Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.

Dia Pembantuku, Dia (Bukan) Istriku.
Satu bulan lagi


__ADS_3

Usia kehamilan Lintang kini sudah delapan bulan. Ia semakin deg-degan menjelang hari persalinan. Lintang berharap bisa melahirkan secara normal nantinya. Sela sudah dua bulan ini tidak diketahui kabarnya. Lintang tetap berharap dan berdoa agar sahabatnya itu bahagia dimana pun ia berada kini. Ia juga yakin suatu saat mereka pasti bertemu lagi.


Lintang sedang mengupas buah jeruk saat Ibu Mertuanya masuk ke dapur. Ia melihat Ibu Mertuanya itu telah memakai piyama tidur. Ia menyapa Lintang lalu membuka kulkas dan mengambil beberapa apel. Ia menghampiri Lintang.


"Lin, kamu belum tidur? Mama kira kamu udah tidur tadi." Ujar Mama sambil mengupas kulit buah apel.


"Belum, Ma. Kak Willy belum pulang, tadi katanya lembur ada berkas yang harus di periksa. Ma, kita ke ruang tengah yuk." Ajak Lintang yang segera dibalas anggukan oleh Ibu Mertuanya.


"Mama juga belum bisa tidur. Badan Mama pegel banget, Lin. Padahal Mama gak ngapa-ngapain." Keluh Mama. Lintang tersenyum mendengarnya. Bagaimana tidak pegal, Ibu Mertuanya itu memang sangat aktif. Ia sering sekali berada di dapur. Setiap hari ada saja kegiatannya. Belum lagi pertemuannya dengan para teman-teman sosialita.


Lintang menuju ke belakang Ibu Mertuanya itu. Ia meletakkan kedua tangannya di pundak Miranti.


"Lintang pijitin ya, Ma. Biar enakan." Ujar Lintang lalu mulai memijit Ibu Mertuanya itu.


"Duh... enak banget Lin." Kata Miranti sambil memejamkan mata sementara mulutnya sibuk mengunyah.


"Ma, dulu melahirkan Kak Willy normal gak?" Tanya Lintang disela pijatannya.


"Iya normal dong, Lin. Mama emang berusaha pengen normal dulu."


"Lintang juga pengen normal, Ma." Sahut Lintang penuh harap. Miranti meletakkan tangannya di atas tangan Lintang yang sedang memijitnya, membuatnya berhenti.


"Duduk di sini." Miranti menepuk sofa yang sedang ia duduki. Lintang menurut, ia memutar tubuh menuju sofa dan duduk di samping Ibu Mertuanya. "Lintang, semoga kau bisa melahirkan normal seperti keinginanmu. Tapi, itu tergantung seberapa kecil resiko yang akan kau hadapi kelak. Dan, terlepas dari normal atau dengan jalan operasi, pengorbanan seorang ibu adalah sesuatu yang sangat mulia ketika ia telah berhasil melahirkan anak-anaknya." Lanjut Ibu Mertua dengan lembut sambil mengusap pipi menantunya. Lintang mengangguk, matanya berkaca-kaca.


"Semoga ya, Ma. Lintang akan berusaha sekuat tenaga untuk melahirkan dengan normal nantinya." Lintang menggenggam jemari mertuanya. Miranti mengangguk sambil tersenyum, berusaha memberi energi pada menantunya itu.


Setelah beberapa saat, Miranti kembali ke kamarnya. Lintang sendiri masih berada di ruang tengah. Ia melihat foto Kakek Franky dalam bingkai besar yang sedang tersenyum hangat dengan jasnya. Lintang ikut tersenyum juga. Ia jadi rindu pada pria tua itu juga pada Kakeknya sendiri.

__ADS_1


Lintang tersadar dari lamunan saat ia merasakan pundaknya direngkuh dari belakang. Willy mencium kening dan bibirnya. Lintang berbalik lalu memeluk suaminya itu dengan sayang.


"Maaf aku membuatmu menunggu." Bisik Willy lembut.


"Aku tidak bisa tidur kalau suamiku belum pulang." Sahut Lintang.


"Ayo kita ke kamar. Istriku harus istirahat." Balas Willy mesra. Keduanya kemudian melangkah menuju kamar di lantai atas.


...****************...


