
Lintang menatap hamparan air laut di depannya dengan perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya. Ia lelah sekali menangis. Kini ia hanya diam, memandang kosong, berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Di belakangnya, Zacky juga hanya terdiam. Ia sedih, hatinya terluka melihat gadis yang ia cintai sedang merana.
"Lin.." Panggilnya serak. Lintang menoleh dengan mata yang kembali basah. Hancur Zacky melihatnya. Ia meraih Lintang ke dalam pelukannya.
"Kak... aku tidak sanggup lagi." Ujar Lintang terbata-bata dalam pelukan Zacky.
"Lo bahagia?" Tanya Zacky sambil mengusap lembut rambut Lintang.
"Aku bahagia tapi dia menghancurkan semuanya." Sahut Lintang lirih sembari menahan nyeri di hati.
"Lo mencintainya?" Tanya Zacky lagi.
Lintang diam sesaat kemudian ia mengangguk. Zacky menarik nafasnya panjang. Tadi di mobil saat Lintang telah bersamanya, gadis itu terbata-bata menceritakan tentang apa yang ia lihat hari ini. Zacky menahan emosi, melihat gadis yang ia cintai dikhianati.
"Kak, maaf Lintang merepotkan." Ujar Lintang sambil menghapus airmatanya. Zacky melepaskan pelukannya, ia mengajak Lintang berjalan menyusuri pantai.
"Lin, gue sama sekali gak pernah repot. Gue senang bisa nemenin lo sekarang." Sahut Zacky, mereka berjalan bersisian menyusuri pinggir pantai.
"Aku gak mau pulang, Kak." Ujar Lintang lagi. Zacky menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Lintang.
"Pulanglah, bicarakan baik-baik dengannya." Sahut Zacky. Ia tahu saat ini Lintang sedang rapuh dan senang bisa bersama gadis itu, tapi ia tidak ingin Lintang dan Willy begini apalagi ia mendengar kenyataan bahwa gadis itu mencintai rivalnya.
"Tidak. Lintang gak mau bertemu Kak Willy." Ujar Lintang bersikeras.
"Gue anterin ke rumah Tante Miranti ya?"
"Jangan Kak. Itu percuma, Lintang akan tetap bertemu dengannya nanti kalau pergi ke sana." Jawab Lintang cepat.
__ADS_1
Zacky menarik nafas panjang, ia bingung harus bagaimana. Akhirnya ia teringat Villa keluarganya. Ia akan membawa Lintang kesana kalau gadis itu benar-benar tidak ingin bertemu Willy untuk sementara waktu.
"Lo yakin Lin?" Tanya Zacky lagi. Lintang mengangguk mantap. Akhirnya Zacky mengalah, ia akan membawa Lintang ke tempat persembunyiannya untuk sementara waktu sampai gadis itu tenang dan bisa berdamai dengan keadaan.
Mereka kembali berjalan bersisian menyusuri pantai. Zacky benar-benar marah saat ini, pada Willy juga pada Fiska. Tanpa terasa tangannya mengepal, namun saat ia melihat wajah Lintang, ia kembali bisa menguasai emosinya. Mereka akhirnya kembali masuk menuju mobil dan meninggalkan pantai itu menuju villa milik Zacky.
...****************...
Suasana kantor saat itu gaduh. Willy marah mendapati Lintang telah pergi dari ruangannya. Ia bertanya setengah berteriak kepada para karyawan kemana istrinya. Mereka ketakutan, tidak menyangka atasan mereka akan semarah ini. Dewi menjelaskan kehadiran Fiska dengan gemetaran, ia merasa hidupnya akan tamat jika Willy memecatnya karena tidak mampu mengusir perempuan yang telah mengakibatkan perginya Lintang.
"Maaf pak, saya benar-benar sudah meminta Nona Fiska pergi, tapi dia mengancam akan merusak properti di sini. Maafkan saya." Ujar Dewi gemetaran. Willy mengibaskan tangannya menyuruh perempuan itu segera keluar dari ruangannya. Setya mengisyaratkan hal yang sama pada gadis itu lewat matanya.
