Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Hati Zacky


__ADS_3

Acara ulangtahun yang dihadiri keluarga besar juga beberapa kerabat dekat itu masih berlangsung. Lintang sempat bertanya-tanya mengapa area halaman depan tampak sepi sementara banyak orang di dalam dan ternyata Willy juga telah mengatur agar semua kendaraan masuk dari gerbang belakang. Willy benar telah sukses membuat Lintang tidak menyangka sama sekali.


Mereka kini bergabung bersama para tamu undangan lain. Willy tidak melepaskan genggaman tangannya. Lintang selalu berada di dekatnya. Banyak koleganya yang datang menyusul kemudian, ada juga asistennya diantara mereka.


Zacky kini duduk di pinggir kolam renang. Ia melihat Sela sedang berdiri di samping kolam dengan gelas berisi minuman di tangannya. Zacky beranjak ia mendekati Sela. Nampak ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


"Hai, Lo temannya Lintang kan?" Tanya Zacky ramah. Sela menoleh, ia tersenyum lalu mengangguk.


"Zacky." Ia menjulurkan tangan.


"Sela." Sela menyambutnya.


"Kita belum kenalan kan waktu itu?" Zacky mengerutkan kening berusaha mengingat. Sela menggeleng.


"Kayaknya belum. Abis kemarin kita udah asyik ngobrol ya." Sahut Sela sambil tertawa.


"Untung Willy ngajak lo juga kesini. Gue jadi punya temen." Kata Zacky lagi. Sela tersenyum menanggapinya. Ia ingat beberapa hari yang lalu saat Lintang sedang berada di kamar mandi di kampus, Willy datang menghampirinya memintanya untuk datang memberi kejutan di acara ulang tahun istrinya yang tentu saja tak akan ia tolak.


"Kak Zacky datang sendiri?" Tanya Sela.


"Sama keluarga gue sih. Tapi tetap aja gue ngerasa sendiri. Namanya juga jomblo." Sahut Zacky lagi. Mendengar itu membuat Sela tertawa juga akhirnya.


"Terus kenapa Kak Zacky gak pacaran aja?"


"Gak ada yang mau nih. Lo mau gak?" Tanya Zacky dengan gayanya yang lucu. Membuat Sela kembali tertawa.


"Kak Zacky ada-ada aja." Sela masih memandangnya sambil tertawa. Keduanya kemudian larut dalam perbincangan hangat. Kini mereka telah berjalan, saling bersisian menuju taman belakang.


"Aku gak yakin Kak Zacky itu gak ada yang naksir. Pasti Kak Zacky nya nih yang pilih-pilih." Kata Sela sambil duduk di kursi taman. Sementara Zacky sendiri berdiri tak jauh darinya, bersandar pada tiang lampu taman.


"Gak kok, gue emang lagi gak mau pacaran. Males Sel, pacaran itu ribet."

__ADS_1


"Karena belum ketemu yang pas aja Kak." Sela menanggapinya dengan senyum terkembang.


"Entah lah, bagi gue mencintai itu hal yang rumit. Dan sakit banget saat lo sadar cinta lo ga bisa terbalas. Nyerinya sampe kesini." Zacky menekan dadanya, tatapan matanya menerawang.


"Ya, aku ngerti kok, Kak. Gak mudah memang merelakan orang yang kita cintai, melabuhkan perasaannya pada orang lain." Sela ikut menerawang juga. Zacky mengalihkan pandangannya pada gadis itu.


"Gue becanda aja kok tadi, lo jadi serius." Zacky tertawa.


" Kak Zacky itu pintar menutup perasaan. Kal Zacky bisa memanipulasi pandangan orang lain tentang perasaan Kakak. Tapi aku tahu satu hal." Sela menggantung kata-katanya.


"Apa?" Tanya Zacky. Ia mengangkat satu alisnya menunggu jawaban.


"Tapi, Kakak jangan tersinggung." Sela menoleh menatap Zacky sebelum meneruskan perkataannya.


"Ngomong aja Sel apa yang lo tau tentang gue." Zacky menatapnya intens.


"Kak Zacky mencintai Lintang."


Deg.


"Kenapa lo bisa ngomong begitu?" Tanya Zacky. Sela tersenyum sebelum menanggapinya.


