
Dua hari setelah menjalankan rawat inap pasca melahirkan, Lintang kini telah kembali ke rumah induk. Willy tidak masuk ke perusahaan untuk satu minggu. Ia ingin menemani Lintang dan bayi kecilnya. Ia tidak bosan menggendong, menimang dan mengajak bayinya berbicara dengan gaya lucu. Kakek dan Neneknya pun tidak mau kalah. Sebentar-sebentar akan pergi ke kamar Lintang untuk menemui cucunya.
Lintang sendiri masih belum kuat untuk beranjak dari ranjang. Ia masih lemas, tetapi tetap berusaha untuk bisa memberi asi ekslusif bagi anaknya. Willy dengan telaten membantu istrinya itu. Ia menjalankan peran sebagai suami dan ayah dengan baik dan sempurna.
Bayi kecil mereka begitu lucu, kulitnya putih, hidungnya mancung, bibirnya juga merah, wajahnya perpaduan Willy dan Lintang. Lintang seakan tak percaya bahwa ia telah mempunyai seorang anak bersama lelaki yang amat dicintainya.
"Dia tampan sekali, Kak. Dia sepertimu." Ujar Lintang sambil mengelus pipi anaknya dalam gendongan Willy.
"Dia pasti baik sepertimu, istriku." Sahut Willy kemudian ia mengecup kening istrinya.
Disaat bersamaan, Miranti datang membawa makanan untuk Lintang. Ia membantu Lintang untuk makan dan membersihkan diri. Miranti juga begitu telaten merawat menantunya yang masih harus ekstra diperhatikan selama masa nifas ini.
Ia juga membantu memakaikan pembalut, rutin membantu Lintang bergerak miring kiri dan kanan. Jika malam tiba, ia akan membiarkan Willy tertidur jika putranya sudah mengantuk, ia juga rela begadang menemani Lintang yang harus menyusui anaknya. Lintang bersyukur sekali.
"Lin, selama masa empat puluh hari ini, kau harus banyak istirahat ya. Jangan banyak pikiran, berpikirlah positif selalu. Jika ada yang kau inginkan, atau ada yang mengganjal di hatimu, katakan segera pada mama." Ujar Ibu Mertua lembut. Ia mencium lembut pula cucunya yang sedang tertidur dengan tenang.
"Iya, Ma. Ma... makasih ya. Lintang bersyukur sekali mendapat mertua seperti mama." Lintang menggenggam jemari Ibu Mertuanya penuh sayang.
Ibu Mertua mengangguk sambil tersenyum. Ia melihat Willy yang sedang menggendong cucunya dengan bangga. Anaknya benar telah berubah begitu dewasa, bijaksana dan juga penyayang. Lintanglah yang telah merubahnya.
"Cucuku, kemari kan aku mau menggendongnya." Ricky, ayah Willy masuk ke dalam kamar untuk mengunjungi cucunya. ia baru saja kembali dari perusahaan. Jasnya juga belum dibuka. Miranti, Lintang dan Willy tersenyum melihatnya, betapa bayi mungil itu begitu dirindukan.
Bayi mungil itu menggeliat, mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Willy dan Ricky dibuat gemas olehnya.
"Ia persis sepertimu, dulu." Ujar Papanya sambil tertawa mengingat Willy dahulu.
"Siapa dulu pa, Ayahnya." Balas Willy bangga.
__ADS_1
"Eh, ingat yang duluan siapa, Kakeknya dong." Sahut Papa tidak mau kalah. Miranti dan Lintang hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.
"Papa, mandi dulu. Baru gendong cucu." Mama mengambil alih bayi kecil itu yang dilepaskan Papa tidak rela. Namun, ia segera menuruti perkataan istrinya. Ia segera menuju kamar dan pergi membersihkan diri dahulu, ia tidak sabar ingin menggendong cucunya lagi.
Mama membawa bayi kecil ke ruang tengah. Sementara Willy menemani Lintang yang telah selesai membersihkan diri juga telah selesai makan.
"Sayang, kau sudah enakkan?" Tanya Willy, ia duduk di pinggir ranjang di samping Lintang di antara Baby box.
"Sudah, Kak. Aku sudah sehat, melihat kalian bahagia pasti akan cepat memulihkan ku." Sahut Lintang, Ia meletakkan telapak tangannya di pipi Willy lalu mengelusnya.
"Sayang, apakah yang disana akan terus berdarah?" Tanya Willy polos, ia menunjuk bagian yang di pakaikan pembalut dibalik dress membuat Lintang tertawa.
