Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Cemburu


__ADS_3

Willy dan Lintang sedang berada di sebuah gedung pada kamis malam. Ada acara dari salah satu perusahaan lain dan Willy merupakan tamu kehormatan di acara itu. Lintang mengenakan dress panjang semata kaki yang masih dengan indah membentuk tubuhnya namun kini dengan perut yang sudah condong ke depan. Banyak yang memberikan ucapan selamat pada mereka.


Willy menggandeng mesra istrinya kemanapun ia melangkah. Acara ini mengundang para pengusaha kaya juga para sosialita berduit dari kalangan borjuis. Lintang asik berbincang dengan para tamu undangan perempuan yang hadir malam itu dengan segelas minuman di tangannya.


Willy juga sedang berbincang hangat dengan para pengusaha muda lainnya tak jauh dari tempatnya berdiri bersama para sosialita itu.


"Sudah berapa bulan usianya?" Tanya salah satu perempuan yang ada diantara mereka. Ia menunjuk perut Lintang yang membuncit.


"Masuk enam bulan, Kak." Sahut Lintang sambil tersenyum.


"Orang bilang, perempuan hamil itu auranya pasti beda. Nyonya William nampak cantik sekali." Puji salah satu perempuan yang memakai dress berwarna merah dengan bahu terbuka.


"Ya, aku selalu suka melihat perempuan hamil karena aku sendiri belum punya anak sampai sekarang. Padahal usia pernikahan kami sudah masuk enam tahun." Yang memakai dress biru menimpali dengan rasa sedih. Yang lain menghiburnya termasuk Lintang.


Mereka meneruskan perbincangan dengan cukup seru. Sampai kemudian, Lintang mengenali seorang perempuan dengan dress berbelahan dada rendah juga ikut bergabung bersama mereka. Lintang melihat Emilie yang menatapnya tajam. Lintang berusaha tidak menggubrisnya.


"Bagaimana sih tanggapan kalian, kalau suami kalian tidur di tempat perempuan lain?" Tanyanya sambil tersenyum. Yang lain langsung menanggapi dengan antusias.


"Tentu saja akan ku ceraikan suami seperti itu." Perempuan berbaju merah menjawab.


"Pelakor tidak tahu diri, kalau aku sudah ku tendang mukanya." Yang berbaju biru menimpali.


"Tetapi kita tidak bisa menyalahkan perempuan itu juga, bisa jadi istrinya yang kurang menarik." Emilie memanas-manasi.

__ADS_1


Lintang menatap Emilie tajam, ia tahu perempuan itu sedang memanasi nya. Namun kemudian ia bersuara.


"Terlepas istrinya kurang menarik atau tidak, tapi perempuan bermartabat tidak akan mau mengganggu rumah tangga orang lain, bukan?" Kata Lintang dengan senyumnya yang anggun. Yang lain mengangguk setuju pada pernyataan Lintang barusan. Wajah Emilie mengeras. Tidak menyangka akan mendapat tanggapan begitu telak dari Lintang.


"Salahkan suaminya kenapa ia malah mau menuruti semua keinginan perempuan itu." Emilie mengeluarkan lagi kata-kata pamungkasnya.


"Laki-laki kadang suka terlalu baik dan suka tidak enakan pada perempuan lain. Akhirnya perempuan itu salah sangka mengira si laki-laki juga menyukai dirinya. Padahal kenyataannya tidak demikian, si lelaki malah risih. Tapi mengusirnya juga susah, jadi biarkan saja perempuan itu terus berharap tanpa ada kepastian." Lintang membalas tak mau kalah. Emilie mengepalkan tangannya kuat. Ia menatap Lintang tajam, Lintang hanya memandangnya dengan senyum.


Emilie kemudian memilih berbalik dan melangkah meninggalkan perbincangan saling sindir tadi. Sementara Lintang kembali melanjutkan perbincangan hangatnya dengan para tamu perempuan yang masih betah mengajaknya mengobrol. Lintang mulai bisa menguasai keadaan setelah sebelumnya ia sempat terpancing emosi mendapati Emilie yang sengaja memanasi nya.


