Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Pernikahan Fiska. (Visual Willy dan Lintang)


__ADS_3

Hai semua, jadi banyak banget ya yang minta author kasih visual Willy sama Lintang. Author tuh bingung mau kasih visualnya yang mana karena author suka ngehalu bintang-bintang thailand. wkwkwkwkk.


Semoga kalian satu pemikiran ya sama author. Jadi selama author nulis novel ini author jg sambil bayangin pemain film friend zone itu loh sih Naphat nine sama Baiphernbah. hhhihhi ga tau kenapa suka aja gitu liat nya.


Baper banget author liat mereka tuh..Kalo kalian gimana ? hihihi nanti koment ya.


...****************...


Happy Reading guys.❤️


Hari ini Lintang dan Willy menghadiri pesta pernikahan Fiska. Acara itu lumayan besar dan mewah mengingat suami Fiska ternyata seorang pengusaha yang cukup terkenal juga. Fiska nampak cantik dalam balutan gaun pernikahan. Ia juga tersenyum ramah pada tamu-tamu undangan yang hadir.


Fiska memeluk erat Lintang, ia sangat berharap Lintang datang di acara paling penting dalam hidupnya itu.


"Lin, Will, makasih banyak ya kalian udah mau datang. Aku senang sekali." Ujar Fiska sambil memegang jemari Lintang.


"Aku sama Kak Willy juga senang bisa hadir hari ini. Kak Fiska semoga bahagia ya." Sahut Lintang tulus. Mereka kembali berpelukan. Willy juga mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


Mereka turun dari panggung dan mulai bergabung dengan para tamu undangan yang lain. Saat mereka sedang mengambil minuman, Lintang mendengar sekumpulan sosialita sedang membicarakan si Tuan acara yang tak lain adalah Fiska dan suaminya.


"Fiska itu beruntung sekali ya, dia kan mantan perempuan panggilan. Syukur masih ada yang mau, mana kaya banget lagi suaminya." Ujar Perempuan bergaun hitam pada teman-temannya yang lain.


"Iya, Kalo aku jadi laki-laki, ogah banget. Udah bekas sana sini jeng." Yang berbaju merah menimpali.


"Amit-amit punya menantu mantan pelacur." Tukas yang bergaun cokelat dengan begitu kejam.


"Iya jeng, paling itu suaminya juga salah satu pelanggannya dulu, tragis banget dapet bini dari ranjang prostitusi." Bertambah kejam saja komentar-komentar itu.


Lintang menjauh dari para penggosip itu. Ia sedih mendengar para sesama perempuan membicarakan perempuan lain dengan begitu kejam. Fiska memang pernah menggeluti pekerjaan kotor itu dahulu, Dan ia tidak menyangka akan banyak yang tahu profesinya kemarin walau ia telah susah payah menutupnya. Namun, kini ia telah berubah. Fiska bukan seperti dulu lagi.


Tapi begitulah kenyataannya, meski telah bertaubat sekalipun, aibmu akan tetap menjadi sasaran mulut-mulut jahil di luar sana. Lintang dan Willy hanya bisa menarik nafas berat, itu resiko yang harus diterima Fiska atas kesalahan kelam masa lalunya.


"Kenapa mereka kejam sekali, Kak?" Tanya Lintang lirih.

__ADS_1


"Abaikan saja mereka, sayang. Fiska sudah bahagia dengan masa depannya." Sahut Willy sambil merengkuh istrinya mesra.


"Kalau suaminya mendengar apa yang para perempuan tadi bicarakan, ia pasti sangat sedih." Ujar Lintang, matanya menatap Fiska dan Suami yang sedang tersenyum ramah pada para tamu yang datang menyalami.


"Kalau istriku ini yang dibicarakan orang seperti tadi, akan ku patahkan rahang mereka." Kata Willy sambil mencium puncak kepala Lintang.


"Suamiku, kau kejam sekali." Timpal Lintang dengan ekspresi dibuat takut.


"Aku akan kejam pada siapapun yang menjahati istriku." Sahutnya lembut. Tatapannya membuat Lintang meleleh.


Willy kemudian mengajak Lintang untuk duduk dan mulai menikmati makanan yang sudah dihidangkan para pelayan. Sepanjang acara, Lintang dan Willy saling bercanda, melempar tatapan cinta satu sama lain.


