Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Kontraksi Palsu


__ADS_3

Sudah empat hari Lintang berada di rumah induk yang berarti sudah empat hari pula Willy berada di Perancis. Willy tetap menelponnya, juga melakukan panggilan video padanya jika ia telah tiba di apartement yang ia sewa untuk beberapa hari di sana. Keadaan perusahaan kini sudah semakin bangkit. Willy tinggal menyelesaikan hal-hal lain yang nanti akan ia sesegera mungkin ia selesaikan.


Saat sedang melakukan video call, Lintang tampak meringis menekan lembut perut depannya. Willy khawatir melihatnya.


"Apa yang terjadi, sayang? kenapa kau kesakitan begitu?" Tanya Willy dengan mimik cemas. Lintang berusaha tersenyum.


"Tidak apa, Kak. Akhir-akhir ini aku memang sering merasakannya." Sahut Lintang.


"Apa bayiku berulah?" Tanya Willy lagi membuat Lintang tertawa kecil.


"Tidak sayang, ia tenang."


"Arahkan kamera padanya, aku ingin berbicara pada jagoanku itu."


Lintang menurunkan ponselnya, kini Willy telah berhadapan dengan perutnya yang buncit.


"Hei kecil, kau menendang perut ibumu ya? Kau nakal sekali." Ujar Willy seolah ia sedang bercakap serius dengan anaknya. "Tunggu ayah pulang, ayah rindu sekali padamu dan bunda." Lanjutnya lagi. Lintang tersenyum bahagia, ia juga sangat merindukan suaminya.


"Sayang, apa perusahaan sekarang sudah membaik?" Tanya Lintang serius. Ia kembali mengarahkan kamera pada wajahnya.


"Sudah normal kembali, sayang. Perancis sangat indah malam ini. Nanti kita akan ke sini." Ujar Willy yang segera disambut tatapan berbinar dari istrinya.


"Benarkah? Kakak serius?"

__ADS_1


"Tentu saja, sayang. Setelah anak kita lahir dan ia telah kuat untuk dibawa berpergian. Kita akan segera kesini."


Lintang mengangguk senang. Ia tidak pernah keluar negeri. Lintang bahkan tidak pernah berpikir hingga ke sana. Ia tidak pernah meminta bulan madu, ia tidak pernah rusuh minta diajak kemana pun. Baginya, asal Willy ada di dekatnya saja ia sudah bahagia. Tidak perlu menuntut ini itu. Sesederhana itu.


"Aw.." Lintang meringis lagi. Menahan perutnya.


Akhir-akhir ini Lintang memang sering nyeri perut lagi. Durasinya tak lama, semenit paling lama tapi, kadang dalam sehari terjadi hingga dua kali.


"Kau tidak apa-apa, istriku?" Willy panik.


"Tidak sayang tidak. Jangan khawatir ya, aku akan turun untuk minum air hangat. Biasanya itu akan membuatnya reda." Sahut Lintang berusaha menenangkan dirinya dan juga Willy.


"Tidak-tidak. Kau tidak boleh turun, panggil saja pelayan. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu sayang." Balas Willy cepat. Lintang akhirnya mengangguk. Ia memencet bel yang ada di kamar yang langsung menghubungkannya ke dapur. Mbok Nah jadi datang terburu-buru. Takut terjadi sesuatu pada istri majikannya.


"Mbok, Lintang minta tolong diambilkan air hangat ya." Pinta Lintang dengan sopan saat Mbok Nah telah datang.


"Boleh Mbok, terima kasih ya." Sahut Lintang lagi. Willy tersenyum mendengar percakapan istri juga pelayan di rumahnya itu. Lintang sopan, ia berbicara sangat lembut bahkan setelah statusnya naik. Itu membuat Willy semakin mencintainya.


"Sayang, apa kau sudah periksa ke dokter?" Tanya Willy ketika Lintang telah kembali menghadapkan kamera ke wajahnya.


"Sudah Kak. Kata dokter ini biasa terjadi. Aku sedang merasakan kontraksi palsu. Tapi ini tidak berbahaya, Kakak tenanglah." Sahut Lintang.


"Baiklah, jantungku rasanya hampir mau keluar melihatmu kesakitan begitu." Ujar Willy serius. Ia jadi benar-benar khawatir.

__ADS_1


"Sayang, apakah urusanmu di Perancis akan segera selesai dalam beberapa hari lagi?" Tanya Lintang penuh harap.


