
Berita tentang kelahiran putra pertamanya kini telah tersebar ke seantero keluarga besar Dwianuarta Group. Hari ini banyak anggota keluarga yang datang untuk melihat bayi kecil. Lintang sudah bisa beranjak meski untuk beberapa kali ia terlihat harus dibantu oleh keluarganya untuk berdiri.
Audy terlihat antusias sekali pada keponakannya yang baru lahir itu. Semua anggota keluarga nampak bahagia. Di sana juga terlihat Zacky yang menatap Willy dan Lintang penuh perhatian. Ia senang keponakannya telah lahir, buah cinta pasangan suami istri itu.
Namun, di tengah kegembiraan, Lintang harus sedikit bersedih karena kehilangannya akan Sela. Tapi, Lintang tetap yakin suatu hari sahabat baiknya itu akan segera kembali dan pasti bahagia melihat anaknya telah lahir.
"Duh.... gemes banget gue." Ujar Zacky sambil mencubit lembut pipi gembul yang putih yang tengah berada dalam gendongannya itu.
"Jadi pengen punya bayi ya, Kak." Audy nyeletuk yang segera mendapat tatapan melotot dari Kakaknya itu.
"Elo, anak kecil belum boleh punya anak."
"Pengen aja kok, emang gak boleh. Lagian, aku kan udah gede." Gerutu Audy.
"Belajar yang bener, jangan main cinta-cintaan dulu." Sahut Zacky lagi sambil mengacak-acak rambut adiknya itu.
Lintang dan Willy hanya tertawa melihat adik kakak itu. Mereka membuat suasana jadi menyenangkan dan ramai seketika.
"Kak Zacky, kapan akan pindah ke Bandung?" Tanya Lintang di antara candaan kedua kakak beradik itu.
Zacky menyerahkan Alvaro pada Willy yang segera menyambutnya. Bayi kecil itu masih tenang meski telah berapa kali berpindah tangan dan gendongan.
"Minggu depan, Lin." Jawab Zacky, ia menyandarkan tubuhnya ke daun jendela.
Saat mengatakan itu, Audy terlihat sedih. Ia menunduk. Ia pasti akan rindu pada Kakaknya itu. Meski antara Jakarta dan Bandung bisa ditempuh dengan perjalanan darat menggunakan mobil, tetap saja ia akan merasa sepi, sebab setiap harinya nanti akan sendiri tanpa kakaknya lagi.
Zacky menyadari perubahan air muka adiknya itu. Ia berjalan pelan, menuju Audy lalu merengkuhnya dalam pelukan hangat.
__ADS_1
"Sedih banget ya, lo?" Tanyanya lucu. Audy hanya mengangguk saja.
"Kenapa harus pindah, Kak? aku kan jadi sendiri nanti." Keluhnya.
"Eh, katanya lo bukan anak kecil lagi?" Zacky tersenyum, ia tahu adiknya ini sedang gundah.
"Audy biarin jadi anak kecil terus, asalkan Kakak tetap di sini." Balas Audy serak. Zacky tersenyum mendengarnya.
"Lo kan ntar bisa main ke Bandung. Gue udah beli rumah di sana. Lo bisa nginep, tar gue temenin jalan-jalan." Hibur Zacky pada adiknya yang mulai bersedih.
Lintang dan Willy melihat keduanya dengan senyum kecil. Mereka tahu betapa ikatan persaudaraan keduanya begitu erat.
"Tapi, Kak Zacky juga janji ya mesti sering pulang ke Jakarta." Audy mengangkat kepalanya menatap Kakaknya yang tinggi.
"Iya, Bawel lo. Udah ah, malu tau nangis, udah gede juga." Kata Zacky lagi yang segera dibalas Audy dengan gerutuan kecil.
"Ih, katanya aku masih kecil, gimana sih Kak Zacky nih." Celetuknya lucu. Ia segera berlalu dan kembali sibuk dengan keponakan kecilnya, meninggalkan Zacky yang tertawa melihat tingkahnya itu.
Lintang terlihat menyusui pangeran kecilnya sambil mengobrol hangat dengan Audy dan anggota keluarga perempuan yang lain.
...****************...
