Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
15. Membersihkan Kamar Tuan Muda ---- PENGUMUMAN ----


__ADS_3

Hai semuanya, maaf ya author mengubah nama Tokoh utama perempuan. Author merasa nama ini lebih cocok dengan sifat dan karakter dari tokoh utama cerita ini.


terima kasih yang sudah setia membaca.


salam cinta dari Lintang dan Willy🌹🌹


selamat membaca. Semoga suka


-Juliez.


...****************...


Lintang hari ini sedang tidak ada mata perkuliahan. Ia sedang membantu Mbok Nah membuat dessert di dapur. Gadis itu memang menyukai bekerja di dapur. Ia pandai memasak. Dahulu, Kakek Franky tidak mau makan buatan pembantunya yang lain. Lintang lah yang akan membuatkan makanan khusus dirinya.


Hari ini Nyonya besar memintanya untuk membuat dessert yang biasa ia buat dulu untuk Kakek Franky. Jadilah seharian ini ia sibuk di dapur. Sesekali sambil tangannya sibuk bekerja ia saling melempar candaan dengan para pelayan. Mbok Nah senang sekali jika Lintang sudah di dapur karena ia akan membuat makanan yang enak juga untuk para pelayan seperti biasa. Tidak ada yang bisa menyaingi makanan dari gadis itu. Rasanya enak dan juga khas.


Miranti mendekati para pelayan dan juga Lintang yang sedang sibuk di dapur. Ia tersenyum menyapa semuanya. Ia melihat Lintang yang begitu telaten membuat makanan. Ia benar-benar tidak salah memilih menantu.


"Ada yang sudah jadi?" tanya Wanita itu. Lintang mengangguk kemudian menyerahkan sebuah dessert di atas piring kecil untuk dicicipi oleh Nyonya besar.

__ADS_1


"Enak, Tan?" tanya Lintang


"Selalu dong. Lintang nanti jadi Chef aja deh. Pasti restorannya rame." jawab Miranti sambil tersenyum. Makanan itu lumer di mulutnya. Terasa lezat dan sangat enak.


"Tante bisa aja. Kalau dibandingkan dengan masakan tante, masakan Lintang belum ada apa-apa." balas Lintang merendah.


"Beneran kok Lin. Makanan kamu tuh enak. Selalu punya ciri khas. Willy pasti senang sekali punya istri sepintar kamu." Lagi-lagi Miranti memuji Lintang. Lintang yang tadinya tersenyum mulai nampak murung. Willy sama sekali tidak menyukainya. Bukankah itu berarti masakannya juga tidak akan mengubah apapun untuk lelaki itu?


"Malah ngelamun. Udah terusin ya bikinnya. Oh iya, tadi Papa Willy minta dibuatin nasi goreng. Tolong ya Lin." ujar Nyonya besar itu membuyarkan lamunan Lintang barusan. Lintang cepat mengangguk dan mulai menyiapkan bahan untuk memasak nasi goreng pesanan Tuan besar.


Tidak lama kemudian, masakannya jadi. Lintang segera menyajikannya di meja makan. Di sana telah menunggu Tuan besar dan juga Nyonya besar. Mereka lahap sekali memakan nasi goreng buatan Lintang. Lintang setelah itu pergi ke balkon atas, ada beberapa pakaian yang harus ia jemur. Saat sudah berada di sana, ia tertegun. Ternyata Willy sedang duduk santai dengan sebuah majalah di tangannya. Jantung Lintang berdegup kencang. Ia takut Willy akan kembali memulai penyiksaannya.


Tapi saat ia masih sibuk dengan jemuran, tentu dengan tingkat kewaspadaan yang sangat kuat membentengi, lelaki itu tak juga beranjak. Ia tetap terpekur dengan majalah yang sedang ia baca. Willy bukannya tidak menyadari kehadiran Lintang itu. Ia memang sengaja membuat gadis itu ketakutan meski ia tidak akan melakukan apapun saat ini.


Willy melihat Lintang tanpa berniat mengejar seperti biasanya. Lintang akhirnya bisa turun dengan nafas lega. Ia kembali ke dapur bersama pelayan ikut berbaur. Lintang tetap saja gadis biasa yang sederhana, ia senang menghabiskan waktu bersama para pelayan. Mereka akan menghabiskan waktu bekerja sambil berceloteh menceritakan hal-hal yang lucu dan melakukan kegiatan yang menyenangkan.


