
Lintang terkejut saat melihat Willy telah berada di dalam kamarnya. Ia terlihat ketakutan, tangannya menggenggam erat piyama tidur yang bahkan belum sempat ia kenakan. Dengan kedua tangan dan baju yang masih ia pegang, ditutupnya bagian sensitif tubuhnya. Ia semakin gemetar saat melihat Willy semakin maju menuju dirinya.
Lintang mundur beberapa langkah, lalu berusaha menghindari Willy yang semakin maju merapat ke tubuhnya. Lintang mencoba membuka pintu kamar namun, ia harus menelan kembali rasa takut saat disadarinya Willy telah mengunci kamar itu dan menyimpan kuncinya dari balik saku.
"Apa yang Anda inginkan, Tuan?" Lintang merasakan dirinya gemetar hebat saat mengucapkan itu. Apalagi sekarang Willy telah semakin dekat dengan dirinya.
"Aku tidak menyangka, tubuhmu cukup menggoda juga." ujar Willy tanpa menjawab pertanyaan Lintang barusan. Ia menatap Lintang yang semakin merapatkan tubuhnya ke dinding lalu menarik paksa baju yang sedang dipegang gadis itu untuk melindungi tubuhnya itu hingga benda itu terjatuh ke lantai. Lintang menahan airmata agar tidak tumpah. Sebisa mungkin ia menutupi tubuhnya yang hanya dilindungi Bra dan juga celana dalam tipis berwarna coklat muda itu.
"Ku mohon pergilah Tuan, lepaskan aku." Lintang mengucapkannya dengan tangis yang hampir pecah. Bukannya berhenti, Willy malah semakin menyudutkan Lintang ke dinding yang membuat gadis itu tidak bisa bergerak lagi.
"Berikan tubuhmu padaku malam ini." sahut Willy dengan seringai licik dibibir nya. Lintang tersentak, tanpa ia sadari tangannya melayang menampar pipi Willy cukup keras. Rahang lelaki itu mengeras mendapat perlawanan yang sebenarnya tidak seberapa baginya itu. Ia benar-benar senang melihat gadis itu dalam rasa ketakutan yang sengaja diciptakannya.
__ADS_1
Tanpa basa basi lagi, Willy menyergap tubuh Lintang yang telah meronta dan memohon ampun itu. Diciuminya bibir dan leher gadis itu dengan kasar. Tidak dibiarkannya Lintang melawan karena tangannya telah menahan kedua tangan gadis itu membuatnya tidak bisa lagi bergerak.
Willy menatap gundukan di balik bra itu dengan nyalang. Ia menyentak salah satu bra hingga membuat sesuatu yang padat itu segera tersembul dari sana. Willy mencium, menggigit dan menghisapnya penuh kebencian. Lintang menangis terisak- isak, memohon belas kasihan Willy untuk segera melepaskan. Sampai akhirnya ia menghentikan semua gerakannya, membiarkan Lintang luruh dan jatuh merosot ke lantai. Kemudian ia meninggalkan gadis yang sedang terpuruk itu dengan puas.
Kau lihat bagaimana aku akan menyiksamu nanti, lebih dari ini . Willy membatin setelah meninggalkan rumah mungil itu dengan Lintang yang sudah bercucuran airmata. Gadis itu segera merapikan bra, kemudian memakai piyama tidurnya dengan lemas. Terasa tenaganya terkuras. Ia menangis sejadi-jadinya dengan air mata yang telah deras.
Namun, ia masih bersyukur, Willy tidak menyentuh mahkotanya yang paling berharga. Setidaknya kesuciannya masih terjaga. Lintang kembali menangisi nasibnya. Apakah ini adalah takdirnya? dibenci sedemikian rupa oleh laki-laki yang akan segera menjadi suaminya. Apakah tidak terlalu mahal semua balas budi yang akan ia lakukan pada keluarga Dwianuarta itu? Lintang akhirnya tertidur pulas setelah ia puas menumpahkan tangisnya di atas bantal yang telah basah oleh airmata kekecewaan.
