Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
9. Kemana Pembantu itu?


__ADS_3

Willy baru saja tiba di rumah saat ibunya akan pergi keluar. Malam ini ibunya tampak elegan dan cantik dengan dress hitam serta rambut yang digelung sedemikian rupa. Willy menghampiri wanita itu lalu mencium pipinya.


"Mau kemana, Ma? kok cantik banget." tanya Willy seraya memuji penampilan ibunya malam ini.


"Mama ada undangan dari teman lama, anaknya menikah malam ini." sahut ibunya dengan senyum seperti biasa.


"Mau aku antar, Ma?" Willy menawarkan diri untuk mengantar ibunya itu. Wanita itu menggeleng.


"Gak usah. Mama sama Papa dianterin Pak Ujang aja."


"Oke deh Ma. Oh iya aku ke dalam ya, Ma." ujar Willy akhirnya setelah itu ia melenggang masuk ke dalam rumah mewah nan megah tersebut.


Saat baru saja ia akan naik ke lantai atas menuju kamarnya, ia berhenti sesaat. Rumah itu tampak tidak seperti biasa. Biasanya ia akan melihat Lintang sedang sibuk membereskan sesuatu, tapi kali ini ia tidak melihatnya. Masih dengan rasa penasaran, ia pergi ke dapur, mungkin saja akan menemukan gadis itu di sana. Tapi, yang ia temukan hanyalah beberapa pelayan yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Willy mengurungkan niat untuk kembali menuju kamarnya, ia malah memutari seluruh ruangan. Lalu ia teringat rumah belakang tempat Lintang biasanya berada. Senyum liciknya kembali tercetak. Dilangkahkan kakinya menuju tempat itu. Saat telah sampai di depan pintu, benda itu terkunci.


Seseorang mengejutkannya tiba-tiba. Willy menoleh dan menemukan pak Mamat, satpam yang menjaga rumah mereka.


"Tuan mencari Nona Lintang?" tanya pria itu. Willy mendengus kesal tidak menjawab. " Nona tidak pulang malam ini Tuan, Nona menginap di rumah temannya." lanjut pak Mamat lagi. Willy tidak mengucapkan sepatah kata pun kemudian ia berlalu.

__ADS_1


Cih. Mau menghindar rupanya. Batin Willy sedikit kesal. Ia kesal karena tidak bisa menyiksa gadis itu hari ini. Kesal karena tidak menemukan apa yang dicari, Willy kembali masuk ke dalam rumah lalu menuju kamarnya sendiri.


Sementara di rumah Sela, Lintang tampak menumpahkan semua isi hatinya saat ini. Di depan Sela yang masih setia mendengar ceritanya yang begitu menyayat hati. Sela memang tidak bisa membantu banyak, tapi paling tidak, saat ini sahabatnya itu bisa sedikit lega karena tidak menyimpan hal ini sendirian. Untuk menyarankan Lintang pergi dari tempat itu juga rasanya tidak mungkin. Gadis itu telah berjanji akan menepati janjinya pada Kakek. Juga sepertinya Lintang memang telah terikat kuat dengan keluarga besar itu.


"Lo yakin mau nerusin pernikahan itu?" tanya Sela, ia yakin saat ini tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menolong sahabatnya itu.


"Iya, Sel. Aku gak akan kecewakan Kakek." sahut Lintang lirih.


"Walaupun dia udah jahat banget sama lo?" tanya Sela lagi. Ia benar-benar iba pada nasib Lintang.


"Gak papa. Kalau itu bisa membalas semua kebaikan Kakek." jawab Lintang. Sela menarik nafas panjang mendengarnya. Ia menggenggam tangan dari sahabatnya itu.


"Kalo ada yang bisa gue bantu nanti, gue pasti bantu. Lo jangan sungkan ya cerita sama gue." ujar Sela tulus. Lintang tersenyum mendengarnya. Ia bersyukur selain mendapat keluarga yang sayang dan baik padanya, ia juga diberikan sahabat yang benar-benar mengerti akan dirinya.


