
Siang terik itu tak membuat langkah Lintang terhenti. Ia sedang mengunjungi toko kue, Lintang memesan kue ulang tahun untuk Willy. Hari ini Willy berulang tahun yang ke tiga puluh tahun. Lintang ingin memberikan kejutan kecil untuk suaminya. Tadinya ia sudah menelepon Willy dan mengucapkan selamat ulang tahun, tapi ia masih ingin memberi kejutan. Jadi lah sekarang ia berada di toko kue, memilih kue ulang tahun yang bagus dan enak untuk di bawa ke perusahaan.
Setelah pesanannya selesai dibungkus, ia kembali menuju mobilnya. Dengan riang di lajukannya mobil menuju perusahaan. Saat sampai, Lintang membenahi dulu dress yang ia kenakan. Ia mulai berjalan menuju lift dan kemudian menyusui koridor.
Banyak staff yang menyapanya. Ia membalas sapaan mereka sambil tersenyum. Saat sudah berada di depan ruangan, ia dan beberapa karyawan saling berbisik.
"Mbak Lintang aja yang masuk duluan, kami belakangan." Usul Dewi.
"Jangan, Mbak Lintang terakhir yang masuk, nanti kita bikin jalan di tengah-tengah gitu biar jadi surprise." Ruth menimpali.
Akhirnya mereka setuju dengan saran dari Ruth barusan. Jadilah beberapa karyawan masuk duluan, mereka mengetuk pintu dan masuk setelah Willy mempersilahkan.
Willy terkejut tapi tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya mendapat kejutan dari para karyawan. Mereka juga sudah membawa dua kue. Dan yang semakin membuat Willy bahagia, saat barusan para karyawan itu mulai menyingkir satu persatu. Terlihatlah Lintang yang cantik dengan kue serta lilin menyala berjalan di tengah-tengah menuju dirinya.
Willy tersenyum, ia menatap Lintang penuh perasaan. Para karyawan auto baper.
"Selamat ulang tahun, suamiku." Lintang menunjukkan kue ulang tahun yang ia bawa. "Make a wish, sayang." Lanjutnya lagi.
Willy memejamkan mata, memanjatkan doa yang terbaik untuk hubungan mereka juga kebaikan rumah tangga mereka berdua. Setelah itu ia mematikan lilin dengan satu tiupan. Para karyawan bertepuk tangan.
"Pak Willy, tiup yang kita juga dong." Ujar para karyawannya kompak. Ia meniup juga lilin-lilin itu membuat para staff senang.
Setelah itu mereka memotong kue dan acara sederhana itu ditutup dengan berbagai doa tulus untuk Willy dan Lintang.
"Terima kasih sayang." Willy mengecup bibir Lintang lembut. Lintang tersenyum, ia juga memberikan kado untuk suaminya itu. Sebuah lukisan mereka berdua yang sengaja ia pesan dari pelukis terkenal. Willy menghadiahi Lintang dengan ciuman bertubi-tubi setelah mendapatkan itu.
__ADS_1
...****************...
Sampai di rumah, rupanya Mama sudah menyiapkan acara kecil-kecilan juga untuk Willy. Acara makan makan istimewa bagi keluarga mereka dan di rayakan di taman belakang. Mama membuat acara berbeqyu. Para pelayan dan pak satpam juga ikut serta karena Miranti ingin semua yang ada di rumah induk merasakan kebersamaan juga.
Jadi lah sekarang, Willy dan Lintang sibuk memanggang. Alvaro tenang sekali di dalam tenda yang didirikan mama. Ia sedang ditemani Kakeknya di dalam.
"Will, kalian kayaknya udah bisa deh tambah anak." Ujar Mama Miranti sambil membalikkan daging panggang.
"On process kok, Ma." Willy mengerling ke arah mama yang menatapnya berbinar. Ia juga menatap Lintang yang mengangguk sambil tersenyum.
"Beneran Lin?" Tanya Mama semangat.
"Iya, Ma. Doain ya biar jadi." Sahut Lintang malu-malu.
Miranti memeluk menantunya itu dengan sayang. Ia senang sekali mendengar kesiapan Lintang itu.
