Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Willy Lintang S2 - Sebab Aku Cinta


__ADS_3

Malam telah menunjukkan pukul sembilan. Willy masih setia menemani Lintang yang masih belum bisa tertidur.


"Belum ngantuk?" Tanya Willy sambil meletakkan majalah.


"Ehmmm belum, rasanya aneh tidur di rumah sakit begini. Apa Al sudah tidur ya?" Lintang menerawang memikirkan putranya.


"Al udah tidur tadi waktu aku telepon mama. Sayang, apa perutmu masih sakit?" Willy menyentuh lembut perut istrinya yang membesar itu.


"Masih terasa sedikit nyeri, tapi besok pasti sudah hilang."


Willy mengangguk, ia duduk di samping ranjang istrinya.


"Ehmmm, sayang, kau masih marah padaku?" Tanya Lintang lirih membuat Willy mengangkat kepalanya. Ia tersenyum menatap istrinya itu.


"Tidak."


"Benarkah?"


"Iya sayang. Aku tidak marah, hanya saja kemarin aku cemburu." Willy tertawa kecil mengenang tingkahnya.


"Aku sungguh tak ada hubungan apapun dengannya, Kak. Kau harus percaya padaku, ya." Lintang membalas genggaman tangan suaminya.


"Iya, aku hanya cemburu saja, sebab.." Willy menggantung kalimatnya.


"Sebab apa Kak?"


"Sebab aku cinta. Kalau aku tidak mencintaimu, tidak mungkin aku seperti itu. Aku takut sekali kehilanganmu." Keluh Willy dengan wajah tertunduk.


"Aku tidak pernah memikirkan laki-laki lain selain dirimu, apalagi sampai harus menjalin hubungan dengan orang lain."


"Iya, sayang. Maafkan aku ya." Willy mengecup pipi istrinya sebagai ungkapan permintaan maaf.


Lintang mengangguk, ia kemudian mulai memejamkan mata. Willy setia menemaninya hingga ia benar-benar tertidur pulas. Willy menarik selimut, menyelimuti istrinya kemudian ia sendiri pergi ke sofa di dalam ruangan itu.


Willy memperhatikan istrinya yang telah tertidur pulas dengan perasaan yang lebih lega. Ia memang sangat menyayangi Lintang, ia sensitif mendengar lelaki lain membicarakan istrinya.

__ADS_1


"Sebab aku cinta." Gumamnya lagi sebelum benar-benar menutup matanya sendiri menyusul Lintang sudah lebih dulu berlayar ke alam mimpi.


...***************...


Pagi ini Willy tidak pergi ke perusahaan dan ia telah menelepon Setya untuk menghandle perusahaan selama ia tidak ada.


"Ayo makan." Ia menyendokkan makanan lalu menyuapkannya ke Lintang. Lintang makan dengan perlahan.


"Gak berangkat kerja?" Tanya Lintang setelah ia menelan makanan dalam mulutnya.


"Mana bisa, sayang. Istriku sedang dirawat, aku harus menjaganya."


"Terima kasih ya suamiku."


" Oh iya, dokter bilang sepertinya hari ini kau sudah bisa kembali ke rumah karena kondisimu sudah semakin membaik." Willy mengelus pipi Lintang. Lintang mengangguk senang, ia memang ingin segera pulang ke rumah.


Pagi ini Lintang sudah nampak segar. Ia telah selesai mandi dengan dibantu Willy, perut dan panggulnya juga sudah tidak nyeri lagi. Infusnya sebentar lagi juga akan di cabut oleh perawat.


Beberapa menit kemudian, seorang perawat datang. Dengan memakai sarung tangan medis, ia mulai melepas infus dari tangan Lintang.


"Nah, Nona Lintang sudah bisa kembali ke rumah ya. Ingat, nanti saat sudah pulang dari sini tidak boleh lagi terlalu banyak bekerja dan bergerak. Hindari jug tempat-tempat licin ya. Harus selalu berhati-hati." Kata suster setelah ia selesai melepas infus.


Suster keluar, berganti dokter yang masuk untuk memberi tahu bahwa Lintang benar sudah bisa kembali ke rumah. Sama seperti perawat, dokter pun mengatakan hal yang sama.


