
Pagi itu Lintang telah berada di Bandara menemani suaminya dan juga Setya yang akan menemani Willy selama di Perancis. Ia juga di temani Miranti.
"Sayang, baik-baik ya selama aku tinggal." Willy mengecup kening Lintang lembut dan lama.
"Kak, hati-hati selama di sana." Balas Lintang lirih. Ia sebenarnya tidak suka jauh dari suaminya ini. Namun, ia tidak boleh egois. Perjalanan ke luar negeri ini bukan untuk pergi berlibur.
"Iya sayang, kau juga harus banyak istirahat ya. Makan yang banyak, vitamin jangan lupa diminum."
"Iya Kak." Lintang mengangguk.
"I love u, sayang. Aku pasti akan rindu sekali padamu." Willy menatap Lintang tepat ke manik matanya yang hitam.
"Udah udah hus hus sana pergi nanti ketinggalan pesawat." Mamanya meraih Lintang, membuyarkan perpisahan penuh haru itu.
Willy memandang mamanya dengan mengerucut. Lintang jadi tertawa melihatnya. Setya yang melihat itu juga jadi ikut tersenyum, pasalnya kewibawaan lelaki itu seolah lenyap saat telah berhadapan dengan Ibunya. Ia kembali lagi jadi anak manja kesayangan mama.
Willy melambaikan tangannya pada Lintang dan juga Mama yang segera membalasnya.
"Kamu tenang aja Lin, anak mama itu pintar, dia jago banget. Urusan perusahaan itu kecil." Mama menjentikkan jarinya dengan gaya lucu. Demi apa Lintang bersyukur sekali punya mertua yang humoris begini.
"Iya, Ma. Lintang percaya kok. Kak Willy pasti segera pulang." Lintang memeluk melingkarkan tanganya di pinggang Ibu Mertua.
"Pasti dong. Willy pasti bisa secepatnya pulang kembali bersama kita. Kamu jangan lupa minta oleh-oleh yang banyak ya nanti kalau dia telepon." Ujar Mertuanya itu, lagi-lagi Lintang tak mampu menahan senyumnya. Ibu Mertuanya tenang-tenang saja padahal perusahaan mereka di Perancis sedang mengalami masalah cukup serius.
"Tapi, gimana kalo Kak Willy gak berhasil ma?" Tanya Lintang khawatir.
__ADS_1
"Tenang aja, Lin. Mama tahu betul Willy pasti mampu mengatasi semua masalahnya. Mama udah ajarkan dia untuk babat habis semua yang merugikan sampai ke akar-akarnya, Gini-gini Mama juga pernah pegang perusahaan dulunya sayang." Jelas Mama panjang lebar.
"Waaah Mama hebat. Kenapa sekarang gak lagi, Ma?" Tanya Lintang penasaran.
"Mama lebih senang di dapur. Nanti kita berdua akan kolaborasi, kamu tunggu aja tanggalnya." Mama tersenyum penuh misteri.
"Ma, Kak Willy pasti bisa kan?" Lintang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Kalau dia gak bisa, Mama bakal suruh dia tidur di atas pohon dua hari dua malem." Jawab Mama kalem. Lintang jadi tertawa sekaligus ngeri membayangkannya. Ia jadi ingat betapa menderitanya Willy ketika harus memanjat pohon jambu kemarin. Belum lagi setelah turun ia melihat kulit putih bersih suaminya itu memerah karena digigit serangga dan nyamuk.
Mereka akhirnya kembali masuk ke dalam mobil yang akan membawa dan mengantarkan mereka ke rumah induk. Namun, di tengah perjalanan Miranti mengubah rencana.
"Mang, kita ke mall dulu ya." Katanya pada supir mereka.
"Nggih nyonya." Balas mang Ujang penuh kepatuhan.
Ia juga melihat kasur goyang bayi lengkap dengan aksesoris mainan di atasnya.
"Aduh.. Mama gemes sama yang ini." Tunjuk Mama pada baju yang berwarna cokelat lengkap dengan topi bayi.
"Yang ini juga lucu Ma." Lintang menunjuk sebuah setelan baju bayi berwarna biru bermotif lucu.
Miranti menunjuk semua yang ia suka yang segera di bungkus oleh pelayan toko. Juga membiarkan Lintang memilih barang lain yang ia senangi. Mereka keluar dengan barang belanjaan yang diantar pelayan langsung ke parkiran besment sementara mereka meneruskan berkeliling Mall.
"Lin, kita makan yuk. Mama laper banget." Mama menggandeng tangan menantunya menuju sebuah food court. Di sana ia bertemu para istri kolega perusahaan keluarganya. Mereka mengucapkan selamat atas kehamilan Lintang yang sudah semakin mendekati hari kelahiran.
__ADS_1
"Cantik sekali menantunya, Jeng. Maaf ya kemarin waktu acara pernikahan saya gak bisa datang. Maklum sedang ada urusan di Jepang. Anak saya diwisuda hari itu." Ujar seorang perempuan bersanggul kepada Mama. Miranti hanya menanggipnya maklum dan tersenyum.
Menjadi sosialita juga orang terpandang dan berduit ternyata memang akan membuat kelas kita di strata teratas. Dimana pun melangkah ada saja yang menghampiri untuk sekedar basa basi. Bagi para istri kolega lainnya, biasanya itu jadi ajang saling menjilat untuk memuluskan jalinan kerja sana suami-suami mereka.
Miranti sendiri sosok yang apa adanya meski ia orang kaya, hatinya selembut sutra, sesederhana mungkin penampilannya kalau bisa. Gaya bicaranya juga apa adanya, suka ia bilang , tidak suka ia katakan langsung. Willy persis dirinya.
Dulu, banyak dari kolega nya yang berusaha mendekatkan anak gadis mereka dengan harapan bisa berbesan dengan Miranti. Namun, Miranti tidak menggubris semua itu. Ia tetap memilih Lintang dari banyaknya orang yang datang.
"Mau makan apa, Lin?" Tanya Mama setelah acara basa basi selesai.
"Apa aja deh, Ma." Lintang menyerahkan pilihan pada Ibu Mertua.
"Kita pesan steak aja ya."
Lintang mengangguk menyetujui apapun yang dipesan Ibu Mertuanya.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka sampai. Keduanya makan sambil berbincang. Miranti tidak mau aturan yang terlalu kaku, ketika makan bukan berarti tidak boleh berbincang. Justru baginya kehangatan serta kedekatan bisa di bangun di atas meja makan.
"Lin, nanti punya anak yang banyak ya."
Lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Anaknya yang ini juga belum lahir. Ibu Mertua memang luar biasa. Lintang tersenyum sendiri membayangkan jika ia memiliki banyak anak nanti. Ibu Mertua juga pasti akan kerepotan membantunya mengurus anak-anak ia dan Willy nantinya.
Namun, Lintang sayang pada Ibu Mertua. Ia tentu tidak akan mau mengecewakan. Ia ingin mereka bahagia. Willy juga mertuanya. Ia akan berusaha memberi lebih dari satu keturunan nantinya.
"Lin, kamu tidur di kamar Willy aja ya nanti. Jangan di rumah belakang dulu. Biar nanti kalo kamu perlu bantuan bisa cepat dibantu." Ujar Mamanya lagi. Willy juga telah menyarankan ia untuk tidur di kamar besar itu saja selama ia tidak ada. Dan Lintang tentu saja tidak ingin menolak.
__ADS_1
Ah Ibu Mertuanya ini, membuat Lintang menjadi menantu paling bahagia di dunia. Terima kasih Mama.. gumamnya di dalam hati.