
Kurang lebih satu minggu lagi acara pernikahan akan segera di gelar. Lintang sama sekali tidak menyangka bahwa pernikahan yang akan diadakan untuk dirinya dan Willy begitu besar dan mewah. Semua undangan telah disebar ke semua kolega juga kerabat keluarga besar Dwianuarta Group. Willy apalagi, ia sempat terkejut mengetahui bahwa pesta pernikahan akan diadakan begitu meriah dan mengundang banyak orang penting. Ia benar-benar seperti sudah kehilangan muka dihadapan orang-orang banyak.
Lintang juga hanya pasrah saja. Ia menuruti semua yang direncanakan oleh calon mertuanya. Hari ini ia juga tampak hadir di Hotel terbesar dan termewah yang akan menjadi tempat pesta pernikahan mereka berlangsung. Pernikahannya sendiri mengusung konsep Pesta taman. Ia membayangkan akan betapa meriahnya acara tersebut kelak. Namun, bukankah itu percuma saja jika kedua mempelai sama-sama tidak nyaman.
Persiapan sedang dikerjakan oleh orang-orang ternama. Hotel itu sekarang nampak ramai oleh para pekerja yang sibuk menata tempat yang akan menjadi tempat utama acara diadakan. Miranti memandang Lintang, ia merangkul calon menantunya itu.
"Gimana Lin? kamu suka kan? ini belum selesai loh, nanti kalau sudah rampung semua persiapannya pasti kamu senang." Miranti mengatakannya dengan antusias.
"Iya tante, makasih ya." Lintang menanggapinya dengan terharu. Ia benar-benar beruntung memiliki Miranti. Sedari dulu, wanita itu sangat menyayanginya.
"Eh, itu Willy." Wanita itu menunjuk putranya yang sedang berjalan ke arah mereka. Willy datang karena ibunya benar-benar telah menelponnya hingga hampir 30 kali hanya untuk melihat sudah sejauh mana persiapan acara terkutuk baginya itu telah rampung.
Lintang sendiri melihat Willy jadi merinding. Tatapan tajam lelaki itu benar-benar membuat ciut nyalinya. Ia menunduk apalagi setelah itu Miranti malah meninggalkan mereka berdua. Ia benar-benar seperti sedang bertemu hantu hingga tubuhnya kaku sulit untuk digerakkan.
"Puas? Kau benar-benar akan membuatku kehilangan muka." Ujarnya pelan, yang tentunya hanya mereka berdua yang bisa mendengar.
"Maaf Tuan Muda. Saya tidak bermaksud demikian. Ini diluar kuasa saya." Lintang menunduk.
__ADS_1
"Ikut gue sekarang!" Ujar Willy tanpa memperdulikan perkataan Lintang barusan. Lintang berusaha melepaskan cengkraman Willy pada tangannya yang seperti sedang menyeretnya. Tapi, tentu saja ia kalah tenaga menghadapi lelaki itu.
Willy menyeret gadis itu ke sebuah kamar hotel. Ia mengunci pintu lalu langsung menghempaskan tubuh Lintang ke atas ranjang. Gadis itu secepat mungkin beranjak, berusaha untuk pergi tapi tidak bisa. Lintang menggeleng melihat Willy yang sudah membuka pakaian atas nya. Ia menangkup kan tangan di depan dada. Otaknya memberi sinyal Willy akan berbuat seperti kemarin-kemarin lagi.
Benar, Willy kini telah mencengkram kedua tangan Lintang. Merapatkannya ke dinding dengan kedua tangannya sendiri sementara bibirnya sibuk dengan bibir dan leher Lintang. Lintang memohon dengan airmata yang sudah banjir. Mengiba dengan hati yang lagi-lagi remuk dibuat lelaki ini. Apalagi saat ini, Willy telah menarik paksa bajunya, menyisakan bra yang masih menutupi dadanya.
"Kenapa? bukannya sebentar lagi kau akan menjadi istriku? bukannya nanti kita akan melakukannya juga? Kau menginginkan ini? Jual saja tubuhmu padaku kalau uang yang kau incar. Pernikahan itu terkutuk!" Dengus Willy penuh kebencian.
