
Zacky mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu setelah ia dan ibunya sampai di rumah Willy. Hari ini, ibunya meminta diantarkan ke rumah itu untuk mengunjungi kakak iparnya, Miranti. Zacky memandang berkeliling, suasana tampak biasa saja. Tapi ia tidak melihat kehadiran Lintang.
"Willy mana Tan?" tanya Zacky.
"Ada, di kamarnya. Kamu langsung ke sana aja." jawab Tante Miranti.
"Ehmmmmm, kalo Lintang?" tanya Zacky lagi.
"Lintang tadi udah balik ke rumah belakang. Kamu ke sana aja kalo mau ketemu dia." sahut tante Miranti lagi. Zacky mengembangkan senyum.
"Iya aku ke sana aja deh." Zacky melangkah menuju rumah mungil di belakang rumah induk.
Zacky telah sampai di depan pintu rumah mungil itu tetapi setelah beberapa kali mengetuk pintu, belum terdengar sahutan atau langkah kaki dari dalam. Zacky tetap menunggu, sampai akhirnya di ketukan yang kesekian, pintu itu terbuka juga.
Lintang tampak mengucek matanya. Ia seperti baru bangun dari tidur. Gadis itu tersenyum mendapati Zacky. Ia segera mempersilahkan lelaki itu untuk masuk dan duduk.
"Kak Zacky mau minum apa?" tanya Lintang sambil mengikat rambut panjang dan hitamnya menjadi ekor kuda. Tampak cantik natural di mata Zacky saat itu.
"Gak usah repot Lin. Keluarin aja apa yang ada." Ia menjawab sambil terkekeh. Lintang tertawa mendengarnya.
"Tunggu ya, aku bikinin sirup dingin."
Zacky memandang sekeliling ruangan yang minimalis itu. Tampak rapi dan peralatannya cukup lengkap meski rumah ini minimalis. Nuansa putih begitu dominan baik dinding maupun perabotannya. Sofa yang ia duduki berwarna krem. Pemandangan di dalam rumah ini begitu memanjakan mata. Lintang begitu telaten merawatnya.
Tidak berapa lama kemudian, Lintang kembali dan membawa dua buah gelas minuman dan juga makanan ringan untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Duh ... jadi bikin repot nih." ujar Zacky.
"Ah enggak kok. Aku seneng Kakak ke sini." balas Lintang dengan senyuman yang masih sama, hangat dan manis.
Zacky menyesap minuman itu perlahan. Juga mencomot beberapa potong kue yang dibuat oleh Lintang.
"Enak. Lo bikin sendiri?" tanya Zacky.
"Iya Kak, Kakak suka?" Lintang mengangguk dan bertanya kembali. Zacky mengangguk lagi.
"Lo pinter masak. Willy beruntung bakal punya istri sepintar lo."
Lintang tersenyum kecut mendengarnya. Seenak apapun masakannya tidak akan mengubah perlakuan Willy kepada dirinya. Lintang menghela nafas berat.
"Gak ada kok Kak. Kita mau kemana?" Kali ini ia yang bertanya.
"Ikut aja, lo pasti suka."
Akhirnya Lintang setuju. Ia mengganti bajunya dengan dress santai selutut dan rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Keduanya kemudian melangkah menuju mobil Zacky terparkir setelah sebelumnya mereka meminta izin untuk keluar kepada tante Miranti dan juga ibunya sendiri.
Selama perjalanan, Lintang dan Zacky banyak bercerita. Mereka sesekali tertawa ketika ada cerita lucu yang terselip di sela obrolan. Mobil terus melaju agak jauh dari pusat kota. Zacky akan membawa Lintang ke tempat yang menyenangkan. Zacky sebenarnya tahu, belakangan ini, gadis itu tampak murung meski ia selalu bisa menyembunyikannya. Tapi, Zacky bisa melihat kesedihan yang mendalam akhir-akhir ini dari gadis itu.
Mobil berhenti. Agak jauh dari mereka saat ini, terlihat hamparan air laut. Lintang sumringah sekali. Ia suka pantai. Ia keluar dari mobil lalu berlari menyusuri pesisir dengan melepas sandal. Ia bisa merasakan semilir angin yang berhembus dan membelai anak-anak rambutnya. Hangat air laut terasa menenangkan hatinya. Untuk sejenak, Lintang seolah terlupa dengan rencana pernikahannya. Lintang seolah terlupa dengan penindasan yang telah dilakukan Willy padanya.
