Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Undangan Pernikahan Fiska


__ADS_3

Hari-hari kehidupan rumah tangga Willy dan Lintang berjalan lancar dan baik-baik saja hingga saat ini. Memasuki bulan ke tujuh usia Alvaro, keramaian di rumah itu semakin bertambah. Ricky dan Miranti menghabiskan sepanjang hari dengan bermain bersama bocah itu. Lintang sendiri kini fokus pada restoran yang sedang ramai-ramainya.


Seperti saat ini, ia sedang sibuk berada di dapur, menggunakan pakaian koki ikut berbaur bersama para koki-koki yang bekerja bersamanya. Lintang ingin memastikan semua masakan tersaji dengan baik dan bisa diterima oleh setiap pengunjung yang datang.


Restoran mereka kini sedang ramai-ramainya. Para pengunjung yang datang kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Lintang sendiri mengusung konsep selera Nusantara yang mana makanan yang dominan adalah makanan khas Indonesia.


Makanan di restorannya disukai banyak pelanggan, karena cita rasa yang berbeda juga kaya akan rempah-rempah. Bulan depan Restoran itu juga akan menjadi Tuan rumah untuk sebuah acara televisi yang terkenal yaitu kompetisi memasak. Tentu jadwalnya jadi kian padat.


"Mbak Lintang, ada yang mencari Mbak." Nora, salah satu karyawannya menghampiri memberi tahu bahwa ada seseorang yang saat ini sedang menunggunya.


"Siapa Nor? Aku gak punya janji deh kayaknya hari ini." Ujar Lintang sambil berusaha mengingat-ingat.


"Perempuan Mbak, saya lupa tadi tanya namanya." Nora menunduk, Lintang akhirnya mengangguk.


"Katakan aku akan segera menemuinya."


Nora berbalik keluar dari dapur. Lintang sendiri menuju ruang ganti, ia melepas celemeknya. Membetulkan dress yang ia pakai juga membuka jepitan rambutnya hingga rambutnya yang panjang jatuh terurai.


Lintang berjalan dengan anggun menuju keluar. Di sana, ia melihat di sebuah meja yang hanya terlihat seorang perempuan. Lintang langsung mengenali perempuan itu. Ia tersenyum, lalu meneruskan langkah untuk menghampiri.


"Kak Fiska, apa kabar?" Lintang memeluk hangat Fiska yang juga menyambutnya. Keduanya kemudian duduk di depan meja yang sama dan saling berhadapan.


"Baik Lin, kau sendiri apa kabar? Mana jagoan?" Fiska terlihat celingukan mencari Alvaro.


"Aku baik juga, Kak. Al di rumah sama Mama. Aku juga sebentar lagi balik."

__ADS_1


"Aku tadinya pengen banget gendong Al. Aku lihat foto-fotonya gemesin banget. Oh iya, aku bawa ini buat Al." Fiska menyerahkan sebuah kotak besar terbungkus kotak kado.


"Aduh, ngerepotin aja ni Kak. Makasih ya." Lintang menerima benda itu sumringah.


"Sama-sama. Maaf ya aku baru bisa ngasih, kemarin-kemarin aku soalnya gak di Jakarta."


"Gak papa kok, Kak. Ini aja Kakak datang aku udah seneng banget."


"Restorannya rame banget, Lin. Sampe aku liat jadi headline dimana-mana." Ujar Fiska sambil melihat sekelilingnya yang ramai para pengunjung.


"Iya, Kak. Ini juga gak lepas dari dukungan keluarga sama kerabat. Dan para pegawai disini juga, mereka sudah bekerja dengan sangat baik." Lintang tersenyum seraya membalas sapaan para pengunjung yang mengenalnya.


"Aku ikut senang, Lin. Willy beruntung punya istri sepertimu." Fiska kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas tangan yang ia bawa. "Ini, undangan pernikahanku. Datang ya." Lanjutnya sambil menyerahkan undangan itu kepada Lintang.


"Selamat ya Kak. Aku senang sekali mendapat kabar gembira ini."


"Makasih ya, Lin. Kalian yang udah membuatku sadar bahwa cinta itu memang gak bisa dipaksa. Aku terlalu terobsesi. Tapi sekarang, akhirnya seorang lelaki datang, menawarkan cinta yang benar-benar membuatku luluh." Fiska menerawang, matanya tampak berkaca-kaca.


