangan sekali pun mengecewakan Kakek Franky. Beliau sudah begitu baik pada kita, nak." Ujar Ibunya waktu itu, sesaat sebelum mereka akan tertidur.
"Iya Bu, Lintang janji akan menuruti semua keinginan Kakek." Jawab Lintang sambil memeluk ibunya.
"Ibu senang, Lintang diterima dengan baik di keluarga yang begitu baik ini. Hanya dengan mengabdi pada mereka lah kita bisa membalas semua kebaikan yang telah mereka berikan." Pandangan Ibu menerawang jauh teringat saat-saat pertama kedatangan mereka ke rumah megah ini.
"Lintang juga akan mengabdi pada keluarga Kakek, Bu. Lintang tidak akan mengecewakan Kakek." Sahut Lintang.
__ADS_1
Ibu Lintang, mencium kening anak gadisnya lembut. Satu-satunya harta yang tersisa kini. Ia merasa sangat bersyukur keluarga besar ini telah begitu hangat terhadap kehadiran mereka, apalagi Miranti, menantu Franky itu sangat menyayangi Lintang seperti putrinya sendiri. Begitu banyak keberkahan yang telah mereka dapatkan dari keluarga besar ini maka, akan sangat tidak tahu diri apabila mereka tidak membalas semua kebaikan itu meskipun ia tahu semua penghuni di rumah itu tulus dan memang baik padanya dan Lintang. Dan dari sana lah akhirnya Lintang pun mengerti arti sebuah balas budi meski keluarga itu tidak pernah menuntut apa-apa atas mereka. Lintang telah berjanji apa pun itu, asal Kakek dan keluarga besar bahagia, ia akan melakukannya meskipun dengan resiko ia akan terluka dan cidera hati karena perlakuan dari suaminya kini.