"Kak Zacky, sini Kak." Ia memanggil Zacky yang hanya memandangnya dari kejauhan sambil tersenyum. Lelaki itu tampak sedang melihatnya sambil bersandar di samping mobil. Tapi, kemudian Zacky melangkah, berjalan setengah berlari untuk menghampiri Lintang.
__ADS_1
"Lo suka?" tanya Zacky. Lintang mengangguk cepat. Ia tersenyum senang. Seolah-olah bebannya terlepas.
"Aku suka banget sama pantai. Aku suka langitnya yang biru, air dengan ombak yang menderu. Suara burung-burung di sana." sahut Lintang sambil menunjuk burung-burung yang sedang terbang beriringan di langit luas.
"Kalo lo suka, kapan pun lo mau, gue bakal ajak lo ke sini lagi." timpal Zacky. Lintang memandang Zacky. Lewat sorot matanya yang teduh ia mengucapkan terima kasih berulang kali.
"Kak Zacky makasih ya." ujarnya lalu ia berlari kecil menyusuri pesisir pantai. Rambutnya tampak bergerak indah. Suasana sore mulai tampak. Mentari mulai menampakkan jingga yang indah. Lintang dan kilau mentari sore itu seperti satu kesatuan yang memukau. Senyum dan tawa lepas Lintang bagai angin sejuk bagi Zacky. Entah mengapa, ia sangat senang melihat tawa dan juga senyum gadis itu. Kalau bisa, ia ingin membungkus senja hari ini untuk menjaga agar keindahannya tidak hilang.
Zacky terpesona melihat kecantikan yang begitu natural dari Lintang hari ini. Hatinya berdesir, sejuk dalam hatinya terasa mengalir. Betapa Willy akan menyesali jika memang ia tidak memperlakukan Lintang dengan baik. Lintang gadis sederhana yang cantik dengan semua kebaikan dan juga tingkahnya. Zacky bisa merasakan hangat menjalari seluruh tubuhnya saat ia berdekatan atau menatap Lintang.
Ia menghampiri Lintang. Kemudian, meraih pundak gadis itu lembut. Dihadapkan gadis itu dengannya.
"Lin, lo setuju sama pernikahan itu?" tanya Zacky serius. Lintang mengalihkan wajahnya. Ia diam sesaat kemudian mengangguk.
"Kakek sangat baik. Aku cuma bisa membalas kebaikannya dengan itu." sahut Lintang dengan tersenyum.
"Lo bisa membatalkan semuanya kalau itu menyiksa diri lo. Kakek gak akan marah." ujar Zacky lagi. Ia sendiri bingung mengapa ia harus mengatakan hal itu. Perkataan yang meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Gak papa, Kak. Aku mau melanjutkan pernikahan itu." sahut Lintang berusaha meyakinkan Zacky dan dirinya sendiri. Lintang tidak akan mengingkari janjinya pada kakek.
"Baiklah. Tapi, kalau dia jahat sama lo, kasih tau gue. Gue bikin penyok kakinya." balas Zacky sambil tertawa kecil, tapi di balik itu ia benar-benar ingin melindungi Lintang dari apa pun. Termasuk Willy.
"Makasih ya, Kak Zacky." ujar Lintang. Ia menahan agar air matanya tidak tumpah. Ia tahu, Zacky bersungguh-sungguh atas apa yang dikatakannya. Tapi, Lintang tidak ingin melibatkan siapa pun. Ia tidak ingin kebencian Willy padanya juga akan memecah belah tali persaudaraan di antara Willy dan Zacky. Biarlah ia menanggung semua ini sendirian. Dengan semua kesabaran juga kepasrahan.
Sore telah benar menjingga, membuat Lintang dan Zacky harus segera beranjak dan pulang. Bersama, mereka berjalan meninggalkan pesisir pantai, menuju mobil yang akan membawa mereka kembali ke rumah. Ke kehidupan yang penuh beban dan penderitaan bagi Lintang sekarang.
__ADS_1