"Kita pulang ya." Willy membantu Lintang turun. Tadinya Willy ingin Lintang memakai kursi roda dulu namun, ia menolak dan bisa berjalan seperti biasa meski tidak cepat.


Saat telah sampai di mobil, Willy dan Lintang banyak bercerita.


"Pokoknya, kamu harus banyak istirahat ya. Jangan dulu ya pergi ke restoran tanpa aku yang temani. Pokoknya kemana pun biar aku yang menemanimu." Ujar Willy dengan mimik wajah serius.


"Iya sayang, aku ngerti." Sahut Lintang dengan senyum seperti biasa.


Mobil melaju meninggalkan pelataran rumah sakit menuju rumah mereka. Diam-diam, Willy sering mencuri pandang pada perut istrinya yang sudah membesar itu. Ia tersenyum, Willy suka sekali melihat Lintang membuncit seperti itu. Tapi nampaknya ia akan stop untuk punya anak lagi setelah ini. Kasihan juga pada istrinya jika setiap tahun harus melendung seperti itu.


...****************...

__ADS_1


Saat telah sampai di rumah, Al langsung berlari kecil menghampiri bundanya. Lintang langsung berjongkok menyambut hangat anaknya itu dalam pelukan.


"Kangen bunda ya?" Tanyanya sambil mencium pipi Al yang gembul.


Willy mengambil alih Al dengan menggendongnya.


"Bunda sama adik udah pulang, Al senang ya." Ia menggoda anak lelakinya itu.


Mama datang dari arah dapur. Ia menghambur memeluk Lintang.


"Gimana Lin, udah sembuh?" Tanya Mama sambil merangkul pundak Lintang.


"Jauh lebih baik dari kemarin, Ma." Sahut Lintang sambil tersenyum.


"Istirahat deh Lin, jangan banyak gerak dulu ya. Kasian loh yang di dalam." Kata mama dengan lembut. Lintang manggut-manggut paham.


Lintang nampaknya memang harus lebih ekstra pada kehamilan anaknya yang kembar ini. Ia tidak boleh terlalu banyak keluar rumah. Kondisi perutnya yang besar itu memang agak membuatnya kesulitan untuk bergerak.


Willy juga setia menemaninya kemana pun jika memang Lintang ada keperluan keluar rumah. Ia tidak ingin membiarkan Lintang sendirian saat berada di luar dan luput dari perhatiannya.


Setidaknya dengan adanya Willy, resiko cidera seperti yang kemarin Lintang alami tidak akan terulang lagi jika ia selalu sigap berada di dekat Lintang.


"Sayang, terima kasih sudah menjagaku dan anak kita." Lintang memeluk Willy saat mereka telah berada di dalam kamar.


"Itu sudah menjadi tugas ku sayang." Willy mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.


Lintang memeluk erat tubuh suaminya itu. Ia sangat menyukai aroma tubuh Willy yang maskulin dan wangi itu. Lintang tidak ingin kesalahpahaman seperti kemarin terjadi kembali.


Willy juga menyesali kecemburuannya kemarin, ia tak mau lagi mengulanginya. Biarlah yang berlalu tetap berlalu. Masalah Lintang pernah menjalin atau dekat dengan orang lain sebelum bertemu dengannya adalah hal yang wajar bukan?


Dan bukankah, dulunya ia pun lebih parah bila itu tentang urusan perempuan? Jadi rasanya tak adil jika ia harus marah besar seperti kemarin pada Lintang yang telah begitu maklum dengan masa lalunya yang liar.


"Istriku, maaf ya sudah terlalu keterlaluan padamu kemarin. Aku sangat menyesal." Gumamnya pada Lintang masih erat dalam dekapan.


"Ya sayang, aku tahu itu tak lain karena kau mencintaiku." Lintang menengadah menatap dalam mata suaminya.

__ADS_1


"Kau benar sekali." Willy mengecup bibir Lintang lembut. Setelah itu mereka kembali turun untuk menemani Al bermain di ruang tengah. Willy akan memanfaatkan waktu libur dengan menemani Lintang juga Al sepanjang hari. Jarang ia memiliki waktu seperti ini karena ia harus selalu berada di perusahaan saat pagi hingga petang. .


Sekarang adalah waktu yang langkah dan Willy tidak ingin kehilangan moment utuh bersama keluarga kecilnya itu.


__ADS_2