
Lintang melangkah keluar dari rumah mungilnya setelah sebelumnya ia mengunci dulu pintu rumah tersebut. Hari ini ada mata perkuliahan yang harus ia ikuti. Tapi sebelum ia melangkah keluar, Lintang masuk ke dalam rumah induk mencari Tante Miranti.
Wanita yang masih nampak cantik itu ternyata sedang di dapur, sibuk mengawasi para pelayan rumah yang sedang membuat dan memasak makanan untuk siang nanti. Miranti terkenal tidak segan turun ke dapur untuk mengawasi pekerjaan para pelayannya sejak ayah mertuanya masih hidup dulu hingga saat ini. Lintang mendekati calon mertua sekaligus nyonya besar dalam rumah itu.
"Tante." panggilnya pelan, takut mengganggu kegiatan wanita itu. Miranti berbalik, ia menemukan Lintang telah rapi dengan setelah celana jeans dan kaus kemeja yang pas di tubuhnya serta beberapa buku yang ia peluk di depan dada. Wanita itu tersenyum.
"Ada apa Lin?" tanya wanita itu dengan ramah.
"Hmmm ... aku boleh gak menginap di rumah temen malam ini? ada beberapa tugas yang harus dikerjain bareng. Besok harus presentasi." ujar Lintang ragu, ia takut tidak mendapat izin dari wanita itu.
"Iya, gak apa. Tapi kamu hati-hati ya. Hmmm, Tante minta Willy antar kamu ya." sahut wanita itu. Lintang mengangkat secepat mungkin wajahnya.
"Gak usah Tante, Aku bisa sendiri kok. Kan mau ke kampus dulu nanti pulang sekalian aja sama temen." ujar Lintang cepat. Ia benar-benar tidak ingin bertemu Willy saat ini. Apalagi jika ia ingat perlakuan lelaki itu akhir-akhir ini. Hatinya tiba-tiba nyeri.
Akhirnya Miranti mengiyakan. Lintang bergegas meninggalkan rumah itu sebelum ia bertemu dengan Willy. Lintang telah berada di luar gerbang rumah setelah sebelumnya ia menyapa pak Mamat, Satpam yang menjaga rumah megah itu. Lintang berjalan pelan di atas trotoar, ia menunggu angkutan umum yang akan membawanya ke kampus seperti biasa.
Saat sedang menunggu, ia melihat Willy melaju pelan. Ia segera menundukkan pandangan, mencoba berpura-pura tidak melihat Willy yang sedang menatapnya tajam dari balik kemudi. Ia terus menunduk sampai kendaraan itu menghilang dari pandangannya. Lintang menarik nafas lega. Ia jadi bergidik sendiri, belum juga menikah, Willy telah menyiksanya dengan kejam. Ntah bagaimana nasibnya jika ia telah menikah dengan laki-laki itu nanti.
__ADS_1
Lamunan Lintang buyar ketika angkutan umum berhenti tepat didepannya, ia naik dan duduk dengan tenang. Setidaknya, malam ini ia tidak harus bertemu lagi dengan lelaki itu karena akan menginap di rumah Sela, teman baiknya di kampus
...****************...
Perkuliahan telah selesai satu jam yang lalu, tapi Lintang masih betah berada di kampus. Ia sedang duduk menunggu Sela yang sedang berada di ruangan dosen. Tidak lama kemudian Sela datang menghampirinya, dengan dua buah minuman dingin yang diberikan kepadanya satu.
Lintang menyesap minuman dingin itu perlahan, matanya tampak menerawang. Sela memperhatikan itu, teman baiknya tampak aneh akhir-akhir ini. Lebih pendiam dari biasanya. Lintang yang ceria itu tampak entah kemana beberapa hari ini.
"Kenapa sih lo?" tanya Sela
"Yee ... orang gue nanya, lo malah nanya balik." sahut Sela sedikit kesal.
"Gak papa Sel. Aku cuma lagi bingung aja sekarang." ujar Lintang lirih. Sela memalingkan wajah, menatap sahabatnya yang tampak gundah.