"Tuan, begini kah cara anda memperlakukan orang yang tidak anda sukai? apa dengan melecehkannya anda puas?" Kata Lintang dengan berurai airmata. Willy tersenyum sinis mendengarnya.
"Kau yang mulai. Apa maksudmu mempengaruhi keluarga besarku untuk melaksanakan pernikahan itu?!"
"Bedebah. Kau pikir aku percaya padamu dan jangan bawa Kakekku!" Sahut Willy tajam.
Lintang terdiam, percuma ia menjelaskan apapun pada lelaki ini. Lelaki yang sudah terlanjur membenci dan menganggapnya perempuan kotor. Ia kotor, kotor karena ulahnya sendiri.
Willy melepaskan Lintang yang sudah membisu. Pandangan gadis itu kosong. Nanar menatap dinding hotel. Willy sendiri memasang kembali bajunya. Ia melemparkan baju Lintang memerintahkan gadis itu untuk segera mengenakannya kembali.
__ADS_1
"Pakai. Benahi hiasan wajahmu." Perintahnya ketus.
Lintang meraih bajunya yang sudah luruh di lantai. Memakainya tanpa ada tenaga. Ia diam seribu bahasa. Hanya menuruti semua yang diperintahkan Willy. Memang Willy lagi-lagi tidak merenggut kesuciannya, tapi, ini sudah kali keberapa lelaki itu memperlakukannya seperti ini. Menyentuhnya dengan kasar dan penuh kebencian.
*Aku bisa apa? benarkah budak akan terus diperlakukan buruk sepanjang hidupnya. Benarkah dia tidak bisa menganggap semua ini karena Kakek saja? Mengapa harus menyiksaku seperti ini?
Tuan, Anda benar-benar kejam. Saya bahkan akan membiarkan anda mencari perempuan lain setelah kita menikah. Karena saya tahu anda tidak akan bisa belajar mencintai saya. Tapi, perlukah dengan menyiksa saya seperti ini. Bahkan sebelum pernikahan itu terjadi*?
Lintang membatin sedih. Ia menyisir rambutnya lalu merapikan baju yang telah melekat kembali di tubuh. Willy membuka pintu kamar hotel. Lintang mengikuti langkahnya di belakang lelaki itu. Ia tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Memasang senyum terbaik di depan semua orang, juga berlagak seperti tidak ada yang terjadi barusan.
Mereka telah kembali ke tempat semula. Miranti segera merangkul Lintang saat kembali mendapati gadis itu. Willy sendiri memilih keluar dari gedung hotel, ia mencari udara segar di luar hotel dengan merokok. Akhir-akhir ini ia sering kali merokok. Itu di luar kebiasaannya dulu. Namun karena hatinya yang benar-benar berantakan, rokok malah jadi teman setianya sekarang.
"Tadi Tante cari kamu sama Willy kemana-mana. Kalian dari mana?" Tanya wanita itu cemas.
"Tadi aku sama Kak Willy ke belakang, Tan. Kami cari udara segar." Lintang menjawab dengan senyum yang ia paksakan terkembang di bibirnya. Miranti juga tersenyum mendengarnya.
"Ya udah, sekarang kita pulang yuk." Ajak wanita itu.
__ADS_1
Keduanya kemudian meninggalkan gedung hotel menuju mobil yang di dalamnya telah menunggu mang Ujang.
Selama perjalanan, Lintang diam saja. Kejadian di kamar hotel benar-benar masih terbayang di alam pikirannya. Kalau tidak ada Miranti, ia akan menangis sesegukan. Selalu seperti itu, setiap kali ia telah selesai menerima penindasan yang dilakukan Willy. Tapi saat ini ia hanya bisa menangisinya di dalam hati saja. Sekuat tenaga ia menahan airmata agar tidak tumpah. Ia memandang kosong pemandangan di sepanjang jalan lewat kaca mobil. Keningnya terasa terantuk, matanya juga jadi mengantuk. Perlahan ia memejamkan mata, lelah menghampirinya seketika. Hati yang sakit juga jiwa yang terluka ternyata mampu membuatnya kehilangan hampir separuh tenaga. Mungkin kalau Tuhan ingin mencabut nyawanya, saat ini ia benar-benar rela. Ah, Lintang jadi rindu ibu, sosok yang telah meninggalkannya bertahun-tahun yang lalu.