
Sesuai permintaan Ibunya, setelah dari rumah sakit kini Willy dan Lintang telah berada di supermarket. Willy nampak mendorong sebuah trolly untuk membeli barang belanjaan yang sudah dicatat Ibunya dengan rapi. Biasanya akan ada pelayan yang bertugas untuk membeli semua belanjaan itu, namun karena Willy juga akan keluar jadi sekalian saja.
Lintang sibuk mengambil barang sesuai yang dicatat. Ia telah memasukkan hampir setengah trolly dengan barang belanjaan yang tentu saja belum selesai. Saat mereka sedang asik dengan barang belanjaan, Lintang tidak sengaja menyenggol trolly belanjaan orang lain di depannya. Ia melihat seorang yang ia kenali sebagai Emilie, perempuan yang menggilai suaminya setelah Fiska.
Gadis itu tersenyum kaku, ia menatap Willy dan Lintang bergantian lalu tertunduk. Ia segera berlalu, buru-buru berbalik membawa trolly juga dirinya sejauh mungkin. Lintang yang menyadari itu segera menyusul Emilie. Willy hanya melihatnya, ia tahu tidak ada yang akan terjadi.
"Kak Emilie." Lintang memanggil. Emilie menghentikan langkah, lalu berbalik perlahan.
"Lin." Suaranya serak, ia tersenyum kaku. Lintang mendekatinya.
"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Lintang lembut.
"Gak. Ehmm... maaf ya atas sikapku kemarin padamu juga Willy." Ia menunduk lagi. Lintang tersenyum mendengarnya.
"Aku sudah lama memaafkan mu, Kak." Lintang meraih jemari Emilie, membuat gadis itu mengangkat kepalanya.
"Ehmm.. benarkah? kau tidak benci dan dendam padaku?" Tanya Emilie ragu. Lintang menggeleng, ia menatap mata perempuan itu. "Terima kasih ya Lin. Aku malu sekali padamu." Lanjut Emilie lagi tapi kali ini dengan senyum yang lebih lega.
"Aku senang Kak Emilie telah sadar. Semoga Kak Emilie juga segera menemukan kebahagiaan Kakak." Lintang mengucapkannya dengan tulus. Emilie menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka akan mendapatkan maaf dari Lintang.
"Terima kasih Lin. Setidaknya saat aku telah meninggalkan Indonesia, aku tenang karena kau telah memaafkan aku."
"Kakak akan pergi?" Tanya Lintang lirih.
"Ya, aku akan kembali ke Jerman. Aku akan menetap resmi di sana." Emilie mengangguk. Ia sudah pasrah pada keputusan ayahnya. Lagi pula ini adalah hukuman atas kesalahannya sendiri. Emilie ingat saat pulang dari perusahaan Willy saat itu, ketika ia dan ayahnya telah tiba di rumah, lelaki itu melayangkan tamparan di pipinya kiri dan kanan.
__ADS_1
"Dimana harga dirimu? Kau tidak malu menganggu rumah tangga orang yang telah menyelamatkan perusahaan kita?" Ayahnya berkata dengan keras. Suaranya menggelegar menggema terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
"Tapi aku mencintainya, Dad." Isak Emilie putus asa. Ibunya hanya memeluk Emilie, tidak mampu membelanya.
"Kau mencoreng wajah ayah ibumu. Mahal kan sedikit dirimu, Emilie!" Suara ayahnya masih menggelegar, ia benar-benar tersulut api emosi. Tidak menyangka anaknya akan bertingkah bodoh dan memalukan seperti ini.
"Dad, aku sangat mencintai William. Aku tidak bisa menahan perasaan itu." Emilie masih berusaha membela dirinya, ayahnya menatapnya murka. Ia meraih vas bunga di atas meja lalu melemparkannya ke dinding hingga benda itu pecah berkeping-keping.
"Kau membuatku malu. Sejak kapan kau menjadi murahan begini? Tidak malu bertingkah seperti itu?!" Tanya ayahnya lagi. Emilie terisak semakin dalam.
"Emilie, sadarlah. Tidak baik mencintai lelaki yang telah beristri." Suaranya melunak, Ia lelah berteriak.
"Tapi..
"Kau harus dewasa, Em. Kau bukan anak kecil lagi. Pikirkan kalau itu nanti terjadi padamu." Ayahnya berlutut menyeimbangkan posisi dengan putrinya itu.
