Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
27. Pindah Ke Apartement


__ADS_3

Siang itu saat matahari telah tinggi, dengan cuaca yang mulai panas, Lintang dan Willy berpamitan kepada keluarga besar untuk tinggal di apartement. Miranti dengan berat hati melepaskan keduanya. Lintang juga berpamitan pada para pelayan yang selama ini telah menjadi teman baiknya.


"Lin, nanti mama bakal sering ke apartement ya kunjungi kamu." Ujar Ibu mertua. "Will, jaga Lintang baik-baik ya." Ia beralih pada Willy. Willy hanya mengangguk malas.


Lintang memeluk Ibu Mertuanya lagi sebelum benar-benar berpisah. Jarak antara rumah induk dengan apartement cukup jauh. Lintang tidak bisa apa-apa. Ia hanya berharap Willy tidak akan berlaku lebih dari perlakuan sebelumnya. Karena sebelumnya saja, Willy sudah berlaku sekehendak hatinya pada gadis itu. Ia hanya berharap perlakuan itu tidak akan menjadi lebih parah dari sebelumnya.


Kini mereka telah berada di dalam mobil. Keduanya diam tanpa suara. Mereka hanya membawa diri saja karena semua peralatan telah tersusun rapi di apartement. Lintang juga hanya membawa baju-bajunya, sementara alat nya yang lain ia biarkan tertinggal di rumah mungil. Lagi pula setiap sabtu ia akan mengunjungi rumah pemberian Kakek Franky itu.


"Ehmm .. Kak, aku boleh tetap kuliah kan?" Tanya Lintang ragu memecah keheningan.


"Hanya kuliah, pulang dari kuliah langsung kembali ke apartement." Kata Willy tanpa menoleh.


"Iya Kak, aku ngerti. Makasih ya." Sahut Lintang.


Suasana kembali hening untuk beberapa saat.


"Berapa umurmu?" Tanya Willy kembali memecah keheningan. Ia bertanya sambil tetap fokus menyetir.


"20 tahun Kak." Lintang menjawab pelan.


Willy menoleh, tersenyum kecil sebentar. Lintang menunduk, tidak berani melihatnya. Willy memang sudah menyangka, gadis yang ia nikahi ini memang masih muda. Perbedaan usia mereka berjarak hampir 9 tahun. Gadis itu memang cantik, tubuhnya indah dan padat di beberapa bagian tertentu. Rambutnya panjang terurai, hitam dan lebat. Namun, Willy sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Mencintai Lintang tentu tidak akan pernah ia lakukan. Namun, Willy sendiri bingung pada dirinya. Mengapa setiap melihat Lintang, kelelakiannya bereaksi begitu kuat. Memaksanya untuk melakukan pergulatan di tempat tidur bersama gadis itu. Bahkan, Willy jadi lupa bahwa beberapa waktu yang lalu Fiska sering menggodanya untuk melakukan penyatuan tetapi ia sama sekali tidak ingin melakukannya bersama gadis itu.

__ADS_1


Willy kembali menoleh pada Lintang yang sedang asyik memandang ke luar jendela mobil. Gadis itu mengenakan kemeja yang pas di tubuhnya dengan setelah rok yang melewati lutut. Nampak anggun dan membuat Willy entah mengapa tidak nyaman memandangnya. Ada sesuatu yang meronta untuk di puaskan saat ia melihat gadis itu saat ini.


Willy kembali memfokuskan matanya pada jalanan. Mereka akan segera sampai. Willy membelokkan mobilnya menuju besment parkir apartement. Apartement Willy berada di lantai paling atas. Hanya ada apartementnya yang berada di sana. Satu-satunya apartement yang terpisah dengan apartement lain. Ia juga memiliki apartement yang luas. Mereka berada di dalam lift saat ini. Lintang mengikuti langkah suaminya, berusaha mensejajarkan langkah Willy yang lebih cepat dari gerakannya.


Di dalam lift, hanya ada mereka berdua. Willy menarik Lintang mendekat kepadanya. Ia menghadapkan Lintang pada dirinya. Lintang memalingkan wajah seraya menunduk, tidak ingin menatap lelaki yang kini kembali ingin menindasnya. Ia tidak kuasa berkutik saat Willy mendorong tubuhnya ke tembok lift. Keduanya berdiri rapat, Willy memandangnya penuh seringai sinis dan licik. Gemetar Lintang dibuat lelaki itu.


