
Lintang keluar dari mobil Willy saat mereka telah sampai di kampus. Willy mengantar Lintang sampai ke depan kelas. Ia terlihat tampan dengan kemeja kerja seperti biasa. Sebelum Lintang masuk ke dalam kelas, Willy mencium keningnya. Ia juga mengelus perut istrinya.
"Baik-baik di dalam ya. Bunda mau kuliah dulu dede jangan bikin mama mual dulu ya." Begitu kata Willy pada benih yang berada di dalam perut Lintang. Lintang tersenyum mendapat perlakuan penuh perhatian itu.
"Kak, hati-hati ya. Nanti aku kirim pesan kalo udah selesai kuliah." Ujar Lintang. Willy mengangguk.
"Baik-baik ya, kalau ada apa-apa langsung telepon aku." Pesan Willy sebelum ia berbalik dan menuju mobilnya.
Saat Lintang telah berada di dalam kelas, ia langsung di sambut jeritan histeris Sela. Bagaimana tidak, hampir lima hari ia tidak melihat sahabatnya itu. Ia sudah cemas bukan main.
"Lin! Lo kemana sih selama ini? Lo tau gak suami lo nyariin sampe kerumah gue." Ujar Sela setengah menjerit, Lintang sampai harus menutup telinganya sesaat. Ia juga jadi tidak enak hati pada Sela.
"Maaf ya Sel, ceritanya panjang. Tapi biar itu jadi cerita lalu aja. Aku punya kabar baik. Coba kamu tebak." Sahut Lintang sambil senyum-senyum. Sela mengetuk jarinya di atas kening, ia nampak berpikir.
"Lo di beliin mobil baru." Tebak Sela.
"Salah." Lintang menggeleng.
"Lo pindah ke apartement baru yang lebih gila lagi."
" Salah."
"Hah gue tau, Lo pasti lagi bahagia banget karena suami lo ngajak pergi bulan madu."
"Salah semua." Sahut Lintang sambil tertawa lebar, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
"Apaan Lin? Nyerah deh gue." Balas Sela akhirnya.
__ADS_1
"Aku hamil." Ujar Lintang
"Ah ya lo ha.... hah?! lo hamil?" Sela hampir menjerit saat ia mengatakannya. Ia menatap Lintang dan perutnya yang masih rata bergantian, matanya jadi naik turun.
"Bener Sel, aku hamil." Ujar Lintang berusaha meyakinkan sahabatnya yang sedang terdiam itu.
"Tapi, kok masih rata, gak buncit ih." Kata Sela sambil meletakkan telapak tangannya ke perut Lintang.
"Kamu kira balon? abis ditiup langsung gede aja." Lintang terkekeh geli. "Baru dua minggu kok. Tapi udah ada." Sambung Lintang sambil mengusap perutnya.
Sela memeluk Lintang, ia bahagia setelah hampir lima hari tidak bertemu, sahabat karibnya itu membawa kabar gembira.
"Selamat ya Lin. Gue ikut seneng banget. Bentar lagi gue jadi Tante dong." Ujar Sela sambil melepas pelukannya. Lintang mengangguk senang.
"Kemarin aku periksa ternyata aku hamil Sel. Sama sekali gak menyangka." Kata Lintang sambil menerawang. Sela juga jadi terkenang saat Lintang nyeri perut, lalu terlihat mual dan muntah beberapa kali. Ia benar-benar tidak kepikiran bahwa sahabatnya sedang mengalami gejala kehamilan.
Akhirnya pembicaraan mereka terhenti karena dosen mata kuliah hari ini telah memasuki kelas dan bersiap akan menyampaikan materi.
Lintang senang, ia bisa kembali ke kampus. Bisa bertemu dengan Sela juga bisa mengikuti mata kuliah seperti biasanya. Terlepas dari ia kini adalah seorang istri juga calon ibu, Lintang tetap saja seorang perempuan muda yang masih ingin meneruskan pendidikan juga kadang ingin berkumpul dengan teman-temannya. Namun, ia juga tahu batasan, Lintang tidak mau Willy kecewa dan marah kalau ia tidak patuh.
...****************...
Willy telah menunggu di depan kelas, tidak lama lagi perkuliahan akan segera selesai. Dosen yang baru saja keluar mengangguk hormat pada lelaki itu. Ia pun membalasnya dengan seulas senyum pula. Saat melihat Lintang, Willy mendekati istrinya itu. Ia kembali menggandeng jemari istrinya menuju mobil mereka.
