Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
19. Kedatangan Fiska.


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak peristiwa di kamar hotel waktu itu, yang artinya hari pernikahan kini benar-benar terasa telah begitu dekat. Selama itu pula, Lintang telah dilarang untuk melakukan kegiatan di rumah induk. Ia tidak lagi diizinkan untuk mengerjakan tugasnya seperti biasa. Nyonya besar selalu menyuruhnya untuk istirahat untuk menjaga agar tubuhnya selalu sehat sampai acara itu selesai. Sebenarnya, ada untungnya juga ia dilarang untuk melakukan tugasnya seperti biasa, karena itu berarti ia juga akan jarang bertemu Willy. Namun siang ini, Nyonya besar malah ingin dibuatkan kue. Jadilah saat ini ia sibuk di dapur. Dengan celemek dan juga beberapa bahan yang sedang serius dikerjakannya.


Saat sedang sibuk di dapur, samar-samar ia mendengar Tante Miranti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Suara perempuan juga. Lintang meneruskan kegiatannya membuat kue.


Di ruang tamu yang sangat besar dan luas itu, Fiska duduk dengan anggun. Dengan dress berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya. Ia membawakan bunga bucket dan beberapa kado lain untuk Wanita itu yang diterima Miranti dengan senyuman.


"Sudah lama ya Fiska gak kesini. Kamu makin cantik saja." Puji Miranti pada mantan kekasih putranya itu.


"Iya Tante, aku kangen banget sama Tante. Oh iya, Willy mana ya Tan?" Tanya gadis itu sambil celingukan. Miranti tersenyum kecil.


"Willy akhir-akhir ini sibuk sekali, bolak balik untuk mempersiapkan acara pernikahannya." Sahut Miranti. Ia sengaja mendramatisir perkataannya pada gadis itu.


"Oh, Willy akan segera menikah Tan?" Tanyanya dengan mimik terkejut yang dibuat-buat.


"Iya, tiga hari lagi. Calon istrinya juga cantik sekali. Gadis sederhana, sesuai dengan kriteria calon mantu keluarga besar kami." Lagi-lagi Miranti mengatakannya dengan terbuka. Ia tahu saat ini Fiska sedang kepanasan mendengarnya.


"Wah, siapa gadis beruntung itu, Tan?" Tanyanya lagi pura-pura antusias.


"Ada, nanti Tante kenalkan. Dia tinggal di sini juga." Sahut Miranti tak kalah antusiasnya. Fiska terbelalak, kalau yang ini dia benar-benar terkejut.


"Tinggal di sini, Tan?" Tanyanya tidak yakin. Miranti mengangguk senang. Lalu ia memanggil Lintang yang masih sibuk dengan kue di dapur.


Fiska menatap Lintang dengan pandangan yang tidak suka. Cantik, ya benar gadis itu bahkan lebih cantik darinya. Tubuhnya juga indah. Matanya apalagi. Tapi, dandanannya sungguh sederhana, apalagi dengan celemek di tubuhnya itu membuat Fiska hampir tertawa.

__ADS_1


"Lintang, ini Fiska. Mantan eh Teman Willy dulu waktu masih sekolah." Lagi-lagi Miranti mengatakannya dengan senyum yang bagi Fiska itu adalah senyum mengejek yang harus ia hapus saat ini juga.


Fiska menyambut uluran tangan Lintang dengan senyum ramah yang kembali dibuat-buat.


"Nona, selamat datang. Senang berkenalan dengan anda." Ujar Lintang penuh hormat. Miranti langsung mengambil alih.


"Ehh, jangan panggil Nona, Fiska itu teman Willy. Panggil saja Kak Fiska seperti Lintang memanggil calon suami Lintang ya." Oh, lagi-lagi Miranti melakukan itu.


Fiska mengepalkan tangannya tanpa sadar. Ia kembali bersikap seperti biasa setelah Willy nampak turun dari lantai atas. Ia tampak terkejut melihat kedatangan Fiska.


"Aduh, Mama kira kamu di luar, jadi mama gak ke kamar tadi buat bangunin kamu." Ia mengatakan itu benar-benar dengan lembut tapi bagi Fiska ia tahu bahwa Miranti memang sengaja tidak memanggil Willy sedari tadi.