"Aku ingin melakukannya disini." Bisik lelaki itu. Lintang bergidik mendengar permintaan lelaki itu. Ia menggeleng, berusaha menolak.


"Jangan Kak. Ini tempat umum. Tolonglah." Pinta Lintang mengiba. Willy meraih dagu Lintang, menjadikan mereka saling bertatapan.


"Kenapa? Kau berani menolak suamimu?" Tanya Willy tajam. Lintang menggeleng.


"Bukan begitu.." Perkataan Lintang terhenti. Willy membungkamnya dengan mengunci bibir mereka berdua. Willy melepaskan ciumannya kemudian menyeret gadis itu saat mereka telah sampai tepat di lantai apartement. Willy membuka kode akses, kemudian menarik tangan gadis itu untuk masuk.


...****************...


Lintang memandang sekeliling apartement yang luas dan mewah itu. Paduan warna krem dan emas membuat tempat itu sangat elegan. Perabotannya lengkap. Kamar mereka juga luas. Lintang tidak habis pikir, mengapa Willy tidak membiarkan ia tidur di tempat lain saja. Bukankah lelaki itu membenci dirinya? Namun ia tetap membiarkan Lintang seranjang dengannya. Sementara Lintang tidak bisa menolak perintah lelaki itu.


Saat ini Lintang sedang duduk di samping jendela apartement. Ia baru saja memakai baju rumahan setelah Willy pergi selepas melakukan pergulatan dengannya. Lelaki itu, mengapa bisa begitu kejam. Tidak mencintainya tetapi selalu memaksanya melakukan hal yang biasa di lakukan suami istri.


Saat Lintang sedang termenung, dering telepon dari ponselnya berbunyi. Satu panggilan dari Zacky. Lintang tersenyum dan segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Hallo." Suara di seberang menyapanya riang.


"Iya Kak, ini Lintang." Sahut Lintang sambil tersenyum.


"Lo udah pindahan ya?" Tanya Zacky, ada nada sedih dalam pertanyaan itu.


"Udah Kak, tadi siang nyampe. Apartement nya jauh banget." Ujar Lintang terdengar lesu.


"Baik-baik ya di sana. Kalau ada apa-apa jangan ragu telepon gue ya Lin." Sahut Zacky tulus.


"Iya Kak. Makasih ya. Kak Zacky di mana?"


"Gue masih di kantor. Bentar lagi pulang kok. Lo jaga kesehatan ya Lin." Begitu kata Zacky. Lintang tersenyum mendengarnya.


"Kak Zacky juga ya." Balas Lintang.


Setelah obrolan singkat itu, Lintang kembali termenung. Namun, setelah itu ia kembali beranjak. Ia menuju dapur, menyiapkan dan memasak makan malam untuk suaminya yang entah sedang kemana. Lintang, berusaha bergerak meski tubuhnya lelah dan sakit. Ada beberapa persendiannya yang terasa nyeri. Willy seperti ingin menghabisi gadis itu setiap kali mereka melakukan penyatuan. Selalu menyakitkan, tidak ada cinta sama sekali.


Dan ini entah sudah keberapa kali tubuh Lintang berkhianat. Karena meski ia tersiksa, naluri kewanitaannya tanpa sadar terkadang membalas apa yang di lakukan Willy padanya di tempat tidur. Lintang menangis, sambil memotong bawang airmatanya juga keluar. Perih mengiris bawang juga beriringan dengan sakit hatinya yang terasa terkhianati.


Oh Tuhan, ampunilah aku. Aku tidak ubahnya *******. Di tiduri hanya karena nafsu. Dan lebih teganya, tubuhku mulai merespon apa yang di lakukan lelaki jahat itu. Aku tidak bisa menolak, tidak bisa pula melawan. Ibu, aku jijik pada diriku sendiri.

__ADS_1


Lintang menyeka airmata yang semakin deras membanjiri pipinya yang putih.


__ADS_2