"Nanti malam kita kerumah induk ya. Aku sudah memberi tahu mama tadi bahwa akan di adakan jamuan makan malam hari ini." Ujar Willy setelah mereka sampai di dalam mobil.
"Iya Kak." Sahut Lintang sambil menutup mulutnya. Ia baru saja selesai menguap. Kantuknya tiba-tiba datang.
__ADS_1
"Kau mengantuk?" Tanya Willy
"Sedikit Kak. Tadi di kelas juga seperti itu. Tidak biasanya seperti itu." Jawab Lintang.
"Tidurlah, kau kelelahan sekali." Sahut Willy. Lintang akhirnya mengangguk. Ia memang mengantuk. Lintang menurunkan kursi mobil. Ia mulai memejamkan matanya. Willy melihatnya, ia kasihan pada istrinya itu. Walau tidak pernah mengeluh ini dan itu, namun Lintang sebenarnya memang kelelahan luar biasa. Apalagi saat ini ia juga sedang hamil muda.
Willy tetap melajukan mobilnya dengan tenang. Ia tidak sabar malam ini untuk bertemu seluruh keluarga besarnya dan menyampaikan berita kehamilan Lintang. Kini, Mobil Willy telah tiba di besment apartement. Willy tidak membangunkan Lintang, tapi ia menggendong istrinya hingga sampai masuk ke dalam lift bahkan sampai ia telah tiba di apartemennya.
"Nanti aku pasti tidak akan kuat menggendong mu dengan perutmu yang sudah buncit." Willy berkata sambil tertawa dengan Lintang yang masih terpejam. Lalu ia mulai membaringkan Lintang di ranjang mereka. Nampaknya Lintang benar-benar kelelahan.
Setelah itu Willy mengganti pakaiannya sendiri. Ia kemudian naik ke atas ranjang, ia membawa Lintang ke dalam pelukannya. Ia tidak akan mengajak Lintang bermain siang ini. Ia tahu Lintang baru benar-benar bisa tidur dengan lebih lama dan tenang saat ini.
akhirnya Willy hanya bisa memandangi Lintang yang tertidur pulas. Lintang tertidur di dalam pelukan suaminya itu. Nampaknya hamil muda membuatnya jadi cepat lelah. Willy menelusuri wajah yang sedang tertidur di dalam rengkuhannya itu dengan jari jemarinya. Matanya turun ke dada istrinya tempat paling favorit nya. Ia menahan gejolak yang tiba-tiba muncul dibalik sesuatu yang sudah mengeras.
Willy menepuk jidatnya sendiri. Ia mengutuki dirinya yang masih sempat-sempatnya untuk berpikiran nakal. Willy membetulkan posisi tidur istrinya, memberikan bantal di bawah kepalanya. Kemudian ia pergi menghidupkan televisi untuk mengusir pikiran-pikiran nakal yang sempat menguasai.
Ia akan menunggu Lintang di tempat yang agak berjauhan. Ia takut tidak bisa menahan diri bila dekat dengan istrinya itu. Ia ingin membiarkan Lintang tidur dengan nyaman tanpa gangguan apapun termasuk dari tangan dan tubuh nakalnya. Ya, ia akan membiarkan Lintang tidur nyenyak sampai ia terbangun dan bersiap untuk pergi ke rumah induk nantinya.
Namun saat ia tengah berperang dengan pikirannya yang mulai melantur, Lintang malah terbangun. Ia menghampiri Willy yang sedang menahan mati-matian hasrat kelelakiannya.
"Kak, aku masak dulu ya.. Kakak pasti lapar kan?" Ujar Lintang sembari mencepol rambutnya asal-asalan dan itu semakin membuat benda keramat di bawah sana menegang.
"Lin, Kenapa kau harus bangun." Ujar Willy lirih.
"Aku harus memasak, kau pasti lapar."
"Aku ingin memakanmu sekarang." Balas Willy lagi. Lintang mundur beberapa langkah sampai tubuhnya terjerembab lagi ke ranjang. Willy mulai menjalankan aksinya.
__ADS_1
"Maafkan sayang, kau yang memancingku." Dengus Willy di leher istrinya yang juga mulai terpancing. Dan lagi mereka menutup sore dengan penyatuan lagi dan lagi.