Lintang terbangun lebih pagi dari biasanya. Mentari belum juga tinggi saat ia membuka mata. Perutnya terasa sangat nyeri. Ia terduduk di tempat tidur. Nampaknya ia kembali mengalami kontraksi palsu. Willy juga akhirnya membuka mata, ketika melihat Lintang sedang menahan perutnya.


"Kenapa, sayang? Apakah kau akan segera melahirkan?" Tanya Willy panik.


"Tidak sayangku, belum. Aku merasa seperti kemarin, ini sudah mulai reda." Sahut Lintang. Ia memberikan seulas senyum di bibirnya agar Willy tidak lagi cemas.


"Oh sayang, aku khawatir sekali." Willy meraih Lintang dan memeluknya erat.


"Tidak sayang, aku justru sangat khawatir. Apa, apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?" Tanya Willy cepat. Lintang meletakkan telapak tangannya di pipi suaminya.


"Sayang, tidak apa-apa. Aku sudah sehat kembali." Ia juga memberikan kecupan untuk pagi ini.


"Baiklah, kalau kau merasa sakit lagi kita harus segera ke rumah sakit." Sahut Willy akhirnya. Lintang mengangguk sambil menyunggingkan senyum.


Mereka kembali meneruskan tidur untuk sesaat. Hari ini Willy tidak pergi ke perusahaan. Ia ingin menemani Lintang. Jadilah hari itu mereka bersantai di rumah.


Setelah mandi, keduanya turun dari kamar menuju meja makan di mana di sana telah menunggu Ibu dan Ayah mereka. Mereka mengawali pagi dengan perbicangan hangat di meja makan. Membahas apa saja yang bisa menambah suasana akrab.

__ADS_1


...****************...


"Kak, aku dengar perusahaan di Bandung akan di ambil alih oleh Kak Zacky?" Tanya Lintang saat ia sedang bersantai di pinggir kolam renang, menunggu Willy yang sedang berenang siang itu.


"Iya, sayang. Yang di Kebayoran akan di handle Marlina, sepupuku yang lain." Sahut Willy, ia bersandar di pinggir kolam dengan tubuh setengah terendam air. Wajahnya yang basah membuatnya nampak seksi sekali. Lintang jadi menelan liurnya sendiri.


"Hmmm, aku mendengarnya dari Audy, kemarin gadis itu meneleponku. Kami bercerita panjang lebar, ia juga semangat sekali bertanya tentang bayi kita." Ujar Lintang sambil tersenyum.


"Iya, dia gadis yang periang." Willy tertawa kecil.


"Kak, kau tampan sekali saat basah seperti ini." Puji Lintang pada suaminya.


Willy mengerling nakal, membuat Lintang jadi malu-malu kucing. Keduanya tampak kesemsem.


"Kau ingin mencium diriku yang basah ini?" Willy sudah mendekat, ia mulai meraih dagu istrinya, mendekatkan bibirnya yang basah. Ia juga menyibak anak rambut istrinya yang jatuh terurai menutupi sebelah sisi pipi.


"Kak, nanti ada orang. Aku malu." Lintang berbisik saat dirasanya bibir basah Willy mulai memagut bibirnya mesra


"Tidak ada yang akan melihatnya, sayang. Para pelayan sedang sibuk di dapur. Mama, entahlah sepertinya sedang tak ada juga. Kemari lah, dekatkan dirimu padaku. Aku benar-benar ingin mencium mu." Willy mulai terbakar gairah lagi.


Lintang mulai mendekatkan lagi bibirnya pada Willy yang sudah tak sabar ingin menyambutnya. Namun saat bibir mereka tinggal beberapa senti lagi, suara seseorang terdengar.


"Ehmmm.. ehmmm.. Mbok ya kalo mau ciuman di kamar. Ini kalo di liat anak dibawah tujuh belas tahun bisa gawat." Suara Mamanya terdengar, membuat Willy segera menjauhkan bibirnya. Ia memandang mamanya dengan gemas.


"Mama.. orang udah nanggung juga." Kesalnya sambil naik keluar dari kolam renang. Kemudian ia menarik tangan Lintang yang pipinya sudah memerah karena malu.


"Mau kemana?" Tanya Mama sewot.

__ADS_1


"Mau lanjutin adegan hotnya di kamar." Sahut Willy sambil cekikikan membuat Lintang sukses jadi seperti kepiting rebus karena malu pada mertuanya itu. Ia mencubit perut sixpack suaminya itu dengan gemas.


Miranti hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya itu.


__ADS_2