Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Papa Sadar !


__ADS_3

Sore yang gerimis itu tidak menyurutkan langkah Willy dan Lintang menyusuri koridor rumah sakit untuk segera sampai ke ruang ICU. Mereka semangat karena mendengar kabar dari Mama bahwa papa sudah sadar dari masa kritisnya. Al masih di titipkan dulu pada Mbok Nah. Willy tidak mengizinkan putranya ikut karena suasana rumah sakit tak baik untuknya.


Sampai di depan ruang ICU mereka tidak masuk. Tapi menunggu Mama monik keluar. Mama keluar setelah melepas jubah medis. Ia tersenyum pada Willy dan Lintang.


"Papa udah sadar walaupun belum sepenuhnya. Tapi matanya udah bisa lirik kiri dan kanan. Tadi Mama ngerasa Papa genggam tangan mama juga walaupun pelan sekali." Cerita Mama penuh haru. Lintang merangkul Mama, berusaha memberi kekuatan pada mertuanya itu.


"Syukurlah Ma, mudah-mudahan papa segera sadar secara penuh ya Ma." Timpal Willy, Mama mengangguk setuju.


"Lin, gimana kamu? masih mual atau muntah?" Tanya Mama sambil mengusap perut Lintang yang mulai membuncit.


"Ah enggak ma. Cuma tadi agak pusing aja sedikit tapi gak papa kok."


Mama mengangguk, ia senang Lintang sudah lebih kuat dari biasanya.


"Al?" Tanya mama.


"Al sama Mbok, Ma. Sengaja gak aku ajak." Sahut Willy lembut.


"Iya, memang lebih baik jangan, gak baik dia di sini." Timpal mama.


Ketiganya kemudian duduk tenang di depan ruang ICU. Hari ini setidaknya papa sudah menunjukkan kemajuan meski ia masih belum sepenuhnya sadar. Kendati demikian, mama sangat menaruh harapan besar papa akan segera pulih, walau mama harus menahan perasaan sedihnya melihat begitu banyak peralatan medis di tubuhnya yang gagah.


Keluarga masih sangat mengharapkan keajaiban Tuhan. Para karyawan juga anggota keluarga besar sudah banyak yang menyampaikan pengharapan mereka agar papa segera pulih.


"Semoga papa cepat pulih ya Kak."


"Ya, kita semua merindukannya."


"Ya, Al juga, ia kerap menangis sekarang, pasti mencari dimana Kakeknya." Lintang menghela nafas.


"Papa pasti segera sadar Lin."


Lintang dan Willy akhirnya segera pulang ke rumah. Sampai di rumah mereka langsung membersihkan diri, rutinitas yang tak boleh di langkah setelah kembali dari rumah sakit.


"Aku dengar Tante Monik sedang tidak di Jakarta, Kak?" Tanya Lintang saat mereka telah berganti baju dan membersihkan diri.


"Iya, ke Bandung, katanya ada hal penting. Beberapa hari sebelumnya Tante Monik rutin temenin Mama di rumah sakit. Jadi Mama cerita sama aku."


"Aku udah lama gak ketemu Kak Zacky."

__ADS_1


"Ya, aku juga. Dia menghandle perusahaan di Bandung dengan sangat baik. Perusahaan itu sekarang maju pesat."


"Kalian sudah bekerja sangat keras, pasti Kakek sangat bangga." Kecup Lintang di pipi suaminya.


"Kakek lebih bangga padamu, kau yang telah mengubah banyak hal." Willy merengkuh pinggang Lintang.


Mereka beristirahat juga setelah hampir seharian berada di rumah sakit.


...****************...


Hampir satu bulan Lintang tidak ke restoran, namun ia tetap memantau restorannya melalui sambungan CCTV dari ponselnya. Nora tadi menghubungi Lintang restoran mereka sangat ramai di malam minggu.


"Apa sebaiknya kita tambah pegawai saja, Kak?" Tanya Lintang meminta pendapat suaminya.


Willy tampak berpikir sesaat.


"Boleh saja, kita tambah bagian waitress nya saja dan cleaning servisnya."


"Baiklah, nanti akan ku hubungi Nora untuk membuat pengumuman lowongan kerja." Lintang mengangguk, ia paham bagaimana para karyawannya telah bekerja dengan sangat baik.


