
"Lin, malam ini aku pulang telat ya." Ujar Willy sambil menggulung setengah lengan kemejanya.
"Ada acara?" Tanya Lintang sambil mendekati Willy.
"Iya, ada undangan dari rekan bisnisku. Gak enak gak datang."
"Acaranya dimana, Kak?"
Willy memandang istrinya, ia tersenyum sesaat.
"Di salah satu club malam Lin, aku boleh gak datang ke sana? sebentar saja, tidak enak karena dia rekan bisnis ku. Aku janji tidak akan macam-macam, Setya juga akan menemaniku." Ujarnya lembut. Lintang tampak berpikir sesaat, sebenarnya ia tidak suka, namun dengan menarik nafas panjang akhirnya ia menjawab.
"Pergilah Kak, jangan lupa jaga hati dan dirimu." Berat Lintang rasanya, namun ia tahu ia tidak boleh egois. Lagi pula, ia yakin Willy pasti bisa menjaga hatinya.
Willy mengecup kening istrinya mesra. Ia sangat berterima kasih atas pengertian dari istrinya itu. Lintang menyunggingkan senyum mencoba menghilangkan khawatir di hatinya.
...****************...
Saat malam tiba, Lintang belum juga bisa tidur. Ia tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Apalagi ditinggal Willy yang harus datang ke acara rekan bisnisnya di tempat seperti itu. Meski ia tahu ada Setya yang menemani, tetap saja ia merasa khawatir.
Sedari tadi, Lintang juga jadi sering berbalik, balik kiri balik kanan, telentang dan banyak lagi yang lain. Ia jadi tidak karuan. Pikiran nya jadi melantur, memikirkan hal-hal buruk yang membuatnya jadi susah tidur.
"Kok kamu gak angkat telepon aku kak." Desah Lintang lesu sambil menatap layar ponselnya.
Akhirnya karena lelah menunggu, ia membiarkan pikirannya juga lelah dengan sendirinya. Lintang mencoba untuk terpejam, dan mulai tidur juga akhirnya.
Sementara di sebuah room club malam, Setya menemani Willy. Ia juga tidak memesan minuman beralkohol, melainkan hanya memesan minuman bersoda dan juga es batu.
Willy bukannya tidak pernah ke tempat ini, sebelum ia menikah dengan Lintang, tempat seperti ini malah sudah sangat akrab dengannya. Namun, sekarang semuanya telah berubah, ia juga jadi sedikit risih apalagi di dalam room yang di pesan rekannya, ada beberapa wanita penghibur.
Willy menolak dengan halus namun tegas setiap tawaran dari para perempuan dengan pakaian minim itu.
"Gue gak bisa lama, Yo, istri gue nungguin di rumah." Willy berbisik pada Ryo, si tuan acara yang sedang di layani oleh perempuan penghibur.
"Lo gak kepengen gue pesenin cewek dulu?" Tanya Ryo menawarkan. Willy tertawa sekilas kemudian menggeleng.
__ADS_1
"Gak deh."
"Setia banget lo sama istri." Celetuk Ryo membuat Willy kembali tertawa.
"Lo sendiri, emang belum punya istri?" Tanya Willy sambil menyesap minumannya.
"Ada. Tapi kalo diluar, gue single." Katanya lagi, Willy hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. "Jangan pulang dulu, ada satu lagi temen gue baru pulang dari Ausy, katanya dia tertarik mau kerja sama dengan perusahaan lo." Sambung Ryo menahan Willy.
"Kita tunggu satu jam lagi." Willy berbisik pada Setya yang segera mengangguk.
"Tuan, mau ditemani?" Seorang perempuan dengan tubuh aduhai mendekati Willy. Tapi Setya menahannya.
"Tuan saya tidak membutuhkan teman wanita." Ujarnya tenang. Si perempuan malam memandangnya kesal lalu berlalu dan duduk di samping pria lain.
Setelah menunggu hampir setengah jam, seseorang yang mereka tunggu datang juga. Ia adalah seorang pria. Ryo mengenalkan mereka berdua.
"Devan." Pria itu mengulurkan tangannya.
"William." Willy menjabatnya.
