Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Sela, Kau kenapa?


__ADS_3

Lintang masih mengikuti perkuliahan seperti biasa. Pagi ini ia datang dengan diantar Willy. Willy juga seperti biasa akan mengantar istrinya sampai di depan kelas. Dengan perutnya yang sudah membuncit itu, Willy jadi khawatir membiarkan Lintang terlalu lama jauh darinya. Bulan depan ia sudah mengurus cuti kuliah untuk istrinya itu.


"Lin, nanti kalau kau pusing segera istirahat ya. Aku sudah mengatakan pada dosen mu, untuk membantu kau saat sedang tidak nyaman." Ujar Willy sambil membelai perut istrinya.


"Iya Kak, aku mengerti. Kakak, hati-hati di jalan ya."


"Iya sayang, I love u." Willy mengecup keningnya.


"I love u too, suamiku." Lintang melepas Willy dengan senyuman.


Mobil Willy telah menjauh meninggalkan kampus. Lintang masuk ke dalam, ia melihat Sela, sahabat baiknya. Namun, ia nampak murung tidak seperti Sela biasanya.


"Sel, kenapa kok kayak ada yang beda." Lintang menyapanya dengan kening berkerut. Sela memalingkan wajah, menatap Lintang sesaat kemudian ia tersenyum.


"Gak papa kok Lin. Gue kurang tidur nih, liat mata gue item kayak mata panda." Sela terkekeh, berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Gak, kamu beda banget. Aku tau kamu lagi sedih. Ada apa Sel, ayo cerita." Lintang membujuk gadis itu.


"Ih beneran Lin gue gak papa. Lo tau gak sih, gue beberapa malem ini sering banget ke club malam. Jadi bawaannya lesu kalo udah pagi." Sela kembali terkekeh.


"Kamu ngapain ke sana Sel? Aku takut kamu nanti dijahatin orang kalo ke tempat begitu." Lintang meraih jemari Sela lalu menggenggamnya.


"Bawel ih. Gak papa Lintang sayang. Gue kesana pergi have fun, joged joged." Sela mengelak, membuat Lintang merengut.


"Kamu itu sahabat aku, Sel. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Kalau ada yang mengganjal di hati kamu, nanti cerita ya." Kata Lintang lagi. Sela mengangguk.


"Siap bos. Eh, apa kabar sih ponakan aunty?" Sela mengusap perut Lintang yang sudah besar itu.

__ADS_1


"Dia baik kok, sekarang aktif banget. Suka nendang." Sahut Lintang sambil tertawa.


"Uluh-uluh, pasti cowok deh ponakan aunty." Sela tertawa geli.


"Sel, kamu kalo ada apa-apa jangan lupa aku selalu siap bantu." Lintang kembali menggenggam jemari sahabatnya. Tanpa terasa air mata Sela menetes, namun secepat mungkin ia mengembalikan lagi situasi.


"Duh.. gue jadi terharu. Makasih ya Lin. Gue sayang banget sama lo." Sel memeluk Lintang. Ia menangis tanpa suara, berusaha menghapus airmatanya. Sela tahu, Lintang dan dirinya sudah sangat dekat. Lintang baik juga sayang padanya. Namun, Sela tidak mau menyusahkan Lintang. Sahabatnya baru saja menemukan kebahagiaan, ia tidak ingin mengganggunya. Biarlah, masalah yang sedang ia hadapi biar ia sendiri yang menanggung.


...****************...


Selama kelas berlangsung, dengan Bu Lengga, dosen killer yang sedang menjelaskan materi di depan podium, Sela termenung. Ia terlihat fokus pada satu titik namun Lintang tahu, sahabatnya sedang menatap kosong. Sela memang begitu, ia tidak pernah mau membawa orang lain dalam kesusahannya. Ia lebih baik memendam, memendam sakit sendirian, memendam kemarahan sendirian. Sela tidak mau menyusahkan siapapun. Itulah prinsipnya dari dulu.


"Sel.." Lintang memanggilnya setengah berbisik. "Sel.." Ulangnya lagi saat ia merasa Sela tidak mendengar panggilannya.


"Iya Lin, kenapa?" Tanya Sela akhirnya, ia memalingkan wajah mendapati Lintang yang memandangnya khawatir.


"Bawel ih. Jangan berisik tar tuh dosen killer ngamuk." Sahut Sela sambil tertawa kecil. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik.


