
"Lin, jangan capek-capek, di restoran juga jangan terlalu banyak gerak. Jangan terlalu sering ke dapur, lantainya licin banyak minyak. Jangan tidur kemalaman juga." Seperti itulah kira-kira wejangan dari Mama akhir-akhir ini. Ditengah kegiatannya dalam mengasuh Al, ia juga sangat memperhatikan semua tentang Lintang.
"Iya, Ma. Ma kenapa ya, hamil yang ini beda sama yang pertama kemarin?" Lintang bertanya sambil meminum susu khusus wanita hamil yang baru saja dibuatkan Willy. Suaminya itu sekarang sedang sibuk bermain dengan Al.
"Beda gimana, Lin?" Tanya Mama sambil mengupas kulit mangga.
"Aku rasanya jadi lebih cepat capek, Ma. Lemes banget juga, sebentar-sebentar pusing. Kenapa ya Ma?"
"Wajar kok Lin. Orang juga banyak yang ngalamin kayak kamu. Di kehamilan kedua malah lebih kalah dari yang pertama. Tapi nanti, di bulan-bulan ke lima biasanya udah enak lagi kok." Mama menyerahkan mangga manis yang sudah di kupas kulitnya kepada Lintang yang baru saja selesai menghabiskan susunya.
"Aku pasti bikin Mama repot ya ngurus Al. Maaf ya ma." Lintang meraih jemari mama.
"Kamu tuh Lin. Mama yang mau. Lagipula baru berapa menit gak lihat Al, Mama tu jadi seliweran sendiri." Sahut Mama sambil tertawa.
"Makasih ya, Ma."
"Sama-sama, sayang." Kata Miranti membalas genggaman di jari jemari Lintang.
Lintang mengalihkan pandangan melihat Willy dan Alvaro yang masih berkutat dengan mainan yang sudah berhamburan. Willy terlihat telaten sekali mengasuh anak mereka. Lintang jadi semakin yakin, bahwa Willy memang sudah siap untuk mempunyai anak lagi. Ia mengelus perutnya sendiri, berusaha memberi ketenangan pada benih yang akan segera berproses menjadi bayi utuh itu.
...****************...
Esoknya saat berada di restoran, Lintang kembali dilanda mual dan muntah, wajahnya nampak pucat. Ia sedang beristirahat di ruangannya ditemani Nora.
" Mbak, apa gak sebaiknya mbak Lintang pulang saja. Mbak lemas begini." Ujar Nora sambil memijat kepala Lintang yang terasa berat.
"Aku istirahat disini aja dulu, Kamu kembali ke restoran ya, tangani semua yang ada di sana.", Sahut Lintang. Nora mengangguk dengan patuh, tak lupa ia meninggalkan minyak angin kalau-kalau nanti Lintang butuh.
__ADS_1
"Mbak Lintang kalau ada perlu apapun, telepon aku saja ya Mbak." Kata Nora sebelum meninggalkan ruangan itu. Lintang mengangguk lemah.
Saat sedang berbaring, suara ponselnya terdengar. Ada panggilan video dari suaminya.
"Iya sayang." Lintang membuka percakapan.
"Lin, kau sakit? wajahmu pucat sekali." Ujar Willy sambil memperhatikan raut muka istrinya itu.
"Bawaan hamil, Kak. Aku cuma lebih cepat lelah aja sekarang, Kak." Lintang kembali memijit keningnya.
" Tunggu ya, aku akan ke sana sekarang." Willy mematikan sambungan telepon tanpa sempat mendengar penolakan istrinya itu.
Kurang lebih dua puluh menit akhirnya Willy sampai di restoran. Ia segera mencari istrinya dan masuk ke dalam ruangan Lintang. Tampak Lintang tengah berbaring, ia tampak pucat. Istrinya sedang kalah.
"Sayang, kita pulang saja ya. Biarkan restoran sementara di handle manager ini saja dulu." Ujar Willy. Lintang mengangguk lemah. Ia juga menurut saat Willy menuntunnya masuk ke dalam mobil, meninggalkan mobilnya tetap berada di restoran itu.
"Sama sekali tidak merepotkan, sayang. Kau harus banyak istirahat sayangku. Selama masa kehamilan ini jangan ke restoran dulu ya." Ujar Willy lembut, Lintang hanya mengangguk saja.