"Lo suami Lintang?" Tanya Devan tiba-tiba, membuat Willy memalingkan pandangannya. Di tengah suara musik, ia masih bisa mendengar dengan jelas pria ini menyebut nama istrinya.
"Ya. Lo kenal istri gue?" Tanya Willy penuh selidik. Devan tertawa kecil.
"Karena dia harus menikah dengan lo, gue dulunya jadi gak punya kesempatan untuk ngelamar dia."
Willy merasakan panas seketika. Ia mendengus kesal.
"Pembicaraan macam apa ini?!" Geram Willy seketika. Ia kesal karena Lintang tidak pernah bercerita tentang orang-orang yang pernah dekat dengannya, ia juga geram karena lelaki bernama Devan ini malah bercerita tiba-tiba seperti itu, membuatnya jadi panas seketika.
"Sorry, sepertinya pembicaraan seperti ini gak layak buat di omongin di tempat seperti ini." Willy beranjak, diikuti Setya mereka keluar dari ruangan. Setya melihat air muka atasannya itu jadi berubah.
Ryo yang melihat itu memandang Devan yang sedang menghidupkan rokok dengan tatapan bingung. Pasalnya, ia melihat ada kilatan marah di wajah Willy setelah mengobrol dengan Devan.
"Kenapa Willy?" Tanya Ryo penasaran.
__ADS_1
Devan hanya mengangkat bahu tidak peduli. Ia terkenang beberapa tahun yang lalu ia pernah menyukai perempuan bernama Lintang, perempuan yang pernah bertemu dengannya tanpa sengaja di sebuah kampus saat ia mengisi acara seminar di sana.
Ia juga sering mencari tahu perihal Lintang kepada penghuni kampus, Lintang juga ramah kepadanya, ia menyukai perempuan itu, namun ia harus menelan kenyataan pahit saat mendengar berita bahwa Lintang akan segera menikah.
"Lin, aku boleh ajak kamu jalan?" Tanya Devan saat ia kembali mengunjungi kampus.
"Maaf Mas Devan, aku gak bisa, udah di tungguin Kakek di rumah." Lintang waktu itu menolak dengan halus.
Devan mengangguk mengerti, tapi ia tidak patah semangat.
"Kamu bisa kan temani aku kali ini?" Devan bertanya lagi di hari selanjutnya. Dan saat itu Lintang tidak enak untuk menolaknya. Ia menemani Devan makan siang beberapa kali.
Tapi disuatu hari, Lintang mengatakan sesuatu yang membuatnya jadi patah hati.
"Mas Devan, kita gak usah ketemu lagi ya. Kakek udah jodohin aku sama cucunya yang di Perancis." Ujar Lintang waktu itu.
Devan memandangnya lemas.
"Kenapa kamu gak nolak Lin? Kamu bisa menentukan pilihan kamu."
"Pilihan ku adalah patuh pada Kakek, Mas. Maaf ya, lebih baik mas Devan cari perempuan lain aja."
Kata-kata itu bagai sembilu bagi Devan. Ia harus merelakan gadis yang ia sukai menikah dengan lelaki lain.
Sejak itu Devan tidak lagi tahu kabar Lintang. Sampai akhirnya hari pernikahan Lintang dan Willy terdengar juga. Dan sebenarnya, kedatangannya ke club malam ini hanya untuk menghadiri acara Ryo tapi ia tidak menyangka akan bertemu Willy.
Ia juga tidak menyangka Willy akan bereaksi demikian.
Di dalam mobil dengan Setya yang menyetir, Willy duduk di belakang dengan ekspresi datar. Ia tidak pernah merasa cemburu seperti ini. Mungkin kalau Lintang bercerita padanya dulu, ia tak akan seperti ini.
"Tuan, anda tidak apa-apa?" Tanya Setya sedikit khawatir.
"Tidak, hanya sedikit cemburu." Sahut Willy jujur.
Setya hanya mengangguk kecil. Ia tahu bukan hanya sedikit, tapi sangat cemburu. Dalam hati Setya jadi tertawa geli sendiri pada atasannya itu. Willy tidak pernah cemburu pada apapun sebelum ini, tapi hanya karena pria yang dulu pernah menyukai istrinya ia jadi seperti orang yang kebakaran jenggot saja.
__ADS_1