"Kita kebawah yuk, aku mau ajak Al main." Ajak Willy kepada Lintang yang segera mengangguk.


Al segera menyambut ayah dan bundanya saat mereka turun ke bawah. Al sedang bermain dengan Mbok Nah. Sesekali ia menunjuk foto Kakek yang masih berada di rumah sakit.


"Yah... Yah.." Al mengoceh. Ia hanya bisa mengucapkan kata-kata itu saja saat ini. Tapi saat diajak bicara ia selalu antusias.


"Al semakin pintar." Puji Lintang.


Mereka kemudian membawa Al berjalan-jalan keluar rumah. Menyusuri komplek berbaur bersama orang-orang di sana yang kebanyakan dari kalangan elit.


Tidak terasa usia pernikahan Lintang berjalan hampir dua tahun. Tidak terasa memang, tapi mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang sempurna.


Kehadiran anak kedua mereka juga sangat dinanti. Kehamilan kedua ini Lintang merasa perutnya terasa lebih penuh dan cepat membesar padahal usia kandungannya masih tergolong muda.


"Kak aku sudah buncit lagi." Bisik Lintang sambil menujuk perutnya yang mulai penuh.


"Ya, kau semakin menarik jika begitu."


"Maksudmu aku tetap cantik saat buncit begini?"

__ADS_1


"Ya.. dan kau sedikit gendut juga." Goda Willy, Lintang langsung manyun mendengarnya.


"Padahal aku baru saja langsing lagi setelah melahirkan Al kemarin." Desah Lintang.


"Kau menyesal hamil lagi?" Tanya Willy sedih.


"Tentu tidak sayangku. Aku sangat senang." Sahut Lintang cepat. Willy tersenyum.


"Kalau begitu nanti setelah anak kita lahir kita buat lagi." Goda Willy lagi. Lintang langsung melotot mendengarnya.


"Aku akan terlihat seperti balon berjalan setiap tahun, Kak." Katanya sambil tertawa.


"Kau balonku yang cantik."


"Ya, kau suka sekali meniupnya agar ia senantiasa besar." Timpal Lintang.


"Itu adalah passion ku sayang." Kerling Willy nakal.


Al memandang keduanya bergantian. Mungkin bocah itu mencoba bertanya-tanya apa yang sedang di perbincangkan ayah bundanya itu. Sesekali ia tertawa.


"Kau juga senang menggoda bundamu?" Tanya Willy pada Al. Al hanya tertawa.


"Bersiaplah untuk menjadi Kakak, Al." Bisik Lintang sambil mengecup pipi gembul putranya.


Mereka akhirnya kembali ke rumah setelah puas berkeliling kompleks sambil bercerita. Saat berada di rumah, mama telepon lagi dan mengatakan papa sudah banyak kemajuan. Ia sudah bisa berbicara meski tubuhnya harus banyak bedrest.


Beberapa hari lagi kalau perkembangan papa semakin baik, maka ia sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa.


"Mama istirahat ya, jangan terlalu keras berpikir, papa sudah semakin banyak perkembangannya." Ujar Willy di telepon.


"Iya Will, sekarang mama juga sudah jauh lebih lega. Bagaimana Al?"


"Ya, dia masih sering terlihat mencari Kakeknya."


"Cucu ku itu memang sangat dekat dengan Kakeknya." Kata mama sambil tersenyum.


Willy kembali ke atas setelah selesai berteleponan dengan mama menyusul Lintang yang juga telah membawa Lintang ke atas bersamanya.


Willy menghampiri Lintang yang sudah berbaring di atas ranjang. Al sudah tidur di tempat tidur mungilnya. Seperti biasa, Al akan tidur pulas, Willy menarik selimut untuk menyelimuti tubuh putranya itu.

__ADS_1


Kemudian ia ikut berbaring dan mulai memeluk Lintang dari belakang. Ada hasrat yang tiba-tiba muncul. Ia mengecup leher Lintang lembut, Lintang membuka matanya, mengerti arti deru nafas yang lebih cepat dari suaminya itu.


Ia mengangguk mengizinkan Willy memenuhi dirinya. Mereka melakukannya dengan pelan dan lembut sesuai saran dari dokter agar bayi mereka tetap tenang dan tidak merasa terganggu.


__ADS_2