Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
29. Kembali Ke Perusahaan.


__ADS_3

Pagi ini, Lintang bangun lebih pagi dari biasanya. Ia telah menyelesaikan masakan untuk menjadi hidangan menu sarapan suaminya pagi ini. Lintang juga sudah membuka semua tirai, membuat semburat sinar mentari pagi masuk lewat celah kecil yang terbuka. Lintang melihat Willy masih tertidur, air minum yang ia sediakan semalam sudah berkurang dan hampir habis. Lelaki itu terbangun semalam untuk minum, tepat seperti dugaan Lintang.


Lintang masuk ke dalam kamar mandi, Ia mulai membersihkan tubuh, lalu membiarkan tubuhnya di bawah guyuran air yang memancar. Lintang meraih kimono handuk lalu melangkah keluar. Di lihatnya Willy telah bangun, ia juga nampak sedang menunggu Lintang selesai mandi. Lintang menunduk, belum punya nyali untuk membuka suara bahkan hanya untuk mengucapkan selamat pagi pada suaminya itu.


Willy menunggunya dengan sambil bersandar pada dinding. Lintang segera masuk ke kamar lalu secepat mungkin memakai baju. Ia meraih kaus kemeja yang pas di tubuh dan juga celana jeans hitam. Lintang segera mengenakannya. Dengan handuk yang masih melilit di atas kepala, Lintang menyiapkan tas sandang dan juga beberapa buku yang akan ia bawa untuk menghadapi mata perkuliahan hari ini. Setelah selesai, ia mulai menyiapkan Kemeja lengkap dengan jas Willy karena lelaki itu akan kembali memimpin perusahaan pusat Kakeknya.


Begitu lelaki itu keluar dari kamar mandi, ia melihat Lintang telah rapi dengan pakaiannya. Hanya saja rambutnya yang panjang masih tergelung dan dililiti handuk. Lintang segera menyerahkan baju yang ia pilihkan pada Willy. Tadinya ia sudah siap jika Willy akan meminta kemeja yang lain namun lelaki itu menerimanya dan mulai mengenakannya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Willy menunjuk sebuah laci tidak jauh dari lemari dan Lintang segera mengambil salah satu dasi yang berada di sana.


Ragu, ia mulai memasangkan dasi itu di leher suaminya. Karena suaminya lebih tinggi, ia bisa menyadari bahwa saat ini Willy sedang melihatnya. Lintang terus memasang dasi itu tanpa berani melihat Willy, ia selalu takut menatap mata Willy yang tajam yang seolah mampu menghentikan nyawanya itu.


Setelah selesai ia mulai membuka handuk yang melilit di kepala dan menata rambutnya sendiri. Lintang menyisir rambutnya yang sudah setengah kering dan membiarkannya terurai. Membuatnya nampak cantik sekali pagi ini.


Willy dan Lintang pergi ke meja makan, mereka mulai menyantap hidangan makanan. Sesaat terasa sunyi, Namun suara Willy kembali memecah keheningan.


"Kau bisa pergi sendiri. Aku tidak bisa mengantarmu." Ujar lelaki itu dingin. Lintang mengangguk tanda mengerti.


"Iya Kak." Sahut Lintang

__ADS_1


"Ingat, pulang kuliah langsung kembali." Tambah Willy lagi dan lagi Lintang mengangguk.


Willy akhirnya pergi dahulu sementara Lintang membereskan piring kotor. Setelah selesai, ia akhirnya bisa keluar dari apartement walaupun hanya untuk pergi kuliah. Lintang masuk ke dalam lift menunggu lift membawanya turun. Setelah itu ia mulai berjalan dengan sedikit berlari kecil menyusuri lorong lobby apartement.


Lintang menyapa hangat setiap orang yang ia temui juga membalas sapaan para security. Ia terlihat ceria dan riang sekali. Rambut panjangnya bergerak perlahan mengikuti gerakan Lintang. Lintang menunggu bus di perempatan jalan tak jauh dari apartement, setelah ia bertanya pada security di mana ia bisa menunggu bus atau angkutan umum yang akan membawanya ke kampus.


...****************...