"Lin, kamu beruntung akan menikah dengan Tuan Muda. Pasti kamu bahagia banget ya." ujar Asih, pelayan yang berbeda usia lebih tua tiga tahun darinya. Lintang menunduk, tidak tertarik sama sekali untuk membahas tentang pernikahan itu.


"Iya, Non Lintang bandel. Dari dulu Almarhum Tuan Franky memang tidak mau dia jadi pelayan. Tapi Non Lintang keukeh pengen jadi pelayan terus. Harusnya Non Lintang sekarang udah hidup enak." Mbok Nah menyambung.

__ADS_1


"Mbok, Lintang lebih suka seperti ini. Lagi pula Lintang senang kalau bisa berkumpul begini sama yang lain. Lintang cuma numpang. Lintang harus tau diri." sahut Lintang merendah.


Obrolan mereka berhenti ketika Willy masuk ke dapur. Ia membuka kulkas lalu menuangkan minuman dingin ke dalam gelas. Suasana hening seketika. Lintang menunduk, tidak ingin bersitatap dengan Willy yang sedang menatapnya.


"Kamu." Suara Willy memecah keheningan. Ia menunjuk Lintang. Asih menyikut Lintang untuk segera menanggapi Tuan Muda dingin itu.


"Saya Tuan." ujar Lintang sopan.


"Naik ke atas. Bersihkan kamarku sekarang." ujar Willy kemudian ia berlalu dari tempat itu. Lintang terduduk lesu. Tapi kemudian dilangkahkan juga kakinya menuju lantai atas.


Lintang mengetuk pintu kemudian masuk ke kamar itu. Ia baru sekali ini masuk dan akan membersihkan kamar Willy. Kamar yang sangat luas dan mewah. Lintang bisa bernafas lega saat dilihatnya tidak ada siapa pun di sana. Ia mulai membersihkan tempat itu dengan cepat. Kamar itu sebenarnya tidak kotor sama sekali. Hanya ada beberapa kertas yang berserakan yang bisa dengan mudah dan cepat ia bereskan.


Lintang tersenyum setelah menyelesaikan tugasnya. Ia bergegas untuk segera keluar dari tempat itu. Namun terlambat, ketika dilihatnya Willy telah masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu. Lintang mundur beberapa langkah saat melihat Willy telah begitu dekat dengannya.


"Tuan, saya masih ada pekerjaan di bawah. Izinkan saya turun." pinta gadis itu. Willy tersenyum sinis lalu mendorong tubuh Lintang hingga ia terjerembab jatuh ke atas ranjang.


Willy menindihnya, membuat ia sesak nafas. Ia memohon untuk tidak menyakiti dirinya lagi. Tapi Willy hanya tertawa. Tawa mengerikan yang seolah akan membuat ia merasa kehilangan nyawa seketika. Willy beranjak, membiarkan Lintang berdiri.


"Gadis bodoh. Bermimpilah untuk menjadi istriku!" desisnya penuh kebencian. Lintang menunduk, ia segera memutar kunci lalu memilih pergi dari tempat itu secepat mungkin. Lagi-lagi airmatanya turun. Willy benar-benar telah menorehkan luka terdalam di dalam hatinya. Penghinaan, pelecehan, dan sederetan perlakuan buruk lainnya hanya mampu ia pendam sendirian.

__ADS_1


Lintang memilih untuk tidak lagi kembali ke dapur. Ia pergi ke rumah mungilnya. Mengunci semua pintu juga kamarnya. Lintang menjatuhkan dirinya di ranjang. Tangisnya pecah. Sesegukan nya terdengar memilukan. Lintang meraih foto ibunya yang nampak sedang tersenyum. Diusapnya wajah itu, dengan air mata yang masih menetes ia mengadu.


"Ibu, aku ingin menyerah, Bu. Aku rasanya tidak kuat." ujar Lintang dengan terisak. Ia memeluk foto itu erat seolah sedang memeluk tubuh ibunya seperti dahulu. Di mana ketenangan selalu ia dapatkan ketika ia memeluk ibunya saat-saat dulu. Lintang merebahkan tubuhnya, masih dengan memeluk erat foto ibunya. Pipinya basah, bantalnya basah, hatinya juga basah. Harapannya juga basah, terendam kesedihan yang terlalu dalam.


__ADS_2