
Di suatu tempat tepatnya disebuah restoran mewah, Willy dan asistennya tampak duduk dan menikmati jamuan makan siang. Ada beberapa orang juga di depan mereka. Mereka sedang bersantai setelah membahas sebuah proyek baru yang akan di laksanakan pekan depan di Bandung Utara. Willy sedang meminum kopinya ketika seorang perempuan tinggi, cantik dan nampak seperti bukan asli pribumi. Ia seperti blasteran, menghampiri mereka.
Perempuan itu mendekati meja mereka, berjalan dengan anggun. Willy masih dengan sikapnya yang dingin namun tetap melihat perempuan yang ia tidak tahu siapa itu.
"Tuan Willy, ini Nona Emilie. Dia anak dari pemilik perusahaan Wijaya, yang akan menghandle proyek ini di Bandung nanti." Pak Setya, Asisten Willy memperkenalkan perempuan yang sedang mengulurkan tangannya itu. Willy menyambutnya dengan senyum sesaat kemudian kembali ke posisi semula. "Silahkan duduk, Nona." Ujar Setya kemudian kepada Emilie.
"Maaf atas keterlambatan saya hari ini Tuan-Tuan. Kepada Anda khususnya Tuan Willy." Emilie mengucapkannya dengan sedikit membungkukkan kepala. Willy hanya mengangguk saja menanggapi gadis itu.
Setelah basa basi singkat itu obrolan mereka mulai serius membahas tentang kerjasama proyek yang akan mulai berlaku mulai pekan depan. Selama pembahasan itu berlangsung, Emilie sering kali mencuri pandang pada Willy. Ia nampaknya lebih tertarik pada lelaki itu daripada pembahasan tentang proyek mereka. Willy sendiri sadar bahwa sedari tadi Emilie tidak melepas pandangannya, namun Willy memilih untuk fokus pada proyek yang akan berlangsung mulai pekan depan.
Setelah disepakati beberapa perjanjian dan pembahasan yang akan disahkan dan di tanda tangani nanti ketika pertemuan meeting selanjutnya, akhirnya mereka mengakhiri pertemuan siang ini. Mereka saling berjabat tangan. Begitu juga Emilie dan Willy. Willy kemudian melangkah menuju mobil yang akan dikendarai oleh Setya, asistennya.
Sementara di mobilnya sendiri, Emilie tidak bisa berhenti memikirkan pertemuannya dengan pemimpin perusahaan besar tadi. Emilie baru kali ini melihat laki-laki dengan pesona yang begitu kuat hingga ia pun harus mengakui bahwa dirinya terpikat. William Dwianuarta, gadis itu berusaha mengingat dan menyimpan wajah Willy dalam pikirannya.
Emilie memang tidak tahu tentang lelaki itu, meski ia pernah mendengar desas desus tentang calon raja pewaris utama tahta Dwianuarta Group sejak lama. Namun, ia tidak menyangka bahwa lelaki itu ternyata adalah seorang pria tampan dan sangat sedikit berbicara. Emilie juga baru beberapa hari kembali dari London. Setelah beberapa bulan lalu ia mengalami putus cinta karena kekasihnya ketahuan berselingkuh dengan wanita lain.
Dan setelah kembali, ia seolah mendapat angin sejuk saat melihat dan bertemu dengan Willy. Lelaki itu sejak hari ini telah menyita seluruh hampir pikirannya. Emilie ingin menjumpainya lagi dan lagi. Emilie ingin mengenalnya lebih jauh, ia ingin tahu seperti apa keseharian lelaki yang telah memikat hatinya itu. Namun, nampaknya Emilie harus menelan kenyataan pahit kelak saat ia mendengar bahwa lelaki pujaannya telah menikah dengan perempuan lain.
__ADS_1
...****************...
Willy tiba di rumah pukul tujuh malam saat Lintang sedang menyiapkan hidangan makan malam. Lintang buru-buru mendekati Willy, ia membuka dasi yang masih menempel di kerah baju suaminya. Willy memberi Lintang ponselnya. Lintang melihat itu tidak mengerti.
"Simpan nomormu di ponselku." Ujar Willy datar.
Lintang buru-buru melakukan apa yang Willy perintahkan. Setelah selesai, ia memberikan lagi benda mahal itu kepada suaminya.
"Ehmm, Kak Willy mau makan atau mandi dulu?" Lintang bertanya hati-hati. Willy menoleh, menatap Lintang sesaat.
"Mandi." Jawabnya singkat.
Lintang keluar dari kamar mandi kemudian menghampiri Willy. Willy melangkah dan menghilang dari balik pintu kamar mandi. Lintang sendiri menunggu Willy selesai dengan menonton acara televisi. Saat ia telah asyik dengan acara televisinya, Willy yang telah selesai mandi dan memakai pakaian santai keluar dari kamar. Ia melihat Lintang yang sesekali tertawa melihat acara televisi yang kebetulan sedang menayangkan film komedi.