"Paling lama tiga hari sayangku."


Lintang menghembuskan nafas lega. Ia senang mendengarnya. Ia tidak sabar bertemu dan memeluk mendekap suami tercintanya. Begitu pun Willy, meninggalkan Lintang beberapa hari saja sudah membuatnya menahan rindu apalagi jika harus berpisah lama lebih dari itu.


Willy melihat istrinya mulai memakan kue yang tadi diantarkan pelayan. Juga ia sudah lebih tenang, sakitnya perlahan hilang. Willy senang melihatnya. Lintang semakin cantik, aura keibuannya keluar seiring dekatnya hari persalinan.


"Sayang, tidur yang cukup ya. Jangan terlalu banyak main ponsel nanti kau pusing." Ujar Willy halus mengingatkan. Lintang tersenyum lalu mengangguk patuh pada suaminya itu.


"Kakak juga ya, pulanglah dengan segar nanti." Lintang membalas penuh kerinduan. Setelah itu mereka memutus sambungan video call.


Lintang membersihkan mulutnya di wastafel kamar mandi. Ia bersiap akan tidur. Hari telah mulai larut. Ia ingin tidur dan beristirahat dengan tenang. Tidak lupa ia mendekatkan suara musik klasik yang menenangkan di depan perutnya agar anaknya di dalam sana juga ikut tenang dan terhanyut alunan musik penghantar tidur itu.


Lintang mengusap perutnya berulang-ulang penuh rasa sayang. Sebentar lagi lengkap lah kebahagiaan mereka. Ia penasaran dengan wajah anaknya apakah akan cenderung mirip dirinya atau ayahnya. Ia jadi tersenyum mengingat wajah suaminya. Yang jelas kalau nanti bayi mereka lahir ia akan mewarisi perpaduan sifat keduanya.


Lintang memeluk bantal guling. Ia tidur menyamping, selama hamil tidurnya lebih nyaman seperti itu. Lintang juga jadi sering terbangun untuk buang air kecil. Mungkin karena kandungannya yang semakin membesar hingga menekan rongga-rongga sekitar. Begitu pikirnya.


Lintang tersenyum hingga membawa senyumnya hingga ke alam mimpi. Mimpi dimana ia bertemu dengan Kakeknya yang menatap juga memeluknya hangat. Ada Kakek Suharja juga Kakek Franky di dalam mimpinya itu. Lintang terharu sekali melihat mereka berdua yang saling merangkul.


Kakek nampak bahagia melihatnya yang kini juga telah bahagia. Lintang menceritakan betapa ia berterima kasih karena Kakek telah begitu baik memberi Willy untuknya. Kakek hanya tersenyum bahagia, ia berhasil menyatukan cucu-cucu kesayangannya menjadi dua insan yang saling mencintai juga tak mau terpisahkan lagi.


"Kakek, aku bahagia sekali. Kak Willy mencintaiku. Dan lihatlah, aku sedang mengandung anaknya. Aku akan menjaganya, Kek." Lintang sumringah di dalam mimpi ditemani kedua Kakek kesayangannya.

__ADS_1


Ia melihat kedua orang itu melambai, saling merangkul penuh kehangatan. Persahabatan Franky dan Suharja memang sangat indah. Mereka tidak pernah saling mengkhianati sedari dulu. Mereka juga tak saling melindungi bahkan sampai maut memisahkan. Adakah yang lebih indah dari sebuah tali persahabatan yang begitu ikhlas, apa adanya, tidak menuntut balas budi, juga tidak pernah tanpa pamrih?


Setia lah, pada kehidupan, pada orang-orang yang telah begitu berjasa juga melakukan segala kebaikan dalam hidupmu dengan segala daya upaya. Ikhlas lah dalam memberi, Tuhan akan melancarkan semua yang menjadi beban masalahmu. Bersabarlah, saat kau dapati dirimu lemah namun tetaplah berusaha bangkit, berusaha berdiri meski harus berjinjit. Tuhan akan memberi kebahagian di semua doa yang telah kau panjatkan, juga keikhlasan yang telah kau derma kan pada orang-orang dengan ketulusan hatimu. Tenanglah, jalani dengan ikhlas dan Tuhan akan menyempurnakan segalanya bahkan lebih dari apa yang kau minta.


__ADS_2