Di perusahaan, Willy membuat geger seluruh penghuni kantor. Kedatangannya ke kantor pagi ini membuat banyak mata terkesima penuh kekaguman pada sosoknya yang dingin, tampan dan tidak banyak bicara. Desas desus tentang cucu Franky William yang tampan dan misterius itu akhirnya benar dan mereka saksikan sendiri hari ini.


Suasana meeting yang di pimpin Ricky Dwianuarta, ayah Willy juga berjalan lancar. Willy memang mewarisi kewibawaan Kakeknya ketika berada di perusahaan. Sosoknya yang dingin dan tidak banyak bicara membuat ia langsung disegani.


Willy menempati kantor utama yang sangat besar dan luas. Ia mulai di sibukkan dengan banyaknya pertemuan bersama kolega baik orang lama maupun baru. Hari ini Willy kembali ke dunianya, berkutat dengan kegiatan meeting dan juga menanda tangani seabrek perjanjian kerja dengan perusahaan lain yang tentunya harus ia pelajari dulu.


Para pekerja wanita juga banyak yang membicarakannya hari ini. Percakapan mereka salah satunya adalah membahas tentang status Willy yang sudah menikah.


"Jadi Pak Willy itu beneran udah nikah ya?" Tanya Dewi saat mereka sedang beristirahat di kantin.

__ADS_1


"Iya udah. Lo ketinggalan banget, masa lo gak liat berita semingguan yang lalu. Kan acaranya gede banget, sampe di liput media segala lagi." Sahut Ruth menimpali.


"Istrinya cantik gak? Pasti kaya banget ya." Kata Jenni yang duduk bersebelahan dengan Ruth.


"Cantik memang. Tapi yang gue denger ni, dia nikah sama cucu teman baik Almarhum Pak Franky dulu." Sahut Ruth lagi. Nampaknya dari mereka semua hanya dirinya lah yang banyak mengetahui tentang Bos baru mereka hari ini.


"Gila, beruntung banget sih. Pak Willy itu jauh lebih keren dari dugaan gue selama ini. Ganteng banget aduh." Ujar Dewi sambil mengenang wajah Willy yang hari ini telah memberi atmosfer baru di perusahaan mereka.


"Gue jadi bini kedua, ketiga atau keberapa pun mau deh. Ampun, kok ada sih manusia setampan itu. Cool banget lagi." Ujar Jennie menimpali yang langsung di sambut jitakan di keningnya oleh Ruth. Mereka tertawa mendengar hayalan Jenni itu.


Kedatangan Willy hari ini benar-benar membuat para perempuan histeris. Mereka begitu mengagumi kharisma dan pesona yang ada pada lelaki itu. Namun banyak yang menghela nafas kecewa ketika mendengar dan mengetahui kenyataan bahwa lelaki itu telah menikah. Mereka mulai membayangkan bagaimana bahagianya perempuan yang menjadi istri Willy itu.


Mereka hanya membayangkan yang baik-baik saja. Rupanya wajah Willy yang rupawan itu membuat image nya begitu baik pula di mata orang-orang. Mereka tidak tahu dan tidak akan pernah menyangka bahwa seorang William Dwianuarta ketika berada di dekat istrinya tidak kalah dingin dan mengerikan yang siap menyergap dan menyiksa Lintang kapan saja. Mereka akan dibuat geleng-geleng kepala jika mengetahui bahwa Lintang hanya dijadikan objek pemuas nafsunya saja karena kebenciannya pada gadis itu.


Ah siang ini Willy kembali teringat Lintang, saat ia sedang bersantai di dalam ruangannya. Ia teringat setiap desahan tertahan gadis itu, juga harum tubuhnya yang membuat candu. Willy mulai mencandui tubuh Lintang. Namun ia tetap menempatkan benci di atas segalanya pada gadis itu.


Willy menggeleng, ia tidak boleh terlena. Ia tidak boleh melenceng dari rencananya untuk menyiksa dan menghadirkan neraka di dalam pernikahan mereka. William keluar dari ruangannya dan pergi meninggalkan perusahaan saat sore telah datang. Ia kembali ke kampus di mana Lintang sedang menunggu angkutan umum. Ia menjemput gadis itu yang kaget akan kedatangannya dan membawa Lintang ke salah satu hotel di Jakarta. Willy ingin melepaskan hasratnya pada gadis itu saat ini juga.

__ADS_1


__ADS_2