Mereka kembali larut dalam suasana gembira malam ini. Lintang melihat Willy dengan cinta yang semakin menyala. Ia semakin meneguhkan hati bahwa Willy memang seseorang yang sangat ia cintai.
Sampai hari ini, cinta itu masih saja membara, bersemayam dengan nyaman menghuni seluruh ruang dan rongga hatinya. Ia juga senang bisa menemani Willy sampai di hari ulang tahunnya ini.
"Kak, aku berharap bisa mendampingimu hingga kita sama-sama menua." Ujar Lintang lembut, ia menyuapi suaminya.
"Doa yang sama yang selalu aku panjatkan setiap harinya, sayang." Willy menggenggam jemari Lintang yang lentik.
"Aku bahagia sekali malam ini. Rasanya hidupku begitu sempurna karena bisa menemanimu sampai hari ini." Kata Lintang lagi. Willy mengiris kecil daging, giliran ia yang menyuapkan makanan itu ke istrinya.
__ADS_1
"Semua karena kesabaranmu selama ini. Aku beruntung memilikimu."
Willy menatap Lintang intens. Ia suka melihat Lintang yang tersipu malu, ia jadi tampak cantik dan juga lucu. Saat sedang saling suap menyuapi itu, Al berjalan ke arah mereka. Lintang segera meraih anak gantengnya itu ke dalam pelukan.
"Udah ngantuk ya sayang bunda?" Tanya Lintang pada Al yang tertawa menunjukkan dua gigi yang sudah tumbuh. Ia tampak mengusap-usap matanya.
"Kita bawa Al ke dalam ya, dia udah ngantuk." Willy mengambil alih gendongan pada putranya itu.
Mereka meminta izin untuk masuk lebih dulu menidurkan Al. Miranti mengiyakan sambil berceloteh riang dengan para pelayannya.
"Mbok ni cobain yang ibu, enak loh ini." Ia menyuapi Mbok Nah yang segera menerimanya. Mbok Nah tersenyum lalu mengacungkan dua jempolnya.
Suasana akrab antara majikan dan pembantu itu bagai angin sejuk yang menentramkan hati siapapun yang menyaksikannya. Betapa tak ada jarak pemisah, tak ada kasta, tak ada status sosial yang perlu di perdebatkan. Miranti sosok majikan idola semua orang.
Willy meletakkan Al ke dalam box setelah yakin bocah gembul itu sudah tertidur pulas. Ia menyelimuti Al dan mengecilkan suhu AC agar anaknya tidak kedinginan.
Willy menghampiri Lintang, memeluk istrinya itu dari belakang. Hembusan nafasnya membuat Lintang jadi merinding. Willy memainkan tangannya disekitar perut istrinya yang masih terasa rata.
"Nampaknya kita harus berusaha lagi malam ini, sayang." Ujarnya penuh arti. Lintang tersenyum, tentu saja ia mengerti maksud dari suaminya itu.
"Mau dimana, sayang?" Tanya Lintang.
"Di rumah mungil saja." Sahut Willy tepat di telinga Lintang. Lintang menggeliat, terasa hangatnya nafas Willy menggoda dirinya. Ia menatap Willy penuh arti, lalu mengangguk.
Keduanya kemudian menuju rumah mungil. Masuk ke sana dan memulai percintaan panjang malam ini di sofa ruang tengah, kemudian beralih ke kamar mereka lagi.
__ADS_1
"Aku akan membuatmu terbang malam ini." Willy mulai memasuki Lintang yang sudah siap menerimanya. Lintang seperti biasa akan terhanyut dengan permainan suaminya yang gagah dan perkasa itu.
Desah nafas dan decap lidah yang beradu, erangan yang terdengar di seluruh ruang, menggema membuat suasana kian panas dan romantis. Dihentakan yang terakhir, Willy melepaskan cairan cintanya setelah sebelumnya Lintang telah klimaks lebih dulu. Willy mencium perut itu lagi, berharap benihnya akan segera tumbuh tak lama lagi. Hidup dan bersemayam dengan nyaman di rahim sang istri kesayangannya.