
Di suatu siang yang terik saat itu restoran sedang ramai-ramainya, Lintang berada di dapur, ia memantau para koki juga dan membantu mereka menyiapkan makanan pesanan. Hari ini restoran mereka juga di pakai untuk acara ulang tahun pelanggan setianya. Belum lagi banyaknya orderan yang masuk yang harus diantarkan ke perusahaan besar yang menggunakan jasa catering dari restorannya.a Lintang jadi harus datang untuk memastikan keadaaan atau situasi di restoran berjalan lancar dan semestinya.
Namun saat sedang berjalan di sekitar dapur untuk mengecek stok makanan beku, Lintang tiba-tiba terpeleset. Tubuhnya jatuh terjerembab ke lantai, membuatnya meringis.
"Mbak Lintang!" Para pelayan seketika menghampirinya, membantunya berdiri dan memapahnya.
Lintang berusaha menahan perutnya. merasa sedikit ngilu di bagian pinggang.
"Perut dan pinggangku nyeri banget." Adu nya pada Nora yang segera bergerak membantu atasannya itu.
"Mbak Lintang, kita ke rumah sakit ya." Ujar Nora cepat. Lintang mengangguk pelan. Rasanya perutnya sekarang memang sedang tidak baik-baik saja. Nyeri panggul dan perutnya malah semakin terasa.
Nora mengantarkan Lintang sampai ke rumah sakit. Lintang segera dilarikan ke UGD untuk dilakukan pemeriksaan.
Sementara Lintang sedang diperiksa, Nora menelepon Willy. Teleponnya langsung tersambung. Terdengar suara Willy yang sangat panik di ujung telepon.
Dan setelah di lakukan pemeriksaan awal, Lintang langsung di alihkan dan diantarkan ke ruangan dokter kandungan.
Willy datang tergopoh-gopoh, ia panik luar biasa, ia juga belum mengabarkan mama, tidak ingin mama ikut khawatir juga.
"Gimana Lintang?" Tanya Willy dengan mimik cemas yang sangat kentara.
"Sedang di periksa, Tuan." Nora menjawab sama cemasnya.
"Kenapa bisa jatuh?" Tanya Willy sambil meremas rambutnya sendiri, ia selalu begitu, saat panik atau sedang tidak bisa berpikir jernih.
"Mbak Lintang memaksa untuk bekerja di dapur, Tuan. Padahal, kami sudah melarangnya." Ujar Nora penuh sesal.
Willy terduduk di kursi tunggu. Ia tidak berhenti bolak balik di depan pintu ruang pemeriksaan, mengusap wajah, meremas rambut dan sederet hal lain yang bisa membuatnya lebih tenang dari ini.
"Suaminya Nona Lintang?" Suara itu terdengar bersamaan dengan pintu yanh terbuka. Willy segera mendekat.
"Saya Sus."
"Silahkan masuk, pak, dokter ingin bicara pada anda."
Willy mengikuti instruksi perawat. Ia segera disambut senyum dokter yang kini menangani istrinya.
"Gimana kondisi istri saya, Dokter?" Tanya willy cepat.
__ADS_1
"Kondisi sekarang sudah lebih baik, Tuan. Nona Lintang, mengalami benturan yang cukup keras, namun ia beruntung, posisinya saat terjatuh tidak langsung menghantam tulang ekor. Nona Lintang sekarang baik-baik saja."
Willy menarik nafas lega, tapi kemudian ia terkenang sesuatu.
"Bagaimana dengan anak kami, dok?" Tanya Willy lagi dengan cemas yang kembali terasa.
"Tenanglah, Tuan. Benturan tidak serta merta akan berakibat fatal pada kandungan. Bayi dilindungi dengan kantung ketuban yang berisi cairan untuk melindungi mereka dari guncangan, juga disana ada dinding rahim. Jadi setelah di lakukan pemeriksaan pun, kondisi bayi kalian tidak apa-apa." Sahut dokter sambil tersenyum. Willy kembali bernafas lega mendengarnya.
"Apa saya sudah bisa menemui istri saya?"
"Silahkan, Tuan. Juga tolong ingatkan kepada istri anda untuk tidak banyak bergerak dulu sampai tubuhnya betul kuat kembali."
Willy mengangguk lalu bergegas menghampiri istrinya yang masih terpejam. Willy duduk di samping ranjang Lintang. Ia meraih jemari Lintang lembut lalu mengecupnya.