"Iya Ma, gak papa. Fis, udah lama?" Tanya Willy.


"Nah, Willy temani dulu teman lamanya ya. Mama mau bantu Lintang buat bikin kue di dapur." Ujar Miranti sambil merangkul Lintang. Kemudian mereka berbalik dan berjalan menuju dapur. Lintang bisa melihat kemarahan yang ditujukan untuknya. Meski ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi ia yakin dulu Willy memiliki hubungan istimewa dengannya. Lintang juga jadi tidak enak hati melihat perlakuan istimewa yang ditunjukkan calon mertuanya pada Fiska barusan.


Di dapur, mereka kembali sibuk dengan adonan kue yang sudah jadi beberapa loyang. Miranti seperti biasa akan mencicipi dahulu. Ia selalu suka dengan apapun makanan buatan tangan Lintang. Miranti jadi punya ide untuk menghadiahkannya sesuatu nanti pada Lintang sehubungan dengan bakat memasaknya itu.


...****************...


Willy dan Fiska sudah berpindah tempat. Mereka kini duduk santai di kursi taman belakang. Willy sendiri tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sebenarnya sama sekali tidak menyukai kedatangan gadis itu.


"Mama kamu kayaknya sayang banget sama gadis itu." Fiska membuka percakapan. Willy hanya mengiyakan saja.

__ADS_1


"Ngapain ke sini Fis?" Tanya Willy.


"Aku kangen aja sama kamu." Jawab Fiska, ia meraih jari Willy lalu menggenggamnya.


"Aku udah mau nikah. Mending kamu jangan sering ke sini. Mama gak akan suka." Sahut Willy sambil melepaskan genggaman tangan gadis itu.


"Will, kenapa sih kamu gak coba buat buka hati kamu ke aku lagi. Lagi pula gadis tadi tidak cocok sama sekali sama kamu. Dia kayak pembantu." Ujar Fiska putus asa. Willy menoleh, melihat gadis itu dari atas sampai bawah.


"Terus, kamu pantas?" Balas Willy telak.


"Tentu saja. Aku jauh lebih segalanya dari dia." Sahut Fiska setengah berteriak.


"Sudah berapa laki-laki yang menjamah ini." Willy berkata sambil menunjuk dada Fiska yang bulat menantang dibalik dress ketatnya. "Lalu, ini." Tunjuknya lagi pada bagian lainnya.


Fiska merasakan kemarahan yang teramat saat ini. Wajahnya seketika merah padam. Ia berdiri, kemudian meninggalkan Willy di taman. Willy tertawa kecil melihat mantan kekasihnya itu. Kata-katanya barusan memang ampuh membungkam semua kesombongan Fiska tadi.


Fiska sendiri telah sampai di dalam mobilnya. Ia melajukan mobil mewah itu meninggalkan kediaman megah milik keluarga besar Willy. Airmata nya mengalir mengingat penghinaan yang dilakukan Willy barusan. Fiska tidak akan menyerah. Sudah ia tekadkan akan merebut kembali Willy ke dalam genggamannya. Saat itu juga ia teringat Miranti, Ibu Willy itu benar-benar membuat darahnya mendidih. Bisa-bisanya ia membandingkan gadis lusuh itu dengan dirinya yang lebih segalanya ini.


"Perempuan brengsek!" Dengusnya sambil memukul setir. Ia benar-benar sudah di permalukan. Fiska tahu Ibu dari lelaki yang cintainya itu menyindirnya secara halus tadi. Juga menunjukkan betapa ia bersyukur akan mendapat menantu sebaik Lintang bukan gadis lain termasuk dirinya. Fiska mengerang hebat, airmatanya turun semakin deras. Hina? iya hina memang. Bukankah sudah terlanjur hina dan itu berarti ia tidak perlu menyerah dan menghentikan langkah.


Kalian harus membayar mahal semua penghinaan ini padaku. Dan kau gadis kampung, kau akan merasakan akibatnya. Akan ku buat perhitungan padamu nanti karena kau telah berani merebut Willy dariku. Tunggu saja pembalasan dariku nanti. ****** !!!


Fiska membatin penuh kemarahan dan dendam. Semua rencana jahat tiba-tiba secara cepat muncul di otaknya. Ia tersenyum licik membayangkan hari pembalasan itu nanti.

__ADS_1


__ADS_2