"Abis kamu ngelamun, aku gak biasanya liat kamu begini."


"Sumpah gue gak papa, Lin. Percaya sama gue ya." Kata Sela. Akhirnya Lintang pun mengangguk.


Setelah mengikuti beberapa mata perkuliahan hari ini, Lintang dan Sela akhirnya duduk di bangku panjang persis di depan pohon beringin.


"Minum nih, ibu hamil mesti banyak minum, Lin. Biar lancar metabolisme lo. Juga tercukupi kebutuhan cairan lo sama bayi." Sela menyerahkan sebotol air mineral kepada Lintang yang segera menyambut dan menerimanya.


"Aku gak lihat kamu bawa mobil, pulang bareng aja nanti." Lintang tampak mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari mobil Sela biasa terparkir.

__ADS_1


"Oh itu, mobil gue masuk bengkel. Gue pulang naik taksi aja, sekalian mau lihat mobil gue udah selesai belum di benerin. Lo pulang aja duluan ya, Lin. Istirahat sama jangan lupa minum vitamin." Ujar Sela dengan mata yang melihat mobil Willy yang baru datang.


"Kamu beneran gak mau ikut aku pulang, Sel?"


"Nggak usah Lin, percaya deh sama gue, gue baik-baik aja." Sela berusaha meyakinkan sahabatnya itu. Ia kemudian menunjuk mobil suami Lintang yang telah memasuki halaman kampus.


"Ya udah Sel, aku dulu ya. Kamu aku tinggal gak papa ya?" Tanya Lintang ingin meyakinkan.


"Gak Lin, gue ok." Sela membentuk jarinya membulat dan tiga jari berdiri tegak.


Lintang akhirnya meninggalkan Sela sendirian. Sela menunggu di persimpangan kampus, tempat biasa ada kendaraan umum akan lewat, sebuah bus. Lama ia menunggu sampai akhirnya bus datang menuju ke arahnya.


Sela tersenyum bagaimana tadi ia membohongi Lintang tentang keadaannya sekarang. Tapi Lintang tidak perlu tahu juga, tidak akan menyusahkan sahabatnya itu.


Sela terdiam selama dalam perjalanan pulang. Ia ingin menangis, menumpahkan segalanya namun, Sela tidak mudah menyerah akan hatinya. Ia akan melewati ini sendirian, ia tidak ingin membuat orang-orang terdekatnya jadi ikut memikirkan dirinya .


"Ma, mama harus sembuh ya, Sela gak punya siapa-siapa lagi." Sela memeluk tubuh ibunya yang semakin lemah dari hari. Perbincangan penuh emosi itu berlangsung sebelum ia pergi ke kampus pagi itu.


"Tabah ya Sel, ini cobaan untuk keluarga kita." Ibunya membalas sembari mencium kening anak gadisnya.


"Iya, Ma." Sela hanya membalas singkat semua perkataan Ibunya barusan.


Sela kembali melamun, matanya menatap keluar jendela. Ia sedih mendapati kenyataan ini. Sela sedih keluaganya kini hancur berantakan. Sela mengusap airmatanya sendiri. Sela pasrah akan seperti apa nanti kehidupannya, namun Sela tidak akan pernah tau dalam beberapa bulan ke depan ia akan menjalani hidup yang lebih berat lagi dari ini.


Sela memejamkan mata, selama perjalanan menuju rumahnya, ia tertidur. Tidak ingin membiarkan pikiran-pikirannya melantur. Sela teringat Lintang, sahabat karib yang sangat disayangi oleh dirinya. Sela tidak ingin merepotkan Lintang. Ia tahu Lintang sedang sangat bahagia kini, dan Sela tidak ingin mengusiknya sedikit pun Jadi lebih baik ia memendam semuanya.


Tidak berapa lama kemudian, bus sampai di depan sebuah rumah sederhana Sela, tempat yang kontras dengan rumah mereka dulu. Sela akhirnya berjalan, membuka pintu yang berdecit dan akhirnya masuk ke dalam ruangan sempit itu. Ia memeluk ibunya yang sedang tertidur pulas.

__ADS_1


"Bersabarlah, Ma. Sela akan berusaha mengembalikan keadaan kita seperti dulu." Ujar Sela sambil memeluk ibunya. Sela sendiri sangsi akan mampu mengembalikan semuanya seperti dahulu kala. Ia pasrah namun tetap akan berusaha.


__ADS_2