"Lupakan William, dia teramat mencintai istrinya. Kalau dia tidak mencintainya, tidak mungkin dia akan mengundangku untuk mengetahui segala yang telah kau lakukan pada mereka." Tuan Joseph memegang pundak putrinya yang terguncang.
"Dad... maafkan aku. Aku menyesal." Akhirnya Emilie menjatuhkan dirinya. Ia menangis sesegukan. Ayahnya meraih putri kesayangannya itu ke dalam pelukan.
"Kembalilah ke Jerman. Aku akan mengurus kepergian mu nanti. Hanya dengan itulah aku bisa memaafkan mu." Kata Ayahnya dengan lembut namun tegas. Emilie tertunduk lesu tapi ia tidak ingin membantah apapun lagi. Ia juga akan mengubur dalam semua keinginannya untuk meraih Willy dalam genggaman.
Emilie menatap Lintang dengan tatapan penuh ucapan terima kasih. Ia juga melihat Willy yang mengangguk kecil padanya dengan senyuman. Ia tahu Willy juga telah memaafkan semua kesalahannya. Emilie memeluk Lintang, ia bisikkan terimakasih juga maaf berulang-ulang.
"Terima kasih, Lin. Kau baik, budimu begitu luhur. Aku bersyukur bisa mengenalmu." Ujarnya penuh ketulusan. Lintang mengusap lembut punggung perempuan itu.
__ADS_1
"Kak Emilie, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." Balas Lintang, matanya juga mulai berkaca-kaca.
Emilie melepaskan pelukannya. Ia mengelus perut Lintang yang sudah semakin membuncit. Ia tersenyum. Lintang tak lagi melihat Emilie yang dulu. Yang pernah menatapnya dengan tatapan benci teramat sangat. Emilie yang ia lihat saat ini adalah sosok yang lembut juga penuh kasih. Ia sadar, begitu hebatnya cinta bisa mengubah sifat seseorang. Yang tadinya baik, lembut dan penuh kasih berubah menjadi tidak terkendali, penuh emosi, juga ambisi.
"Semoga lancar hingga tiba saatnya melahirkan ya, Lin." Ucapnya penuh ketulusan.
"Terima kasih ya, Kak." Lintang membalasnya hangat. Mereka akhirnya saling berpelukan untuk terakhir kali. Setelah itu berpisah.
Lintang masuk ke dalam mobil dan pulang dengan perasaan haru. Ia berharap, tidak ada lagi Emilie atau Fiska yang lain dalam kehidupan mereka. Ia tidak ingin lagi orang lain memelihara kebencian padanya. Ia juga sangat bersyukur karena suaminya tidak lagi mudah tergoda oleh wanita-wanita lain. Ia melindungi Lintang dari segala arah.
"Kak, terima kasih." Ujarnya kepada Willy yang sedang menyetir.
"Untuk apa sayangku?" Tanya Willy
"Karena kakak telah berhasil menjaga hati untukku."
"Aku mencintaimu, Lin. Aku akan menjagamu dari semua yang bisa membuatmu sedih." Willy menoleh, ia tersenyum menatap istrinya.
"Aku beruntung dicintai olehmu." Sahut Lintang lagi.
"Aku lebih beruntung." Balas Willy mantap.
Lintang pulang dengan hati lega. Ia tahu kebaikan memang tidak akan menghianati nya. Ia bersyukur kini semuanya telah semakin indah. Tidak ada lagi berbagai problema yang berat hingga membuatnya menangis. Kini ia hanya ingin menjalankan perannya dengan sebaik-baiknya. Menjadi ibu juga istri setia, berusaha untuk selalu membentuk keluarga bahagia. Kehidupannya sudah sangat sempurna.
Tuhan tidak pernah ingkar janji. Ia percaya bahwa kehidupannya yang baik ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Lintang merelakan semua yang telah terjadi dulu. Tidak ada lagi kesedihan berarti yang mengakibat pilu. Lukanya juga mulai sembuh dari waktu ke waktu. Janji Tuhan itu nyata, ia akan memberi kebahagiaan sesuai porsi juga usahamu. Lintang telah membuktikannya, dengan kesabaran juga keikhlasan yang ia tanamkan dalam hati kecil yang juga telah ia terapkan dalam kehidupannya.
__ADS_1
Kini tidak ada lagi alasan untuk kecewa pada keadaan, ia telah memenangkan takdirnya dengan begitu sempurna.