"Aku ikut bahagia, Kak. Semoga kebahagiaan senantiasa melingkupi kehidupan Kakak dan suami nanti." Lintang meraih jemari Fiska kemudian menggenggamnya lembut.


"Kau dan Willy harus datang ya." Ucap Fiska penuh harap.


"Kami pasti datang, Kak." Balas Lintang dengan senyum tulusnya.


Mereka berbincang hangat. Fiska dan Lintang sudah nampak akrab. Tidak ada lagi dendam dan kebencian dari Fiska untuknya. Fiska kini pun akan segera menemui kebahagiaannya meski bukan dengan sosok Willy, tapi sosok lelaki lain yang telah membuatnya percaya bahwa cinta sejati itu memang ada.

__ADS_1


"Aku berharap sekali, kau dan Willy akan menyatu selamanya, Lin." Ujar Fiska tulus yang segera diaminkan oleh Lintang.


"Doa yang sama untuk Kak Fiska ya."


Keduanya kemudian berjalan menyusuri pinggiran kolam ikan yang ada di taman restoran itu. Saling merangkul, saling menguatkan satu sama lain. Lintang tidak lagi khawatir karena Fiska tak lagi memusuhinya. Ia bahagia hubungan mereka kini berakhir baik-baik saja.


Ia juga bersyukur karena Willy sudah dengan gagah dan tegas menolak kehadiran wanita manapun yang mencoba merusak biduk rumah tangga mereka. Lintang senang, mencintai Willy kini dengan hati lebih tenang dan lega.


Pukul lima sore akhirnya Fiska pamit untuk pulang. Sebelum ia masuk ke dalam mobil, ia tidak henti mengingatkan Lintang dan Willy untuk datang ke acara pernikahannya kelak.


Lintang melepas kepergian perempuan itu dengan senyum yang masih terulas. Ia kembali ke dapur restoran, memanggil Manager untuk menghandle tempat itu selama ia tidak ada. Sebelum benar-benar meninggalkan restoran, ia berkeliling dapur memastikan bahan dan bumbu masih cukup dan membuka freezer serta chiller masih berfungsi dengan baik dan tidak lupa memeriksa bahan makan beku di sana masih cukup stocknya mengingat banyak dan ramainya pengunjung.


Lintang masuk ke mobilnya sendiri, bulan kemarin Willy menghadiahkannya mobil mewah. Kini ia lebih mandiri, bisa berpergian ke restoran tanpa diantar supir. Willy juga kerap menghadiahinya barang-barang mewah meski Lintang berkali-kali mengatakan bahwa ia sudah memiliki banyak sekali barang mewah dari suaminya itu.


"Sayang, jangan terlalu boros, lagipula aku sudah memiliki tiga lemari full tas branded darimu. Belum lagi perhiasan-perhiasan itu." Lintang menunjuk lemari kaca dengan berbagai benda mahal yang berjejer di kamar tidur mereka yang luas. Ia teringat percakapannya dengan sang suami waktu itu.


"Tidak apa sayangku, kau layak mendapatkannya." Willy mencium kening Lintang dengan sayang.


Belum lagi Alvaro, ia mendapatkan banyak sekali benda mahal meski usianya belum lagi menginjak satu tahun.


Willy juga sering membawa Al ke perusahaan seolah ia ingin mengulang masa kecilnya yang sering sekali berada di perusahaan bersama Kakek. Ia ingin menjadikan Al penerusnya kelak. Sama seperti Kakek yang juga telah mendidik jiwa bisnisnya sedari ia kecil.


Namun, ia masih punya PR yang belum selesai. Willy ingin punya anak lagi. Tapi tentu saja ia harus menunggu dua tahun lagi, karena saat ini Lintang masih sibuk menghandle perusahaan dan tentu saja ia sedang menikmati kebebasannya karena selama hamil dan melahirkan ia sulit sekali kemana-mana.


Willy tak ingin terlalu memaksa Lintang untuk segera memberinya anak lagi, karena ia dan Lintang sudah berencana akan memiliki anak dua tahun lagi setelah kelahiran Al ini. Untuk rencana indah lainnya biarlah mengalir, Willy yakin dengan Lintang yang selalu berada di sisinya maka semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2