
Kemarin Lintang dibuat senang mendengar kabar bahwa Willy akan pulang hari ini. Namun, hari ini ia harus kecewa karena ternyata penerbangan suaminya kembali ke Indonesia ditunda untuk beberapa hari lagi. Harusnya sekarang Willy sudah di rumah kalau ia memang kembali hari ini. Jika pesawatnya pagi maka harusnya malam ia telah kembali mengingat perjalanan yang cukup lama. Namun, Lintang kembali menelan kekecewaan mendapati ranjang tempat tidurnya kembali kosong lagi.
Emosinya naik turun beberapa hari ini. Ia kerap menangis namun tidak mau menunjukkan kesedihannya. Ia juga jadi malas keluar kamar, selain karena perutnya yang semakin berat memang ia sedang tidak ingin kemana-mana. Tidak bertemu suaminya dalam kondisi sedang hamil besar begini nyatanya membuat Lintang jadi muram.
Malam ini karena lelah menunggu akhirnya Lintang memutuskan untuk tidur lebih cepat. Ia telah masuk ke dalam selimut dan membekap tubuhnya sendiri bersama bantal guling. Lintang bermimpi indah ia bertemu suaminya. Mereka berpelukan dengan erat. Di dalam mimpinya itu Lintang juga merasa Willy sangat merindukannya. Perlahan bibirnya tertarik, ia tersenyum. Pelukan itu rasanya begitu nyata.
Lintang tersenyum sendiri dan tanpa sadar setelah itu matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Keadaannya masih sama, kamar itu masih remang karena hanya cahaya lampu tidur yang menyala. Ia mulai mengedarkan pandangan ke segala penjuru, rasanya ada yang berbeda. Bukankah ia sedang bermimpi tadinya. Tapi mengapa pelukan itu masih terasa sekarang.
Lintang mengarahkan pandangannya pada perutnya yang buncit. Ada tangan yang melingkar di sana. Dengkur halus juga terdengar di telinganya. Lintang terbelalak, ia secepat mungkin berbalik dan telah menemukan suaminya tidur dengan tenang. Bukannya tadi pagi suaminya menelpon bahwa ia menunda kepulangan sampai beberapa hari ke depan. Lintang mencubit pipi lelaki itu, berusaha meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi. Terasa senyum Willy terkembang, kemudian matanya terbuka.
"Istriku sedang merajuk. Aku takut sekali membangunkannya." Bisik Willy lembut, ia segera mencium kening Lintang.
"Kakak bohong. Kau bilang akan pulang beberapa hari lagi." Lintang masih terkejut saat mengatakannya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku sengaja, sayang. Ingin memberimu kejutan."
"Tapi, aku sudah berpikir yang tidak-tidak tentangmu tadi." Airmata nya mulai menggenang.
Willy meraih Istrinya, memeluknya hangat penuh kerinduan. Ia menepuk halus punggung Lintang menenangkan istrinya.
"Hey aku sudah di sini, jangan menangis." Bujuk Willy lembut sekali. Tapi itu malah membuat Lintang jadi terguncang.
"Jahil." Ia berkata lirih. Kemudian ia menengadahkan muka, menghadap Willy, suaminya. "Aku rindu sekali padamu." Lanjutnya. Willy tersenyum lalu ******* bibir Lintang penuh perasaan.
__ADS_1
"Aku lebih merindukanmu, Lintang." Ia berkata lembut di sela bibirnya yang sibuk memagut bibir istrinya.
Dan malam itu mereka kembali sibuk dengan permainan ranjang. Willy melakukannya dengan lembut agar yang di dalam perut tidak terguncang terlalu kuat. Lintang juga membalas, Ia jadi lebih aktif dan itu membuat Willy semakin bergairah dibuatnya.
Malam panjang itu semakin terasa panjang dengan kemesraan yang mereka ciptakan. Willy tidak bisa membayangkan, entah bagaimana jika ia harus jauh dari Lintang untuk waktu yang lebih lama dari kemarin. Tapi, malam ini kerinduannya tertebus dan terbayar dengan Lintang yang kini berada di dalam dekap hangatnya. Lintang berkali-kali menyebut namanya di tengah pacuan yang semakin liar itu. Membuat Willy semakin candu dan candu.