Satu persatu anggota keluarga besar sudah pulang. Mereka meninggalkan banyak sekali kado untuk bayi kecil. Willy membantu memindahkan kado-kado itu dan menyusunnya dengan rapi di sudut kamar.
"Bagaimana kalau anak kita lebih dari satu, pasti kadonya akan sangat banyak lagi." Willy tertawa dan melihat semua tumpukan kado itu.
"Kak, tolong letakkan Al di dalam sana ya." Lintang menyerahkan bayinya yang telah selesai disusui dan telah tertidur pulas.
__ADS_1
Willy meletakkan bayinya dengan pelan dan hati-hati ke dalam baby box. Ia sendiri kemudian kembali ke ranjang. Ia merengkuh Lintang. Istrinya nampak cantik di beberapa bagian tubuh yang padat. Namun ia harus menahan hasrat karena masa berpuasa masih cukup lama.
"Aku sangat merindukanmu." Ujar Willy lembut. Lintang mengerti apa artinya. Ia meraih jemari Willy.
"Aku juga, tapi kita harus menunggunya sampai lewat masanya ya." Lintang memberi pengertian pada suaminya itu. Willy mengangguk mengerti.
"Tapi, aku boleh kan menyentuh ini?" Willy menunjuk bibir Lintang yang ranum.
"Sebanyak yang kau mau, Kak." Sahut Lintang yang segera di balas ******* mesra dari suaminya. Lintang membiarkan Willy mencium bibirnya, mengakses rongga mulutnya. Mereka berpagutan cukup lama dan penuh perasaan.
"Kau semakin cantik setelah melahirkan." Kata Willy sambil mengecup lagi bibir Lintang yang telah basah.
Lintang melingkari tangannya di leher Willy. Ia merasa bahagia sekali. Kebahagiaannya telah lengkap dengan kehadiran Alvaro di tengah-tengah mereka. Ia sempurna sebagai perempuan, cita-cita tertinggi wanita ialah menjadi istri juga seorang ibu. Kini ia telah mendapatkan semua itu.
"Kak, semoga pernikahan kita berlangsung selamanya. Aku mencintaimu." Lintang mengecup kening suaminya hangat dan penuh cinta.
Willy memeluk Lintang erat. Mengucapkan syukur berulang-ulang atas nikmat yang telah di dapatkannya dari perempuan ini. Perempuan hebat yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk dirinya. Merelakan masa mudanya dengan menjadi istri juga seorang Ibu.
Lintang dan pikirannya yang dewasa telah membuat kehidupannya yang dulu dingin, angkuh dan liar menjadi lebih tertata.
Willy juga tidak ingin mengecewakan Lintang lagi. Ia akan membahagiakan Lintang dan anak-anak mereka dari segala arah, berusaha melindungi mereka dengan segala cara.
Mereka kembali berciuman lagi, Lintang kembali melingkarkan lengannya di leher Willy yang juga memeluk pinggangnya. Keduanya hanyut dalam perasaan rindu dan cinta yang datang bersamaan. Willy juga berusaha menahan dan menundukkan benda keramat yang mulai bangun setiap kali ia menyentuh Lintang. Ia tidak boleh egois, saat ini Lintang masih dalam masa pemulihan.
Saat sedang asyik bermesraan, suara tangis bayi Alvaro terdengar lagi mengejutkan mereka berdua. Lintang menghentikan gerakannya seketika. Ia menatap Willy sambil tersenyum lucu mengisyaratkan untuk segera menenangkan bayi mereka.
"Kau tahu saja ayah dan bundamu sedang bermesraan." Kata Willy sambil menjawil puncak hidung mungil bayinya itu.
__ADS_1
Willy membawa bayinya keluar dari kamar. Ia menimang, menyanyikan lagu juga mengajak bayi mereka berbicara seperti biasa. Besok ia akan kembali ke perusahaan, ia ingin menghabiskan waktu dengan bayinya sepuas mungkin karena besok dan seterusnya ia akan sibuk di perusahaan dan kembali ke rumah saat waktu sudah senja dan bisa jadi ketika ada problem ia akan kembali terlambat sampai di rumah.
Namun, ia tahu setelah kembali akan ada dua orang yang sangat menanti kepulangannya, membuat Willy kembali bersemangat menjalani hari-harinya.