"Sayang." Panggil Lintang.
Willy mengangkat wajahnya.
"Lintang.." Desahnya pelan. "Tolong jangan begini lagi, aku khawatir sekali." katanya lagi, wajahnya tampak sedih.
"Maafkan aku ya. Harusnya aku dengar untuk tidak pergi ke restoran dulu."
"Syukurlah, Kak. Kalau terjadi apa-apa dengan bayi kita, aku pasti tidak bisa memaafkan diriku sendiri." Lintang berkata dengan penuh penyesalan.
"Sudahlah Lin, tidak apa. Setelah ini, kau harus banyak istirahat ya. Fokus saja dengan kandungan mu dulu." Balas Willy penuh pengertian.
"Apa aku sudah boleh pulang?"
"Dokter menyarankan mu untuk di rawat sampai dua hari ke depan. Ikuti saja ya, agar kondisimu segera pulih."
"Iya Kak, aku mengerti."
"Apa, perutmu masih nyeri?" Tanya Willy sambil mengelus perut besar istrinya itu.
"Iya Kak, masih terasa sedikit nyeri." Lintang meringis.
"Ya sudah, istirahat dulu ya. Jangan banyak bergerak." Willy mengecup kening Lintang, lalu keluar ruangan perawatan.
Saat di luar, Willy menelepon mama dan seperti yang sudah ia duga, mama akan menjadi orang yang paling panik setelah mendengar kabar ini.
__ADS_1
"Gak papa, Ma. Kondisinya udah stabil kok." Willy berusaha menenangkan mamanya.
"Gimana gak khawatir, Will. Aduh Lintang, udah mama ingetin sih gak usah ke restoran dulu." Keluh mama di ujung telepon.
"Udah Ma, gak papa kok. Lintang oke, sekarang lagi istirahat."
"Iya Will, mama segera ke sana ya." Sahut mama dengan suara panik yang masih kentara.
"Iya Ma, hati-hati ya di jalan. Mama jangan nyetir sendiri, minta antar saja ya sama mang Ujang."
Sambungan telepon terputus, Willy kembali lagi ke dalam ruang perawatan dimana istrinya saat ini sedang berbaring dan terpejam.
Ia kemudian keluar lagi, menghampiri Nora yang masih menunggu di luar.
"Nora, kamu bisa kembali ke restoran. Saya serahkan restoran sementara ini sana kamu ya. Handle dengan baik situasi di sana." Ujar Willy pada Manager restoran tersebut. Nora mengangguk paham.
"Mbak Lintang gimana, Tuan?" Ia masih khawatir pada atasannya.
"Sudah membaik, hanya sekarang perlu ekstra istirahat." Sahut Willy sambil tersenyum kecil.
Nora akhirnya kembali ke restoran. Sekitar setengah jam kemudian, mama datang bersama Mbok Nah dengan Al juga.
"Lintang mana?" Tanya Mama cepat.
"Di dalam, Ma. Lagi tidur."
"Mama mau lihat ya." Mama menyeruak masuk ke dalam ruang perawatan. Ia melihat Lintang yang pucat. Ia mengelus rambut menantunya itu.
"Kau ini Lin, sudah bekerja terlalu keras. Padahal, mama sudah memintamu untuk di rumah saja. Jangan diulangi lagi ya." Katanya pelan seolah Lintang bisa mendengarnya.
Ia kemudian kembali keluar mengajak Willy untuk berbincang sebentar. Willy terlihat sedang menggendong Al. Ia tidak kembali lagi ke perusahaan dan ingin menjaga Lintang saja.
"Nanti mama pulang saja ya. Aku titip Al juga ya Ma. Biar aku yang menjaga Lintang disini."
Mama mengangguk paham, biarlah Willy yang menemani Lintang. Yang dibutuhkan Lintang saat ini memang hanyalah suaminya.
Papa juga sudah di kabari tadi, ia sangat terkejut tetapi mama meyakinkannya bahwa Lintang dan juga kandungannya sehat-sehat saja tidak mengalami cidera yang serius.
"Sayang, aku akan istirahat di sana." Willy menunjuk Sofa di seberang ranjang Lintang. " Kalau ada yang kau perlukan, panggil saja aku ya." Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Lintang mengangguk, mama, Mbok Nah dan Al sudah kembali ke rumah. Willy memutuskan untuk tinggal di rumah sakit menemani istrinya disana.