"Tidak selamanya, sayang. Tapi, cukup lama." Jawab Lintang.
"Berapa lama, sayang? satu minggu? dua.."
"Empat puluh hari sayangku." Lintang memotong ucapan suaminya yang belum selesai sambil tersenyum manis.
...****************...
Willy turun menghampiri Mama yang masih menggendong bayinya. Di sana juga terlihat ada Papa yang telah rapi dengan kaus santainya. Keduanya sedang duduk di sofa ruang tengah. Mereka mengajak bayi kecil itu berbicara dengan lucu. Willy tersenyum, ia senang kedua orangtuanya bahagia dengan kehadiran bayi mereka.
Kemudian keduanya tampak memandangi potret yang sangat besar di depan mereka. Potret Franky sedang tersenyum hangat. Miranti tampak menyeka airmatanya. Ia haru sekali.
"Pa, lihatlah, Willy telah memberimu generasi penerus yang sangat tampan. Ini anaknya dengan Lintang." Ujar Miranti, Ricky mengelus pundak istrinya. Ia juga bahagia. Seandainya saja Ayahnya itu masih hidup.
Willy yang mendengar itu tak urung jadi terharu juga. Ia menghampiri kedua orangtua dan juga bayi kecilnya. Diciumnya bayi kecil yang masih berada dalam gendongan Mamanya dengan lembut.
__ADS_1
"Mama jadi ingat padamu waktu kau masih bayi, Will." Kenang Mama, matanya tampak menerawang.
"Apa aku juga selucu ini dulunya, Ma?" Tanya Willy dengan jari yang sedang mengelus pipi kenyal putranya.
"Ya, dia persis sepertimu." Papanya yang menjawab.
"Dan dia juga pasti mewarisi semua kebaikan yang Lintang miliki." Sambung Mama sambil tersenyum. Willy membalas senyum ibunya itu.
"Aku beruntung sekali bisa memiliki Lintang dan sekarang ada dia juga di tengah-tengah kita." Willy menunjuk bayi kecil yang telah terbangun dengan mata nampak memincing terbuka itu.
"Ya, kau harus menjaga mereka dengan baik." Kata Papanya.
"Pasti, Ma, Pa. Aku akan melindungi mereka dengan segenap jiwaku." Sahut Willy mantap.
"Kau sudah sangat dewasa sekarang, Will. Papa bangga padamu." Ujar Papa sambil mengusap rambut tebal Willy.
"Lintang lah, yang banyak merubah ku, Pa." Balas Willy sambil mengenang awal mula pertemuan dirinya dengan Lintang.
Willy ingat dulu betapa ia kasar, jahat dan tidak baik pada Lintang. Namun, Lintang sangat sabar menghadapi sifatnya yang dingin dan juga keras kepala. Ia juga ingat, meski Lintang sering diperlakukan tidak baik olehnya, namun, Lintang tetap melakukan perannya sebagai istri dengan sangat baik. Ia juga dengan telaten menyiapkan dan melakukan hal terkecil sekalipun untuk Willy. Ia tetap menyelimuti Willy meski Willy baru saja selesai melecehkan dan melakukan perbuatan yang kasar padanya ketika di atas ranjang. Ia menyiapkan susu madu kesukaan Willy setiap pagi. Ia tetap memasak meski Willy tidak pulang ke apartement. Oh betapa berdosa nya. Ia menggumam penuh penyesalan.
Kini ia telah menebus semua itu. Ia telah jatuh dalam cinta yang begitu sempurna dan memabukkan kepada Lintang seorang. Willy tidak bisa menggantikan posisi Lintang dengan wanita mana pun juga.
Ditengah lamunannya itu, anaknya menangis. Nampaknya ia ingin segera berada dalam dekapan hangat bundanya. Miranti segera menyerahkan bayi kecil itu kepada Willy untuk segera diantarkan kepada istrinya. Namun baru dua langkah, suara Ibunya kembali terdengar.
"Will, siapa namanya?" Tanya Miranti saat ingat cucunya belum diberikan nama.
"Alvaro Dwianuarta." Sahut Willy sambil tersenyum kemudian ia melanjutkan langkah menuju kamar dimana Lintang berada.
__ADS_1
Ya anakku Alvaro, jadilah engkau anak yang takut akan Tuhanmu, yang berakal lagi berbudi luhur. Menjadi pelindung bagi bunda mu, bijaksana dalam setiap langkah dan tindak mu.
Doa Willy dalam hati kecilnya.