"Tuan, kita bisa mengecek cctv ruangan ini." Usul Setya berusaha menenangkan Willy yang sudah nampak kacau. Willy menoleh, lalu mengangguk cepat. Kenapa ia tidak kepikiran sama sekali.
Ia menyuruh asistennya itu segera mengecek cctv dan setya menunjukkan sesuatu pada Willy. Dalam rekaman itu terlihat Fiska datang, berbincang sebentar dengan Lintang lalu ia melemparkan amplop cokelat. Lintang membukanya dan terlihat foto-foto dari sana. Lintang menangis kemudian menyusun kembali foto itu dengan rapi dan meninggalkannya di dalam ruangan itu diatas mejanya bertumpukan dengan berkas lain. Lalu istrinya pergi.
Willy berlari keluar dari luar ruangan, diikuti Setya. Setya mengambil alih kemudi, mengikuti perintah atasannya akan kemana mereka. Ia tidak ingin membiarkan Willy menyetir sendirian dalam kondisi kacau seperti ini.
"Kita kemana Tuan?" Tanya Setya.
"Pergi ke rumah orangtuaku." Perintahnya.
"Baik, Tuan." Sahut Setya patuh.
"Nanti cari perempuan brengsek itu, aku akan membuat perhitungan padanya." Ujar Willy lagi.
"Baik Tuan."
__ADS_1
"Menurutmu kemana istriku pergi?" Tanya Willy, ia benar-benar bingung.
"Kalau tidak pulang ke rumah, mungkin di tempat teman baiknya, tuan." Sahut Setya. Willy mengangguk, nampaknya Lintang akan kerumah Sela kalau benar ia tidak pulang ke rumah Ibunya. Begitu pikirnya.
Willy sengaja tidak menelpon Ibunya untuk menanyakan keberadaan Lintang karena itu akan membuat ibunya panik. Jadi ia ingin mencarinya sendiri, dan tidak mau membuat keluarga besarnya tahu dulu. Itu bisa mengacaukan semuanya.
Saat tiba di rumah, ia segera di sambut oleh pelayan. Miranti menghampiri anaknya.
"Mana Lintang?" Tanya ibunya.
"Lintang sedang di rumah temannya, Ma. Sebentar lagi aku akan menjemputnya." Sahut Willy. Benar dugaannya, istrinya tidak pulang ke rumah induk.
"Kamu istirahat dulu aja kalo gitu disini." Ujar Miranti.
"Willy ke rumah belakang aja, Ma." Sahutnya. Miranti kemudian mengangguk.
" Kau istirahatlah dulu di kamar tamu. Jangan lupa pantau perkembangan sejauh mana tentang perempuan brengsek itu." Ujar Willy pada Setya yang segera mengangguk dengan patuh.
Willy melangkahkan kakinya menuju rumah mungil. Ia membuka pintu, harum ruangan itu menyeruak ke indera penciumannya. Willy menghela nafas, menerka-nerka dimana istrinya kini berada. Lintang marah. Ia tahu. Istri kecilnya sedang merajuk.
Willy mandi lalu menghempaskan tubuhnya di kasur milik Lintang, tempat ia beberapa kali meniduri gadis itu. Willy memeluk bantal, ia rindu pada Lintang. Hatinya gusar, mukanya keruh dan kusut. Ia benar-benar tidak menyangka Fiska akan melakukan hal bodoh yang berakibat kemarahan bagi istrinya itu.
Willy meraih foto Lintang di meja kecil tepat di samping ranjang, bingkai foto itu berdampingan dengan lampu tidur. Ia mengusap wajah lintang yang sedang tersenyum manis. Ah, betapa ia menyesali sempat membenci istrinya yang baik hati itu. Betapa ia mengutuki dirinya karena kebodohannya yang akhirnya membuat Lintang menghilang saat ini.
Ia khawatir, tentu saja. Ia bahkan menyuruh beberapa bawahannya untuk mencari keberadaan Lintang, namun sampai sekarang belum juga ada kabar dari mereka. Willy menarik nafas panjang, ia terkenang Kakek.
Kakek, aku sangat mencintainya. Baru ku sadari kini, sakit sekali rasanya jauh dan tidak bisa melihatnya saat ini. Gumam Willy di dalam hatinya yang kacau.
__ADS_1