Mereka selalu punya cara untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Meskipun terkadang kerikil selalu ada saja mencoba mengusik dan menggoyahkan pertahanan mereka. Namun, justru kerikil-kerikil itu lah yang menjadikan hubungan mereka semakin dewasa. Willy dan Lintang merasa jatuh cinta setiap hari.


"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kalau kau jauh dari sisi ku, Lin." Ujar Willy hangat.


"Aku selalu disini." Lintang meletakkan


"Ya, itulah tempat ternyaman mu. Kalau kau jauh aku bisa gila."


"Percayalah sayang, aku akan menemanimu selalu." Lintang mencium pipi Willy penuh sayang.


"Ayo ke apartement dulu setelah ini." Bisik Willy di telinga Lintang.


"Apa pun Kak." Lintang menyambutnya dengan senyum merekah.


"Aku rindu ranjang kita." Kata Willy lagi. " Ayo pulang." Ia mengajak Lintang untuk segera berpamitan pada Fiska dan suaminya.


Mereka keluar gedung. Lintang menggamit tangan suaminya. Willy tak sabar lagi ingin mencumbu Lintang di dalam kamar mereka di apartement. Tempat itu sudah seperti hotel saja bagi mereka.


Keduanya meninggalkan parkiran dengan perasaan saling tertaut. Lintang dan Willy hanyalah salah satu simbol cinta yang berasal dari kebencian. Kan sudah ku bilang beda benci dan cinta itu tipis sekali. Paham kalian kan..Hahah.


...****************...

__ADS_1


"Enak?" Tanya Willy sambil mengatur deru nafasnya setelah selesai dan mencapai klimaks entah sudah berapa kali.


"Selalu, Kak." Sahut Lintang yang sudah berselimut.


"Apa harus menunggu selama dua tahun kita bisa menambah anak lagi?" Tanya Willy pada Lintang.


Lintang mendekat ke arah suaminya. Ia mencium kening suaminya.


"Berikan aku waktu dulu ya, sayang." Sahut Lintang berusaha memberi pengertian, ia tahu keinginan Willy untuk kembali memiliki anak sudah tidak terbendung lagi.


"Baiklah, sayangku." Willy mencium bibir istrinya lagi.


"Aku akan memberi semua yang terbaik untukmu, Kak."


"Aku tak perlu meragukan mu, sayang." Willy membalas mesra.


Mereka kembali berpelukan. Lintang dan Willy memilih untuk beristirahat untuk beberapa jam ke depan sebelum kembali ke rumah induk.


Mereka juga berencana untuk tidur di rumah mungil malam ini. Al kini sedang di ajak berjalan-jalan oleh nenek dan Kakeknya. Miranti dan Ricky tidak bisa berpisah satu hari pun dengan cucu kesayangan mereka itu.


Miranti akan sangat heboh bercerita tentang perkembangan cucunya pada orang-orang yang juga antusias menanyakan tentang Al padanya.


"Will, kalian pergi saja biar mama yang ajak Al jalan-jalan." Kata Mama saat Willy dan Lintang akan menghadiri acara resepsi Fiska tadi.


"Iya, Ma. Apa Al gak ngerepotin mama?" Tanya Willy sambil mengancingkan lengan kemejanya.


"Ah enggak. Cucu mama kok ini. Mama tuh gak bisa gak lihat Al sehari aja." Sahut mama. Lintang mendekat, mencium Al yang tengah berada dalam gendongan neneknya.


"Anak ganteng anak baik, jangan nakal ya. Jangan bikin nenek repot." Ujar Lintang, Al tersenyum menatap Bundanya.


"Kalian senang-senang ya. Bikin cucu yang banyak." Racau mama sambil menuruni tangga meninggalkan Lintang dan Willy yang tertawa mendengar permintaan mamanya itu.


Willy mencium Lintang sekali lagi, kembali membawa Lintang hanyut dalam gelombang kemesraan sepanjang hari. Willy memang suka mengulangi hal-hal indah dan menggelora itu bersama Lintang, Istrinya. Desahan dan liuk tubuh istrinya bagai candu memabukkan. Membuatnya tak ingin melewatkan malam untuk selalu bercinta dengan istri kesayangan.

__ADS_1


__ADS_2