Tanpa sadar, Willy terpesona. Ia melihat Lintang yang tertawa itu dengan begitu sejuk. Ada angin segar seketika menelusup ke dalam hatinya. Lintang tampak apa adanya, ia tertawa riang seolah tak ada beban. Willy menggeleng kuat. Ditepisnya segala ketersimaan yang ia saksikan saat ini.
Lintang tersadar ketika Willy berdeham pelan. Ia mulai mengekor mengikuti Willy yang akan menuju meja makan. Willy melihat hidangan di meja. Ada sup daging, perkedel juga sayuran di sana. Menggugah seleranya untuk segera memasukkannya ke dalam perut. Lintang mulai menyendok kan Nasi beserta lauk pauk kepada suaminya. Mereka memulai makan dengan tenang, kembali hening.
__ADS_1
Lintang jadi ingat suasana di rumah induk. Biasanya saat jam makan begini ia akan berkumpul di dapur bersama para pelayan. Lintang akan makan bersama mereka, mereka akan makan sambil sesekali bercerita hingga suasana ramai pun tercipta. Oh iya, Lintang teringat sesuatu, besok adalah hari Sabtu, waktunya ia kembali ke rumah mungil.
"Kak, ehm, aku besok boleh pulang ke rumah kan?" Tanya Lintang hati-hati. Willy tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. Lintang tersenyum senang. "Hmm, Kak Willy akan pulang ke sana juga?" Sambungnya lagi, ia bertanya dengan sangat hati-hati.
Willy tidak menjawab, hanya terus menyuap dan memasukkan makanan ke mulutnya. Lintang juga karena tidak mendapat jawaban akhirnya memilih diam dan tidak bertanya lagi. Tapi kemudian suara Willy terdengar memecah keheningan.
"Aku menyusul setelah pulang dari perusahaan." Ujar Willy akhirnya. Lintang menyambutnya dengan senyuman kecil. Ia menyelesaikan makannya lebih dahulu, setelah itu ia pergi ke dapur, mengeluarkan sesuatu dari kulkas lalu memberinya pada Willy.
"Hmm.. Kakak mau mencobanya?" Lintang menyerahkan dessert yang ia buat sore tadi. Lintang membuat banyak makanan dan kue namun, sebagian lagi telah ia bagikan kepada para Security yang berjaga di lobby dan area parkir besment apartement. Lintang ingat bagaimana senangnya para pekerja itu, mereka juga mengatakan bahwa baru kali ini ada penghuni apartement yang mau berbagi kepada mereka. Lintang hanya tersenyum menanggapinya, baginya kehidupannya sebenarnya sama saja dengan mereka, ia hanya beruntung karena telah di pertemukan dengan keluarga besar Dwianuarta group yang akhirnya membuat hidupnya yang biasa jadi lebih istimewa. Namun, Lintang tetaplah Lintang, ia tetap rendah hati dan juga sederhana.
Willy mengambil dessert yang diberikan Lintang tadi lalu mulai memakannya. Ia hampir menghabiskannya sendirian, melihat itu Lintang jadi tersenyum. Kemudian ia mulai membereskan meja makan dan juga piring-piring kotor. Saat Lintang sedang mencuci piring, samar-samar ia mendengar Willy sedang berbicara di telepon.
"Oh Emilie, Iya ini aku, besok? dimana? Oh baiklah. Ya, selamat malam." Sambungan telepon itu dimatikan oleh Willy.
Emilie menelponnya, mengajaknya untuk makan siang besok di sebuah restoran jepang. Willy menghargai kolega perusahaannya itu dan mengiyakan. Willy melihat Lintang yang telah selesai dengan pekerjaannya. Gadis itu nampak membuka kuncir rambutnya, membuat rambutnya segera tergerai. Willy lama sekali melihat Lintang, entah mengapa kini ia betah berlama-lama melihat gadis itu.
Willy kemudian masuk ke dalam kamar, ia mematikan lampu dan mulai berbaring. Sebenarnya ia ingin kembali bermain-main dengan gadis itu malam ini. Namun, ia mengurungkan niatnya. Dan membiarkan saja Lintang berbaring disampingnya dan mulai memunggunginya. Tapi kemudian, Willy mendekati Lintang, Ia mengulurkan tangan dan memeluk gadis itu dari belakang. Lintang sudah gemetaran takut malam ini akan seperti sebelumnya. Namun, setelah beberapa saat tidak ada yang terjadi. Willy telah mendengkur halus di antara lehernya, dengan tangan yang masih merengkuh perut dan pinggangnya dari belakang.
__ADS_1
Tetaplah waspada, Lintang. Kau tidak akan bisa menebak apa yang akan dilakukan pria jahat ini. Hati Lintang berbisik menghasut.