...****************...
Belum lagi keindahan bentuk tubuh gadis itu dan tanpa ia sadari tadi ia telah melahap salah satu gundukan di balik bra nya. Kalau saja ia tidak ingat rencana awalnya pada gadis itu, sudah dipastikan ia akan menerobos paksa kehormatan gadis itu. Willy tersenyum sinis, mempermainkan dan menakuti gadis itu ternyata membuatnya sangat senang. Ia seperti memiliki permainan baru yang ingin rasanya ia ulangi lagi dan lagi.
__ADS_1
Willy membuka jendela kamarnya yang tepat mengarah pada rumah mungil di bawah sana. Gadis itu pasti sedang menangis ketakutan. Ia memastikan gadis itu tidak akan sanggup meneruskan rencana pernikahan terkutuk itu. Willy menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia menatap langit-langit kamar. Lagi-lagi bayangan Lintang yang sedang ketakutan membuatnya tertawa puas.
Kau tenang saja, aku tentu tidak akan mengambil hal yang paling berharga dalam hidupmu. Aku hanya ingin menunjukkan padamu betapa aku membencimu. Melihatmu yang ketakutan tadi seperti ada kepuasan sendiri bagiku. Itulah harga yang harus kau bayar, gadis sialan. Karena kau telah berani mempengaruhi seluruh keluargaku untuk menikahimu. Memangnya siapa kau?! aku bahkan tidak mengenalmu. Kenapa kau tidak menolak rencana gila ini. Kau harus ku beri pelajaran!
Ingat Lintang, kau tidak akan mendapatkan sepeserpun dari rumah ini. Setelah acara terkutuk itu terlaksana, akan ku pastikan kau tidak akan bisa lagi tertawa bahagia. Aku akan menyiksamu dengan tanpa perasaan. Kau harus membayar mahal semua kekacauan ini.
Willy membatin. Mengutuk nasib sialnya karena harus segera menikah. Terlebih dengan orang yang sama sekali tak dicintai olehnya.Willy mencoba memejamkan mata, setelah puas mengingat kejadian bersama Lintang tadi ia mencoba untuk segera tertidur. Perlahan-lahan ia mulai memasuki alam bawah sadarnya yang segera menyuruh dirinya untuk segera terlelap. Willy membawa kebenciannya hingga ke dalam mimpi.
Esok entah penyiksaan apa lagi yang akan dilakukannya pada gadis itu. Sesuatu yang sungguh menarik untuk segera dilakukannya lagi setelah hari ini. Willy tidak akan menyia-nyiakan hal itu sebelum ia kembali fokus pada pekerjaannya di Perusahaan terbesar keluarga mereka yang berada di Jakarta juga.
Dan selama masa liburnya dari perusahaan inilah, ia akan menghabiskan waktu dengan menyiksa gadis itu sampai ia memohon-mohon ampun di kakinya. Tidak, gadis itu tidak akan mengubah apapun, meski ia telah memohon ia tetap tidak akan membiarkannya hidup tenang.
__ADS_1
Willy akan terus menebarkan teror bagi gadis yang akan segera menjadi isterinya itu. Ia tidak peduli seberapa keras usaha gadis itu memohon untuk tidak menyakitinya, ia akan tetap menyiksa Lintang dengan segala kuasa yang ia punya. Willy Dwianuarta pewaris utama kerajaan Dwianuarta Group, lelaki dingin yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Lelaki yang dengan kekuasaannya akan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya. Lelaki keras kepala yang akan membuat hidup Lintang tidak ubahnya bagai di neraka nantinya. Dan Lintang dengan segala kepasrahannya mencoba tidak terpancing terhadap semua perlakuan lelaki itu, sebisa mungkin tidak meladeni Willy yang akan tetap menatapnya penuh kebencian bahkan untuk kesalahan yang tidak pernah direncanakan olehnya.