"Kak, aku ingin tidur di rumah belakang saja ya." Pinta Lintang lemah, Willy tentu saja langsung mengiyakan keinginan istrinya itu.
Sampai di rumah mungil Lintang segera merebahkan tubuhnya ke ats ranjangnya. Ia ingin tidur, ia lelah sekali. Willy juga tidak kembali lagi ke perusahaan. Ia mengurus Lintang, ia juga memasak. Masakannya lumayan juga saat Lintang mencobanya barusan.
Setelah itu menemani Lintang selama berada ditempat tidur. Willy menggosok tengkuk, memijit kepala Lintang. Lintang sudah tertidur lagi.
"Kau sudah menjaga anak kita dengan baik, maka biarkan aku menjagamu juga." Bisik Willy lembut di telinga istrinya yang tengah tertidur.
Ia beranjak dari ranjang, mulai menghidupkan lampu karena hari sudah mulai gelap. Kemudian Willy kembali, menemani Lintang dan ikut tertidur juga. Ia tidur memeluk Lintang dari belakang seperti kebiasaannya selama ini.
__ADS_1
...****************...
Mama membawakan makanan dan susu hamil untuk Lintang. Ia juga meminta Willy untuk menemani Lintang saja.
"Kamu disini aja, Will. Temani Lintang ya. Al biar sama mama. Papa juga akan mengajaknya jalan-jalan nanti." Kata Mama sambil meletakkan nampan berisi buah Dan makanan berikut susu hamil di atas meja.
"Iya Ma, makasih ya Ma."
Miranti mengangguk. Ia mengerti, kehamilan kedua Lintang memang jauh lebih berat dibanding dengan kehamilan pertamanya kemarin.
"Sayang, ayo minum susunya." Willy menyerahkan susu kepada Lintang yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang yang empuk.
"Kak, aku kok pengen cokelat ya?" Lintang menatap suaminya penuh arti.
"Mau sekarang sayang?" Tanya Willy, Lintang mengangguk.
"Baiklah, aku akan segera membelikannya untukmu. Tapi kau harus memakannya ya, jangan hanya mencium baunya saja." Willy jadi teringat peristiwa setahunan yang lalu saat Lintang minta diambilkan jambu langsung dari pohonnya dan ketika ia sudah mendapatkan itu, Lintang malah hanya mencium baunya saja.
"Iya Kak. Aku memang ingin merasakan manisnya cokelat itu."
Willy akhirnya kembali mengenakan baju kausnya lagi yang ia sampaikan tak jauh dari jendela kamar. Ia pergi ke supermarket untuk membeli cokelat kesukaan istrinya itu. Lintang sangat suka makanan yang manis-manis saat hamil kedua ini. Padahal dulu ia tidak terlalu menyukai makanan manis.
Willy akan menuruti apapun permintaan istrinya itu. Bila perlu ia akan membeli sekeranjang cokelat nantinya. Setelah hari itu permintaan Lintang bukan lagi hanya cokelat, ia juga minta dibelikan kue ulang tahun walaupun ia sedang tidak ulang tahun. Ia hanya ingin merasakan creamnya saja. Lalu Lintang juga pernah minta dibuatkan kolak pisang yang hanya dari tangan Miranti saja.
"Bu, nampakny cucu ibu setelah ini perempuan. Kalo kata orang tua saya dulu, kalo lagi hamil, terus hobbynya makan yang manis-manis, cenderungnya anak perempuan." Ujar Mbok nah sambil mengupas pisang yang akan segera dijadikan kolak oleh majikannya itu. Miranti jadi tersenyum mendengarnya.
"Amin, doakan saja Mbok, ibu mau perempuan, mau laki-laki lagi udah bersyukur. Ibu pengen punya banyak cucu Mbok." Sahut Mama senang.
__ADS_1
"Mbok selalu mendoakan kebaikan keluarga ini, Bu. Semoga Nona Lintang selalu sehat dan bisa melewati masa kalah dalam kehamilannya sekarang." Timpal Mbok Nah lagi. Miranti mengangguk seraya mengaminkan doa tulus pembantu setianya itu. Ia juga memanjatkan doa yang sama, semoga keluarga mereka bertambah bahagia setiap harinya.