Saat ia kembali tenggelam dalam obrolan hangat, dari arah berlawanan ia melihat satu wanita lagi. Troublemaker selanjutnya. Lintang menarik nafas panjang saat ia melihat Fiska juga ada di tempat ini. Fiska berjalan dengan menggandeng seorang pria yang juga pengusaha kaya. Ia menatap Lintang tajam namun tidak bisa melakukan apa pun karena Willy telah mengancamnya kemarin. Selain malu karena Willy tahu tentang pekerjaan kotornya juga karena nyali nya telah menciut mendapat ancaman mengerikan dari lelaki itu. Akhirnya ia hanya bisa melihat Lintang dengan pandangan tidak suka sepanjang acara berlangsung.


Lintang menarik nafas lega setidaknya ia tidak akan meladeni perempuan lain yang menggilai suaminya selain Emilie tadi.


"Mengapa kau murung begitu?" Tanya Willy ketika mereka telah berada di dalam mobil. Mereka telah keluar dari gedung tempat acara masih berlangsung.


"Kakak sengaja mengajakku ke sini karena ada mereka." Ujar Lintang. Ia menatap keluar jendela, tidak mau memandang suaminya. Willy mengerutkan keningnya, ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan istrinya itu.


"Lintang, apa yang sedang kau bicarakan, sayang? aku sama sekali tak mengerti."


"Kenapa mereka selalu menghantui mu Kak. Fiska. Emilie." Lintang akhirnya menyebut dua nama itu. Willy menarik nafas panjang. Ia kesal selalu membahas tentang kedua perempuan itu.


"Aku bahkan tidak melihat keduanya tadi. Apa mereka macam-macam terhadapmu?" Tanya Willy akhirnya. Ia ingin segera menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut.

__ADS_1


"Fiska, tidak. Emilie, ya." Sahut Lintang akhirnya. Ia tidak ingin memendam apapun juga lagi.


"Apa yang di katakan nya?"


"Katanya, kau tidur dengannya malam itu." Lintang hampir menangis saat ia mengatakannya.


"Kau percaya padanya?" Tanya Willy gusar. Lintang tidak mengiyakan. Ia diam. Willy meraih dagu istrinya lalu menghadapkan wajah mereka. "Kau meragukan ku." Sedih Willy saat mengatakannya.


Lintang akhirnya memaksakan seulas senyum. Ia merasa sudah keterlaluan dengan mengungkit hal yang sudah berlalu itu apalagi sampai meragukan kejujuran suaminya. Ia meraih jemari Willy lalu menggenggamnya erat.


"Maafkan aku, Kak. Aku percaya padamu. Aku hanya takut kau berpaling." Ujarnya yang kemudian disambut kecupan hangat di keningnya oleh Willy.


"Aku tidak mempunyai tempat untuk perempuan mana pun lagi di sini." Willy meletakkan jari Lintang tepat di jantungnya. "Kau sudah menguasai semua ruang dan rongganya." Lanjut Willy lagi.


Lintang tersenyum lega. Ia memang sempat terpancing oleh apa yang dikatakan Emilie beberapa saat yang lalu. Namun, ia sadar tidak seharusnya ia meragukan semua yang telah di perjuangkan oleh suaminya selama ini. Lintang tidak ingin lagi berpikir macam-macam. Itu hanya akan menjadi racun dalam hubungan mereka.


Namun, tanpa di duga oleh Lintang. Willy telah menyusun rencana untuk membuat perhitungan lagi pada kedua gadis itu. Ia benar-benar sudah muak dengan kedua perempuan itu. Mungkin Fiska memang tidak lagi berani mendatangi atau mengganggu Lintang secara langsung, namun tidak menutup kemungkinan gadis itu akan membayar orang lain untuk melakukannya.


Tentang Emilie, rasanya ia sudah banyak memberinya keramahan. Gadis itu nampaknya juga butuh di segarkan otaknya agar tidak lagi mengganggu Lintang dengan kata-katanya yang berbahaya itu. Willy muak sekali padanya kini. Ia tidak akan ragu untuk membuat perhitungan pada siapapun yang telah berani mengusik Lintang. Tidak terkecuali Emilie.


"Adakan pertemuan besok dengan perusahaan Wijaya." Willy menghubungi asistennya yang dengan cepat melaksanakan perintahnya .


Willy menatap Lintang lagi, lewat sorotan matanya ia seolah mengatakan bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2