"Mungkin orang lain gak bisa lihat itu, Kak. Tapi sejak pertama kita bertemu, saat itu di kafe, aku melihat ada yang berbeda dari cara Kak Zacky memandang Lintang. Hangatnya hangat seorang yang menyimpan perasaan sayang. Perhatiannya juga berbeda. Aku berbakat gak jadi pengamat orang-orang yang jatuh cinta?" Sela terkekeh. Zacky tidak bisa menahan senyumnya.


"Lo pinter, dan berbakat jadi psikolog. Tapi khusus jurusan cinta kelas patah hati." Zacky menanggapinya membuat tawa Sela pecah.


"Berarti bener dong tebakanku tadi." Sela semakin memperlebar senyumnya. Zacky jadi garuk-garuk kepala.


Lama ia terdiam, Zacky terdengar menarik nafas panjang, berat juga sarat beban.


"Lo tau gak sih, rasanya cinta bertepuk sebelah tangan." Ujar Zacky sambil menerawang.

__ADS_1


"Aku gak cuma tau, tapi juga pernah merasakan."


"Oh ya? ceritain." Sahut Zacky semangat.


"Kejadiannya udah lama kok Kak. Aku pernah di tinggal menikah oleh laki-laki yang udah enam tahun melebeliku dengan sebutan kekasih." Sela berusaha mengingat kenangan kelam itu.


"Wah ... lo jagain jodoh orang dong." Timpal Zacky dengan gaya lucunya, membuat Sela tanpa sadar mencubit pinggangnya.


"Ih Kak Zacky malah ngeledek." Ia pura-pura merajuk.


"Kenapa gak cari laki-laki lain? Bukannya lo cantik, yang naksir juga pasti banyak." Kata Zacky kembali serius. .


Sela tersenyum, ia sebenarnya tidak ingin membahas masa lalunya yang kelam itu namun entah mengapa melihat Zacky yang juga terbuka ia jadi merasa aman saja bercerita.


"Mana ada Kak, pria baik-baik yang mau menerima perempuan yang sudah hancur kayak aku?" Sela menerawang lagi. Zacky tersenyum menanggapinya.


"Masa lalu biarin aja berlalu Sel. Gak selamanya hitam akan selalu hitam, dan putih akan selalu putih."


"Kak Zacky ngerti maksudku?" Tanya Sela, ia menoleh pada Zacky yang juga sedang melihatnya.


"Gua gak pernah mau menghakimi masa lalu orang lain, Sel. Juga gak punya alasan untuk merasa jijik dengan hitamnya kehidupan percintaan dia dulunya. Manusia itu tempatnya salah. Tapi Tuhan maha pemaaf kok. Tinggal lo aja mau berbenah atau tidak." Kata Zacky masih dengan senyumnya yang hangat.


Sela hampir menangis mendengarnya, ia senang mendapati kata-kata bijak itu dari orang yang bisa mengerti dirinya. Zacky baik. Hatinya selalu positif dan itu membuat kharismanya keluar natural.


"Makasih ya Kak Zacky, udah ngerti dan mau mendengar ku." Ujar Sela dengan tatapan bersahabat.


"Santai aja lagi, Sel. Gue yakin gue cocok jadi psikolog." Ia mulai berkelakar.


"Kayaknya gue lebih cocok jadi dokter cinta, gue bisa nyembuhin hati lo yang patah."


"Ih dokter apaan. Sama jarum suntik aja takut." Suara Audy terdengar. Rupanya adiknya itu telah berada di belakang tanpa mereka sadari.

__ADS_1


"Wah ni anak." Zacky berlari, mengejar Audy yang sudah lari terbirit-birit. Sela tertawa terpingkal-pingkal melihat kedua kakak beradik itu. Zacky pribadi yang hangat, pengertian dan tidak mudah menghakimi orang lain. Sela tersenyum merasa ada angin sejuk menelusup ke hatinya setelah ia bercerita pada lelaki yang bahkan terhitung baru ia kenal itu.


Sela berdiri, menuju Lintang yang masih meladeni beberapa tamu. Ia memeluk Lintang, dan mohon pamit untuk pulang. Lintang membalas pelukan tulus dari sahabatnya itu penuh perasaan haru.


__ADS_2