...****************...
Pagi hari ini, Willy tidak pergi ke perusahaan. Ia libur dan ingin menemani lintang ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Ia tidak sabar ingin melihat bayinya di dalam mesin usg. Lintang juga sudah kembali bersemangat. Miranti menyambut pagi mereka dengan hangat dan penuh kelakar.
"Will, Nanti abis dari rumah sakit tolong singgah sebentar ke supermarket ya belikan mama ini." Mamanya menyerahkan selembar kertas memo.
"Iya, Ma. Papa udah berangkat?" Tanya Willy sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.
Lintang hanya melihat dan mendengar percakapan antara anak dan Ibu itu dengan tersenyum. Miranti memang pandai meramaikan suasana. Ia suka bercerita, sedikit bawel tapi pribadi yang menyenangkan. Beberapa kali Lintang di buat tertawa karena keduanya yang saling melempar candaan.
"Lin, kenapa ga minta dokter ngasih tau jenis kelamin anak kalian?" Tanya Ibu Mertua.
"Sengaja kok, Ma. Biar surprise nanti ketika lahir." Sahut Lintang dengan senyumnya.
"Tapi tebakan mama, pasti cowok deh ini." Mamanya mulai menebak-nebak.
"Aku terserah deh, Ma. Mau cewek mau cowok yang penting sehat." Willy menimpali.
__ADS_1
"Mama setuju. Kan kalo dapetnya cowok nanti kamu bikin Lintang hamil lagi aja, bikin cewek lagi." Mama nya mulai berangan-angan.
"Tenang aja, Ma. Beres pokoknya." Lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia hanya tersenyum dan tertawa mendengar dua orang sedarah ini sedang menghayal dengan lucu.
Setelah selesai dengan makanan masing-masing, akhirnya Willy dan Lintang melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan Miranti kembali ke dapur dan ke beberapa tempat untuk mengecek para pelayannya. Ia meminta pelayan untuk istirahat dan juga menyuruh mereka sarapan.
"Mama pengen banget punya cucu banyak. Kamu jangan tersinggung ya kalau dia sering berharap begitu." Kata Willy saat mereka dalam perjalanan.
"Aku senang kok, aku pasti usaha untuk ngasih Mama cucu lebih dari satu nantinya." Sahut Lintang. Ia tersenyum manis.
"Kita pasti memberikannya, sayang. Mama soalnya dulu rahimnya pernah diangkat. Aku juga dari kecil gak punya teman main selain Kakek."
"Iya, Kak. Lintang juga anak tunggal rasanya sepi sekali gak punya adik beradik." Sahut Lintang menimpali.
Willy mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi istrinya itu. Ia tersenyum, bersyukur memiliki istri yang mengerti keinginan keluarga mereka. Lintang mengusap perutnya, terasa gerakan kecil saat ia menyentuhnya. Anaknya semakin aktif saja.
Mobil akhirnya memasuki pelataran parkir rumah sakit. Willy sudah tidak sabar ingin segera sampai ke ruang kandungan tempat ia akan segera melihat anaknya. Saat sampai Lintang langsung di periksa. Dokter memberi gel sebelum melakukan pemeriksaan Usg.
Willy tersenyum bahagia melihat anaknya yang begitu aktif di dalam perut istrinya. Terlihat tangan dan kaki juga anggota tubuh yang lain telah terbentuk sempurna. Bayi kecil itu nampak nyaman, kakinya nampak bergerak-gerak lucu di layar monitor.
"Dia aktif sekali. Hidungnya juga mancung seperti anda." Dokter menunjuk bagian itu pada Willy dan Lintang. Willy bertambah bahagia.
Willy meraih jemari Lintang dan menggenggamnya. Ia menatap Lintang dengan sayang. Lalu mengelus perut buncit istrinya lagi.
__ADS_1
"Terima kasih sudah menjaganya dengan baik, istriku." Ia mengecup kening Lintang yang masih berbaring. Dokter dan perawat tersenyum juga melihat kebahagiaan mereka. Pemandangan yang sering mereka saksikan ketika berada di dalam ruangan ini.