"Bingung kenapa sih Lin, nilai lo kan bagus semua. Apa yang bikin lo bingung . Dan lo tu bukan bingung tapi lebih kayak sedih gitu tau gak sih." balas Sela lagi, ia tahu betul Lintang bukan tipe orang yang cepat bersedih. Jika ia menemukan sahabatnya dengan kondisi seperti ini, tentu saja itu berarti ada hal yang benar-benar serius sedang dihadapi oleh gadis ini.
"Aku mau nikah." ujar Lintang singkat tanpa ekspresi dan datar sekali. Sela terkejut setengah mati. Minuman yang belum sempat tertelan itu tersembur begitu saja keluar dari mulutnya. Ia berdiri lalu menatap Lintang serius.
__ADS_1
"Lo gak lagi becanda kan?" tanyanya dengan ekspresi yang tidak percaya.
"Untuk apa aku bohong, Sel." jawab Lintang lirih. Ia hampir menangis menjawabnya. Sela kembali terduduk di samping gadis itu. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendengar kabar ini. Dan bisa ia pastikan, Lintang tidak pernah menghendaki pernikahan ini sebenarnya.
"Sama siapa Lin? Lo tu bahkan gak punya pacar. Cowok mana pun yang nembak lo gak ada yang lo terima." ujar Sela. Ia benar-benar tidak habis pikir.
"Sama cucu Kakek." Lintang menjawab lagi. Lalu di detik berikutnya, ia menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya tampak terguncang. Sela memandang iba pada sahabatnya itu. Sela bukannya tidak tahu kehidupan Lintang. Lintang menceritakan semua hal kepadanya. Tentang statusnya yang hanya seorang anak pembantu dan juga kebaikan keluarga besar Dwianuarta Group kepadanya terlebih kakek Franky, bahkan dulu kakek Franky sempat terlihat beberapa kali menjemput Lintang di kampus yang menunjukkan betapa ia menyayangi gadis itu.
Saat itu semua penghuni kampus gempar. Bagaimana tidak, Seorang pendiri Dwianuarta Group yang memiliki perusahaan dimana-mana bahkan sampai di beberapa negara luar, datang menyetir sendiri menjemput gadis sederhana yaitu Lintang. Beberapa dosen bahkan sempat membungkuk memberi penghormatan pada lelaki pemegang saham terbesar di kampus tersebut. Sela sudah bisa menebak, pernikahan ini pasti atas permintaan tuan besar Franky Dwianuarta yang tentu saja Lintang tidak akan bisa menolak permintaan terakhir dari lelaki itu.
Sela memeluk sahabatnya yang sedang dilanda perasaan sedih itu. Ia seolah bisa merasakan apa yang dirasakan Lintang saat ini.
"Terus kenapa lo sesedih ini Lin? Bukannya lo tau, keluarga besar itu sayang banget sama lo." ujar Sela sambil mengusap punggung sahabatnya. Ia berusaha menenangkan dan memberi kekuatan pada Lintang. Lintang tidak menjawab namun isaknya semakin terdengar meski lirih, itu membuat hatinya ikut nyeri. Pasti ada sesuatu yang membuat Lintang akhirnya menjadi begitu terpuruk saat ini.
"Dia jahat ya sama lo?" tanya Sela lagi. Lintang lagi-lagi tidak menjawab. Dan Sela tidak perlu bertanya lebih banyak lagi. Ia mengerti memang ada yang sudah terjadi antara Lintang dengan calon suaminya itu, yang tidak lain adalah William Dwianuarta yang tidak bukan adalah cucu dari Franky Dwianuarta, Pewaris utama tahta Dwianuarta Group. Sela akan membiarkan Lintang tenang dahulu, gadis itu pasti akan bercerita padanya nanti setelah ia merasa cukup baikan.
Malam ini Lintang akan menginap di rumahnya. Mereka tentu akan memiliki waktu yang cukup banyak untuk saling bertukar cerita. Ia mengajak Lintang menuju mobilnya terparkir, mereka akan segera pulang ke rumah Sela untuk beristirahat sejenak lalu mengerjakan beberapa tugas bersama setelah itu, barulah ia akan mendengarkan semua cerita dari sahabatnya itu.
__ADS_1