"makasih ya, Sel." sahut Lintang dengan air yang telah menggenang di pelupuk matanya. Sela mengangguk pelan kemudian memeluk sahabatnya itu.


"Oh iya, daripada lo bete mending temenin gue yuk ke kafe. Gue lagi pengen banget makan puding di sana. Enak banget lo pasti suka." ujar Sela sambil melepaskan pelukannya yang segera diiyakan oleh Lintang.


Saat telah sampai di kafe, keduanya memesan beberapa makanan dan minuman hangat karena memang cuaca saat ini cukup dingin setelah hujan turun dan baru saja mereda beberapa menit yang lalu. Alunan suara live music mengiringi suasana malam itu. Mereka memilih untuk duduk di pojokan dekat dengan jendela kafe yang lumayan besar. Kafe itu nampak begitu klasik dengan gaya minimalis tetapi memiliki jendela besar di setiap dinding.

__ADS_1


Malam ini Lintang cukup merasa senang karena bisa menghindari Willy. Sebenarnya tidak bisa dibilang menghindari juga karena mereka memang harus mengerjakan tugas bersama yang besok harus dipresentasikan di depan kelas. Namun, bukannya ini yang dinamakan menyelam sambil minum air. Lintang bisa sedikit lega karena Willy tidak akan bisa mengganggunya malam ini.


Tidak berapa lama kemudian, makanan mereka datang, keduanya larut dan menikmati makanan mereka masing-masing sampai ketika mata Lintang tidak sengaja menangkap seorang lelaki yang baru saja hendak duduk namun ia mengurungkan niat saat matanya juga tidak sengaja melihat Lintang dari kejauhan. Lintang tersenyum dan melambai kepada lelaki itu.


"Hai ... duh gak nyangka deh bisa ketemu disini." ujar lelaki itu yang segera dibalas anggukan oleh Lintang. Sementara Sela hanya menatap Lintang dan lelaki itu bergantian.


"Kak Zacky, sama siapa?" tanya Lintang.


"Gue sendiri kok. Gabung boleh kan?" tanya zacky ramah. Ia juga tersenyum pada Sela yang menatapnya terpesona.


"Iya gak papa, Kak. Bolehkan Sel?" Lintang memalingkan mukanya menunggu tanggapan Sela yang masih terpesona. "Sel ... ?" Lintang kembali menegur sahabatnya itu kali ini dengan mengibaskan tangannya di depan gadis itu. Sela terperanjat seketika.


"Eh ... iya, boleh kok boleh." sahutnya tergagap.


"Duh ... segitu gantengnya gue sampe temen lo jadi terpesona gitu." goda Zacky membuat Sela bersemu merah karena malu. Tidak lupa ia juga segera mengutuk dirinya sendiri.


Zacky mengambil posisi tepat di depan Lintang. Ia kemudian memesan makanan dan minuman. Ketiganya langsung terlibat pembicaraan seru. Sela juga sudah terlihat bisa menguasai diri. Beberapa kali ia terlihat menimpali candaan dari Lintang dan Zacky yang membuat mereka tertawa.


Lintang menghentikan tawanya ketika sekali lagi tanpa sengaja ia melihat seorang yang dikenalnya. Seseorang yang telah memberi mimpi buruk dan juga menyiksanya beberapa hari ini. Seseorang yang sama sekali tidak diharapkan akan ditemuinya malam ini.

__ADS_1


William masuk ke dalam kafe, ia tampak melenggang tenang dengan seorang perempuan seksi yang menggelayut manja di lengannya. Lintang mencoba tidak melihat mereka lagi, ia juga tidak peduli pada perempuan yang sedang bersama lelaki yang akan segera menjadi suaminya itu.


Lintang sadar diri, sampai kapan pun tidak akan ada perlakuan baik dari Willy pada dirinya. ia cukup senang karena nampaknya, Willy tidak menyadari keberadaannya di sana juga. Padahal tanpa ia duga, lewat sorot matanya, Willy tau bahwa sedari tadi gadis yang dibencinya itu ada di sana dengan temannya juga sepupu sekaligus rivalnya di keluarga Dwianuarta.


__ADS_2